Home News Update PPDB Jurusan Dekorasi Seni Ukir Sepi Peminat, Masa Depan Ukir Jepara Terancam

PPDB Jurusan Dekorasi Seni Ukir Sepi Peminat, Masa Depan Ukir Jepara Terancam

336
0
Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Jepara, 26/6 (BeritaJateng.net) – Masa depan  pelestarian seni ukir Jepara benar-benar terancam.  Pasalnya animo siswa lulusan SMP/ Madrasah Tsanawiyah di Jepara untuk masuk Kejuruan Dekorasi Seni Ukir SMKN 2 Jepara tergolong sangat rendah.

Bahkan menurut informasi sampai hari ini Jum’at ( 26/6) jumlah siswa yang mendaftar ke juruan ini melalui pendaftaran online baru 8 siswa. Padahal tahun lalu jurusan ini  menerima 50 siswa. Ini sungguh memprihatinkan karena masa depan Jepara ada di jurusan dekorasi seni ukir.

Kekawatiran tersebut disampaikan oleh Ketua Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara Hadi Priyanto kepada Wartawan. Padahal jurusan ini dibuka oleh Gubernur Ganjar Pranowo pada tanggal 12 April 2014 dan diharapkan dapat menjadi “ kawah condrodimuko” bagi munculnya perajin ukir masa depan.

Karena termasuk jurusan langka, diharapkan oleh Ganjar Pranowo akan menjadi rujukan pembelajaran bagi siapapun yang ingin belajar tentang seni ukir.

“Namun harapan ini jauh panggang dari api karena animo peserta didik  untuk masuk kejurusan ini sangat rendah,” ujar Hadi Priyanto

Hadi Priyanto juga mengusulkan, untuk penerimaan siswa baru ini dapat diperpanjang diiringi sosialisasi yang intens melalui berbagai media yang ada di daerah.

“Disamping itu diharapkan ada insentif yang jelas bagi para siswa, baik melalui pembebasan uang SPP, uang gedung atau pungutan yang lain. Sebab pada umumnya yang masuk jurusan  ini sebagain besar adalah anak yang kurang mampu,” ujar Hadi Priyanto.

Hadi juga berharap, para pengusaha mebel ukir yang ada di Jepara untuk bersedia memperhatikan pelestarian seni ukir melalui lembaga pendidikan.

“Jangan hanya berharap mendapatkan tenaga kerja trampil, tetapi tidak bersedia memberikan perhatian terhadap pelestarian seni ukir Jepara. Baik kalau misalnya pengusaha besar yang telah berskala export untuk memberikan bea siswa bagi anak-anak yang kurang mampu dengan konsep anak asuh,” pinta Hadi Priyanto. (Bj18)