Home Headline Polresta Surakarta Ungkap Pengedar Upal Rp 1,2 Miliar

Polresta Surakarta Ungkap Pengedar Upal Rp 1,2 Miliar

Solo, 26/12 (Beritajateng.net) – Kepolisian Resor Kota Surakarta berhasil mengungkap seorang pengedar uang palsu recehan Rp100.000 sebanyak Rp1,2 miliar saat melakukan transaksi di rumah makan Che’es Resto di Jalan M.T. Haryono Manahan Banjarsari, Solo, Jawa Tengah.

Kepala Polresta Surakarta Kombes Pol. Iriansyah melalui Kasat Reskrim Kompol Guntur Saputro, di Solo, Jumat, mengatakan tersangka pengedar upal senilai Rp1,2 miliar tersebut yakni Andrea Dedi Wahyono alias Dedi (44) warga Susukan Rt 08 RW 02 Kelurahan Grabag Kecamatan/Kabupaten Magelang, kini ditahan Polresta untuk proses hukum.

Menurut Guntur Saputro, pihaknya awalnya mendapat informasi akan ada transaksi jual beli uang palsu di wilayah Solo. Petugas kemudian melakukan penyelidikan, dan mendalami hal ini, dengan cara menguntit tersangka.

Tersangka tersebut melakukan transaksi dengan cara menawarkan sejumlah uang palsu senilai Rp200 juta yang dapat ditukar dengan uang asli sebanyak Rp100 juta. Transaksi akan dilakukan di Che’es Resto di Jalan MT Haryono Manahan Solo, Selasa (23/12) sekitar pukul 12.00 WIB.

“Tersangka saat melakukan jual beli Upal di Che’es Resto, langsung dilakukan penangkapan terhadap pelaku. Pelaku tidak berkutik saat petugas membekuk bersama sejumlah barang bukti upal recehan Rp100 ribu sebanyak Rp200 juta,” katanya.

Petugas kemudian melakukan pengembangan dengan menggeledah rumah tersangka di Magelang, dan ditemukan barang bukti berupa recehan Rp100 ribu sebanyak Rp1 miliar, satu tas punggung, dompet isi uang palsu kertas 100 ribuan mata uang Brasil, Vietnam, surat identitas tersangka, upal Rp1 miliar recehan Rp100 ribu, kertas lak uang bertulisan Bank Indonesia, Kerta warning, dan alat “money detector”.

Menurut Guntur Saputro, dari hasil pemeriksaan uang palsu tersebut didapat dari hasil membeli seseorang yang belum dikenal di Jakarta. Pelaku ini melakukan transaksi dengan cara bertemu di tempat umum dengan seseorang di Jakarta.

“Kami akan melakukan pengembangan koordinasi dengan Polda Metrojaya untuk mengungkap pelaku yang memproduksi upal ini,” katanya.

Menurut Guntur Saputro, tersangka mengaku telah melakukan jual beli upal dengan pihak yang memproduksi di Jakarta, sudah tiga kali ini, dan dia juga pernah menjalani masa tahanan di Cebongan Sleman Yogyakarta, karena terlibat kasus mengedarkan uang palsu.

“Tersangka ini, seorang residivis kasus yang sama dan ditahan di Cebongan Sleman, pada 2011. Dia menjalani hukuman selama enam bulan,” katanya.

Atas perbuatan tersangka dijerap dengan Pasal 36 ayat (2), Pasal 24, 25 Undang Undang Nomor 7/2011 tentang mata uang, dengan ancaman hukuman maksimal selama 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp10 miliar.