Home Hiburan Prestasi Beladiri Membawa Riyanto Eksis Main Film

Prestasi Beladiri Membawa Riyanto Eksis Main Film

Semarang, 17/12 (BeritaJateng.net) – Riyanto, pemuda berusia 22 tahun telah berhasil meraih sederet prestasi dalam bidang seni beladiri. Selain beladiri, Riyanto juga aktif mengikuti pelatihan seni peran dalam suatu komunitas kampus swasta di Semarang.

Mulai dari Juara 1 pencak silat di Semarang, juara 1 pencak silat tingkat wilayah, juara 1 pencak silat di Grobogan dan atlet terbaik putra untuk juara 1 wushu di Banten, serta juara 1 boxing di Semarang pun kerap wira-wiri menghampirinya.

Anak pertama dari Tamsir (37) yang bertempat tinggal di Panunggalan, Grobogan ini juga berprofesi sebagai pelatih pencak silat sejak tahun 2005. Awalnya dia ikut wushu saat melihat temannya lomba di Wisma Marina pada tahun 2010 dan saat itulah Ryan tertarik dengan wushu.

“Wushu sangat ekstrim dari olahraga beladiri yang pernah saya ikuti karena teknik permainannya tergolong bebas,” ujarnya saat latihan, Kamis (17/12).

Pemuda kelahiran Semarang 5 Maret 1993 ini pada tahun 2010 lalu juga telah mengikuti lomba wushu di Banten dan berhasil membawa medali emas.

“Itu pun latihannya hanya 1 bulan dan tiga kali dalam seminggu,” ujar Ryan, sapaan akrab Riyanto.

Selama mengikuti wushu dia merasa lebih nyaman dan punya banyak pengalaman tanding di daerah-daerah lain. Selain itu, dia juga sering mendapat panggilan job kontrak dari luar daerah.

Pemuda yang hobi main bola dan beladiri ini, sekarang tinggal di Jalan Mangunharjo RT 03 RW 03 Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu Semarang.

Riyan juga pernah mengikuti Kejurnas pencak silat dan berhasil meraih juara 2. Disusul lomba pada Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kalimantan Timur sebagai juara 3. Kegiatan lain selain pencak silat dan wushu yang sering dilakukan Ryan adalah main bola dan latihan film.

Pemuda lulusan lulusan SMA Muhammadiyah 3 Kaliwungu, SMP Muhammadiyah 3 Kaliwungu, dan SD Negeri 3 Kradenan ini juga memiliki kesibukan melatih para calon aktris yang ada di management Seni Peran Film Indonesia (SPFI).

“Adanya SPFI akan semakin mengembangkan nilai budaya, khususnya fighter. Saya juga bisa eksis di dunia perfilman lewat pelatihan yang nantinya akan dibuat sebuah karya film untuk hiburan sekaligus terdapat pesan moral dalam isi ceritanya,” tutur Ryan.

Ryan mengaku motivasinya main pecak silat dan wushu untuk mengangkat citra bangsa di bidang silat dan wushu.

“Inspirasi yang bisa saya bagikan kepada yang lain, misalnya teknik untuk keindahan seni beladiri yang dituangkan dalam film,” ungkapnya.

Bagi Ryan keluarganya memiliki peran yang sangat penting. Ryan mengungkapkan jika keluarga adalah penyemangat dan karena dukungan keluargalah dia bisa meraih prestasi, terutama ibunya.

“Ibu yang mendukung saya tiap pertandingan dan selalu ada buat saya,” tuturnya.

Ryan menyadari bahwa untuk meraih prestasi tidak semudah yang dibayangkan tetapi harus terus diupayakan, caranya dengan berlatih sungguh-sungguh.

“Keinginan terbesar saya ingin membuka usaha bagi keluarga dan membuat suasana wushu di dalamnya,” pungkas pemuda yang memiliki motto, ‘man jadda wa jada’ ini. (BJT01)