Home News Update Pro-Kontra Uji Coba Lima Hari Sekolah

Pro-Kontra Uji Coba Lima Hari Sekolah

IMG_20150729_132506

Semarang, 29/7 (BeritaJateng.net) – Memasuki tahun ajaran baru 2015/2016, sejumlah Sekolah menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Tengah (Jateng) menerapkan uji coba lima hari kegiatan belajar mengajar (KBM).

Di saat sekolah-sekolah di Jateng mendapat edaran untuk melakukan lima hari efektif kegiatan belajar mengajar dalam satu minggu, SMK Pendidikan Industri Kayu (PIKA) sudah melakukan KBM tersebut sejak lama.

Begitupun dengan SMA Karangturi, sudah melakukannya sejak tahun 1997. Sekolah yang terletak di Jalan Raden Patah tersebut, KBM berakhir pada hari Jumat. Sabtu-Minggu Sekolah diliburkan.

Secara umum, para orangtua siswa (termasuk siswa), harus siap untuk mengikuti lima hari KBM. Termasuk siap menambah biaya uang saku, siap masak di pagi hari agar si anak bisa membawa bekal makan siang serta siap menjemput sang anak bila sewaktu-waktu sampai petang hari belum juga tiba di rumah karena jalanan macet, ban bocor dan sebagainya. Sekolah-sekolah yang menerapkan lima hari KBM juga mengaku siap.

Mereka telah menyiapkan tempat salat dhuhur, menyediakan kursi dan jumlah makanan di kantin untuk makan siang siswa dan sebagainya.

SMA dan SMK juga telah siap dengan disain pola pembelajaran dari yang enam hari sepekan menjadi lima hari.

Koordinator Humas Karangturi, Irawan Nirwanto menjelaskan awalnya kebijakan sekolah lima hari diambil karena ingin mendekatkan siswa dengan orangtua murid. “Pertimbangannya saat itu pertemuan anak dan orang tua sangat minim,” jelasnya.

Pertimbangan lain yang tidak kalah penting menurutnya adalah efisiensi biaya, karena hari Sabtu-Minggu, AC, lampu dan berbagai fasilitas lainnya tidak perlu dihidupkan.

Meskipun begitu, sebelumnya Karangturi sudah menyiapkan secara detail terkait waktu makan siang siswa hingga tempat makan, dan jam istirahat.

“Jam istirahat kita ubah dari awalnya dua kali sepuluh menit jadi dua kali duapuluh menit, waktu istirahat juga kita pisah antara siswa SMP dan SMA, fasilitas tempat untuk siswa makan juga kita perlebar menjadi 30 meter kali delapan meter khusus hanya untuk makan,” imbuh Irawan.

Meskipun hanya lima hari belajar, waktu belajar mereka tidak sampai lebih dari pukul tiga sore. Irawan menandaskan di tempat mereka KBM sudah harus berakhir pada pukul 14.30 WIB.

Adapula Safira Widya Hapsari, siswi kelas 12 SMAN 14 Semarang, gadis yang hobi menari itu menyatakan jika bisa memilih, ia cenderung lebih memilih sekolah enam hari dalam satu minggu.

“Aku sekarang udah kelas tiga, biasanya ada tambahan jam ke 0 untuk siswa kelas tiga karena akan menghadapi kelulusan, nah biasanya jam ke 0 dimulai pukul 18.15 kan pagi banget dan pulangnya bisa sore banget,” jelasnya.

Belum lagi Safira aktif dalam kegiatan ekstra dance yang biasanya dia lakukan sepulang sekolah. Sekali berlatih biasanya Safira bisa menghabiskan waktu selama dua jam. Ia membayangkan jika pulang sekolah pukul 15.30 dan kemudian dia berlatih selama dua jam maka Magrib baru akan pulang.

“Kalau begitu bisa berangkat petang pulang petang, sekolah apa kerja rodi,” keluhnya.

Meski demikian ia akan tetap mencoba menjalani karena tidak ada pilihan dan sekolah lain juga menjalankan. Safira hanya bisa berharap ada kebijakan yang tidak membebankan siswa.

Demikian halnya dengan para siswa yang bersekolah di lembaga khusus (pesantren). Selain sekolah (di SMA/SMK/MA), para siswa masih harus mengikuti sekolah diniyah, mengaji atau kegiatan lainnya. Biasanya, sejumlah pembelajaran (diniyah, mengaji dan sebagainya) itu dilaksanakan sehabis subuh, sehabis ashar dan setelah maghrib.

Bila mereka harus sekolah lima hari dan baru keluar dari kelas (SMA/SMK/MA) pada pukul 16.00, tentu kegiatan-kegiatan tersebut sulit dilaksanakan.

Di sisi lain siswa SMAN 3 Semarang Evin Virya menyatakan kesiapannya untuk belajar lima hari dalam seminggu. Menurutnya dengan libur dua hari dalam seminggu justru membuatnya semangat meski harus belajar hingga sore.

“Soal makan siang sudah siap bawa bekal dari rumah dimakan di kelas, jadi nggak perlu takut umpek-umpekan di kantin,” jelasnya.

Ia sudah siap bahkan jika harus pulang petang sekalipun karena menurutnya KBM akan selesai pada pukul 15.30 dan setelah itu masih akan dilanjutkan dengan kegiatan ekstra kulikuler.

“Katanya semester pertama nanti kegiatan ekstra nggak boleh ada di hari Sabtu, setelah semester dua baru boleh,” kata evin. (BJT01)