Home News Update Potret Keluarga Miskin, Gubug Reyot dan Anak-anak Putus Sekolah

Potret Keluarga Miskin, Gubug Reyot dan Anak-anak Putus Sekolah

347
0
Rumah Cipto yang sudah tak layak untuk ditinggali

Purbalingga, 22/7 (BeritaJateng.net)  – Mengunjungi sebuah rumah di Dukuh Buret Sawangan, Desa Tanalum, Kecamatan Rembang, membuat hati terasa miris. Mungkin belum pas jika disebut sebagai rumah tinggal. Lebih tepatnya sebuah gubug yang berdinding potongan asbes bekas dan dan beberapa bagian lainnya terbuat dari kayu bekas. Lantai rumahnya hanya berupa tanah. Tidak halaman rumah yang bisa dijadikan sarana bermain anak-anak. Bahkan, dijadikan tempat membuang air, seperti comberan. Gubug itu milik Cipto (39), seorang buruh bangunan.

Didalam gubug berukuran sekitar  4 x 5 meter itu, Cipto tinggal bersama seorang istri, Buang (38) dan lima orang anak yang masih kecil-kecil, masing-masing  Rindi (15), Puput (13), Dani (11), Rical (6), dan Bela (4). Tidak ada kamar khusus untuk anak-anaknya, apalagi untuk orang tua. Hanya ruangan yang disekat dengan dinding kayu yang sudah lusuh. Tidak ada pula barang-barang perabotan berharga, selain hanya sebuah televisi lama yang sudah usang dan dua buah lemari plastik. Tidak ada tempat duduk untuk tamu, hanya kursi kayu yang sudah rusak. Begitu pula dengan perabotan dapur, hampir tidak ada yang berharga. Di dingding rumahnya terpampang sebuah foto calon bupati-wakil bupati ‘Tasdi – Tiwi’ yang mulai menekuk.

“Sehari-hari, saya hanya bekerja sebagai buruh bangunan. Itu saja kalau sedang ada pekerjaan. Jika tidak, saya harus bekerja serabutan demi menghidupi keluarga,” tutur Cipto, Jum’at (22/7).

kursi tempat duduk ruang tamu digubuk Cipto
kursi tempat duduk ruang tamu digubuk Cipto

Cipto mengaku, karena himpitan ekonomi yang berat, anak-anaknya harus putus sekolah. Anak pertamanya, seorang perempuan yang kini berusia 15 tahun, harus putus sekolah di kelas 5 sekolah dasar. Rindi, anak pertamanya itu kini mulai mencoba bekerja di sebuah salon di kota Tegal. “Niku larene saweg wangsul, dereng mangkat malih wonten Tegal (Itu anaknya lagi pulang, belum berangkat lagi ke Tega),” ujar Cipto.

Begitu pula dengan anak kedua dan ketiganya, yang juga putus sekolah di kelas 3 SD. Puput  dan Dani mulai belajar mencari uang jajan sendiri dengan menjadi pemandu bagi wisatawan yang mengunjungi curug Gogor. Begitu pula dengan anak ketiganya, yang juga laki-laki. Meski merasa tidak tega, namun pihak pengurus Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) desa setempat, menampungnya sebagai pemandu cilik. “Anaknya pintar dan sudah berani memandu saat banyak wisatawan ke curug Gogor pada libur lebaran lalu,” tutur Fatah, Ketua Pokdarwis desa setempat.

Sementara, anak keempat masih di kelas 1 SD dan anak kelima belum bersekolah.  Untuk menopang ekonomi keluarga, istri Cipto bekerja sebagai plasma rambut di rumahnya sendiri. Sembari menjaga anak-anak, istri Cipto merangkai bulu mata palsu yang kemudian disetor ke pengepul di desanya.

Cipto mengaku, meski hidup semakin terasa berat, dirinya harus tetap bekerja demi kehidupan anak-anak. “Saya inginnya anak-anak bisa melanjutkan sekolah, tidak putus ditengah jalan. Paling tidak bisa lulus sekolah dasar,” harap Cipto.

Ketika ditanya soal tempat tinggalnya yang hampir tidak layak, Cipto hanya mengungkapkan rasa pasrahnya. Penghasilannya tidak mencukupi untuk memperbaiki rumah yang lebih baik. Semua penghasilan habis untuk makan sehari-hari. “Ini mungkin sudah menjadi garis hidup saya, saya harus menerima nasib ini apa adanya. Saya juga tidak punya ketrampilan apa-apa selain bekerja sebagai buruh bangunan dan bertani. Untuk bertani, lahan disini hanya kebun, tidak ada sawah,” ujar Cipto yang mengaku hanya punya tanah yang ditempatinya saat ini.

Tetangga Cipto, Tauhid menuturkan, pihaknya sudah mengusulkan kepada desa agar rumah Cipto bisa dipugar agar lebih layak. “Sudah kami usulkan lama, namun oleh pihak desa belum ditindaklanjuti. Pihak desa juga belum melihat rumah Cipto,” ujar Tauhid.

Tauhid yang di wilayah Dukuh Buret Sawangan dipercaya untuk membantu tugas-tugas RT mengungkapkan, di dukuh Buret Sawangan ada 48 kepala keluarga. Rumah warga yang tidak layak huni, ada beberapa. Namun, yang paling memprihatinkan adalah rumah Cipto. “Kami berharap, Pemerintah Daerah bisa memugar rumah Cipto dan membantu anak-anaknya bersekolah kembali,” tutur Tauhid. (BJ33)