Home Headline Prestasi Jeblok, BUMD Diminta Lakukan Reformasi SDM

Prestasi Jeblok, BUMD Diminta Lakukan Reformasi SDM

619
0

SEMARANG, 12/8 (Beritajateng.net) – Jajaran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di lingkungan Pemprov Jawa Tengah diminta melakukan reformasi sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Hal ini menyusul prestasi beberapa BUMD yang dinilai jeblok dalam menjalankan usahanya.

Disinyalir saat ini banyak SDM di beberapa BUMD tidak memiliki kapabilitas, kredibilitas dan etos kerja. Sehingga beban tanggungjawab yang harus dipikul tidak dilaksanakan dengan maksimal namun hanya sebatas rutinitas tanpa beban target dan prestasi berarti.

Permintaan reformasi BUMD tersebut disampaikan Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto saat menjadi pembicara dalam Diskusi Optimalisasi Penerimaan PAD Melalui Penguatan Modal BUMD yang dilaksanakan di The Wujil Resort Ungaran Kabupaten Semarang, Jumat (10/8).

“BUMD BUMD ini saya minta segera mereformasi diri, kerjane ora jelas,” ungkapnya di depan peserta diskusi yang terdiri dari para direksi BUMD.

Asfirla menyebut beberapa BUMD yang selama ini kinerjanya mengecewakan. Kekecewaan ini dilihat dari kemampuan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya, dimana penyertaan modalnya banyak namun PAD yang dihasilkan hanya sedikit.

“Bank Jateng, Jamkrida dan BPR-BKK oke. Tapi PRPP, PDAB, SPJT, Askrida dan BKK parah. Harus segera direformasi,” tegasnya.

Politisi yang akrab dipanggil Bogi ini menjelaskan kondisi masing masing BUMD. Satu persatu BUMD dikupas “dosanya”. beberapa diantaranya adalah banyaknya kebocoran di tubuh PRPP dan lemahnya SDM di PDAB.

“SDM di PDAB, direksi kebawah banyak yang tidak kompeten . Mosok lulusannya SD, SMP dan SMA. Kondisi begini masih mau dikasih obligasi 500 juta. Iki duwit utangan lho,” bebernya.

Tidak hanya PRPP dan PDAB, PT. Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) yang merupakan holding company dari beberapa anak perusahaan juga disorot tajam. Hal ini disebabkan selama ini BUMD yang mendapat setoran modal sebanyak Rp. 950 miliar ini belum memiliki usaha yang feseable. Deviden yang diberikanpun hanya mengandalkan bunga bank, bukan dari laba usaha.

“Selama ini hanya flower to flower. Kalau begini terus Komisi C akan menarik dana yang ada di SPJT. Akan saya alihkan ke BUMD yang lain,” katanya.

Masih ada lagi, kata Bogi, dari 29 BKK yang ada di Jawa Tengah, hanya ada 2 yang kondisinya sehat yakni BKK Dempet Grobogan dan BKK Purwokerto Barat. Sisanya sakit. (Data ini berbeda dengan data Biro Perekonomian yang menyatakan 16 BKK kondisinya sehat).

“Di BKK Pringsurat Temanggung, Rp. 200 miliar lebih hilang. Belum lagi di Susukan sementara ini Rp. 40 miliar. Habis ini kita buka lagi di tempat lain. Ini duwit rakyat dho dienggo dolanan,” urainya.

Pengelolaan BUMD di Pemprov Jateng sangat bertolak belakang dengan di Jawa Timur. Bogi membandingkan hasil kunjungan kerja yang dilakukan Komisi C beberapa waktu yang lalu. Kunjungan kerja yang dilakukan ke PT Wira Jatim selaku holding company dari beberapa BUMD di Jatim diperoleh data bahwa kinerja BUMD di Jatim sangat bagus dan mampu memberi kontribusi maksimal terhadap PAD Jatim.

“Total PAD dari sektor BUMD di Jatim mencapai Rp. 3 triliun lebih. Wira Jatim sendiri hanya mendapat penyertaan modal sebesar Rp. 300 miliar tapi mampu memberi deviden Rp. 12 miliar. Bandingkan dengan SPJT di tempat kita,” urainya.

SPJT, menurut Bogi, selama ini hanya menjalankan bisnis kecil yang harusnya dilakukan masyarakat bukan sekelas SPJT, jualan batik, jualan kayu bahkan ikut buka Indomaret. Sementara sektor andalan yang skala usahanya besar dan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sampai saat ini tidak berhasil dilakukan.

“Sekarang direksi SPJT orang orang baru. Saya kasih kesempatan 2 tahun untuk menunjukkan hasilnya,” tegasnya.

Sehubungan dengan kondisi tersebut, Bogi minta jajaran BUMD dan Biro Perekonomian mau belajar ke Jawa Timur. Bogi menilai penyertaan modal hanya bisa dilakukan apabila kondisi BUMD sehat bukan pada saat sakit.

“Saya tidak setuju dengan teori bahwa apabila modalnya ditambah maka PAD nya menjadi besar. Sehatkan dulu baru ditambah modalnya,” pungkasnya.

(NK)