Home Nasional Polisi Dulu dan Sekarang, Apa Bedanya ?

Polisi Dulu dan Sekarang, Apa Bedanya ?

Peserta training dan trainer berfoto bersama.

Peserta training dan trainer berfoto bersama.
Peserta training dan trainer berfoto bersama.

Dari Training Integrated Media Awareness, JCLEC, 20 – 22 Januari 2015
SAAT sebelum menjalani profesi sebagai Jurnalis, melihat sosok polisi seperti hal yang sangat menakutkan. Begitu melihat ada segerombolan polisi yang sedang melakukan razia di jalan, jantung pun berdetak keras. Bahkan berusaha bagaimana bisa kabur dari razia itu.
Saat masih menjadi mahasiswa, saya pernah dikejar oleh polisi lalu lintas. Hal itu karena ketidaktahuan saya tentang penutupan jalan yang hanya dikasih rambu panah, dan kebetulan saat itu saya jarang masuk kota dengan mengendarai sepeda motor sendiri.
Beruntung, polisi itu kehilangan jejak, karena saya masuk kampung yang saya sendiri tidak tahu kampung apa. Setelah dirasa aman, saya pun keluar dari kampung tersebut. Tapi saya bingung harus kemana jalan pulangnya.
Dengan penuh percaya diri, saya pun mendatangi sebuah pos polisi yang tidak jauh dari kampung tersebut, saya bertanya kemana jalan untuk saya pulang, dengan ramah polisi itu menunjukkan jalan, dan ternyata jalan tersebut masih jalan yang sama awal saya dikejar polisi lalu lintas.
Sepanjang perjalanan pun jantung berdetak, takut kalau polisi yang mengejar tadi mengamati dan hafal dengan kendaraan dan baju yang saya pakai. Ternyata, polisi itu telah lupa dan saya pun kembali ke kampus dengan selamat.
Training
Setelah selesai mengenyam kuliah, saya pun terjun menjadi jurnalis dan kebetulan saya ditugaskan oleh perusahaan untuk memback up berita-berita kriminal yang ada di kepolisian. Dalam benak pun bertanya, masih menakutkankah sosok polisi itu ?
Hari demi hari pun dilalui dengan terus melakukan sosialisasi media tempat saya belajar jurnalis. Dan ternyata, sosok menakutkan itu tidak saya temukan di kantor polisi. Justru para penegak hukum itu sangat perhatian kepada wartawan.
Memang, saat itu pada tahun 2000-2001, wartawan yang ada di kepolisian masih bisa dihitung jari, sehingga komunikasi dengan polisi pun sangat bagus. Bahkan masing-masing kesatuan ingin muncul di media. Karena sebuah kebanggan polisi bisa masuk ke media.
Wartawan pada saat itu sangat dihormati dan dibutuhkan oleh polisi, sekecil apapun peristiwa, sekecil apapun penangkapan, polisi pasti menghubungi wartawan. Bahkan, ketika salah satu wartawan belum hadir, polisi pun menunggu sampai wartawan hadir semua.
Karena hubungan personality yang baik dan adanya perasaan saling membutuhkan, polisi dengan wartawan hampir tidak ada jarak. Dalam kesehariannya, kita bergaul seperti kawan lama, makan bersama, jeng jeng bersama, bahkan saat polisi hendak melakukan penangkapan atau penggrebekkan pun, wartawan pasti diajak, tidak ada yang ditutup-tutupi.
Training
Keharmonisan polisi dengan wartawan tidak sebatas pada anggota saja, pimpinan tertinggi di kepolisian khususnya di Jawa Tengah saat itu juga bersikap sama, yakni saling membutuhkan.
Dan pada era 2009 an, keharmonisan itu sepertinya luntur, semakin banyak wartawan dan bermunculan media, polisi pun sepertinya menempatkan dirinya pada posisi yang dibutuhkan wartawan, tidak ada lagi simbiosis mutualisme, polisi seperti tidak butuh wartawan, meski beberapa anggota dan perwira yang sudah terjalin hubungan personality masih tetap melakukan hubungan baik.
Namun tidak seperti pada era 2000 an, karena anggota maupun perwira ada rasa ketakutan kena teguran bahkan hukuman dari pimpinan jika terus berhubungan dengan wartawan. Bahkan dalam sebuah kesempatan, pimpinan kepolisian menegaskan kepada anggotanya untuk menjauh dari wartawan.
“Tanpa wartawan pun kita bisa jalan, tanpa wartawan kita tetap bisa naik pangkat. Yang penting kita kerja yang baik, karena pangkat tidak ditentukan oleh banyaknya ekspos ke media,” ujar pimpinan kepolisian kala itu.
Statement itu pun direspon oleh wartawan, sehingga ketegangan polisi dengan wartawan pun pecah. Bahkan statement itu sampai ke Mabes Polri. Wartawan pun tidak bisa berbuat banyak, wartawan hanya punya senjata blok note dan pulpen.
Training
Untuk membalasnya, wartawan pun menyepakati untuk tidak menulis keberhasilan polisi (meski ini sebuah pelanggaran profesi jurnalis). Wartawan hanya menulis sebuah peristiwa yang selama ini disembunyikan polisi.
Kasus pungli yang selama ini disembunyikan oleh wartawan, akhirnya diblow up habis-habisan yang akhirnya berakibat beberapa anggota dimutasi dan dipindahtugaskan. Kasus pungli yang mencuat pun ditindaklanjuti oleh pimpinan yang lebih tinggi.
Karena dimungkinkan akan terus menuai konflik dan opini masyarakat terbangun, maka pimpinan tertinggi mengambil sikap untuk mempertemukan pejabat itu dengan wartawan. Persoalanpun selesai setelah pejabat yang dimaksud meminta maaf kepada wartawan.
Namun demikian, sikap arogan itu pun tidak hilang, masih seperti itu dan jaga jarak dengan wartawan. Karena merasa dalam posisi wartawan butuh polisi, polisi bisa seenaknya mengatur dan menyuruh wartawan untuk tidak menulis berita tertentu. Bahkan, tidak sedikit wartawan yang kesulitan mengakses berita kriminal karena ada perintah pimpinan untuk tidak memberikan informasi apapun kepada wartawan.
Sepertinya, era demikian (polisi tidak butuh wartawan) hingga saat ini masih saja terjadi di sejumlah kantor kesatuan, dan wartawan saat ini pun hanya sebatas bekerja untuk memenuhi kewajibannya. Meski demikian, hubungan personality anggota masih berjalan baik hingga sekarang.
Sepertinya dibutuhkan sebuah regulasi untuk membangun komunikasi, untuk menyatukan visi bahwa polisi adalah mitra wartawan, polisi butuh wartawan begitu juga sebaliknya. Kedua lembaga profesi itu sama-sama mempunyai landasan saling membutuhkan.
Training
Terobosan-terobosan itu pun ditempuh, bahkan pelatihan yang melibatkan kedua belah pihak terus digalakkan untuk mencapai sebuah pemahaman, bagaimana sebenarnya kolaborasi yang baik penegak hukum dengan wartawan, bagaimana harapan penegak hukum terhadap wartawan/media dan sebaliknya.
OnTrackMedia Indonesia bekerja sama dengan Australian Federal Police (AFP) mengadakan pelatihan media untuk Polisi di JCLEC Komplek Akpol Semarang.
Eksekutif Director DY Suharya mengatakan, training ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan memiliki pemahaman pada petugas kepolisian, terutama divisi tentang apa dan bagaimana media dan jurnalis bekerja.
“Pelatihan ini merupakan pelatihan lanjutan dari dua sesi sebelumnya, yang diadakan di Makassar dan Jakarta. Diharapkan di dalam pelatihan tiga hari di Semarang ini, para peserta tidak hanya mendapatkan materi yang dipaparkan melalui presentasi trainer, tetapi juga mengenal langsung bagaimana media menjalankan aktifitas mereka,” ujarnya, Rabu.
Dalam training tersebut, diikuti 20 perwakilan dari Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah dan/atau Kepolisian Resor dan Ditjen Bea dan Cukai dari 20 provinsi di Indonesia dan Peserta tersebut merupakan pilihan dari polda masing-masing.
“Peserta kali ini merupakan pilihan dari Polda masing-masing, dengan harapan mereka bisa mengaplikasikan training ini kedalam dinas sehari-harinya,” tambahnya.
Dalam training 20-22 di JCLEC Kawasan Akpol Semarang, hari pertama menghadirkan Jurnalis dari masing-masing bidang, yakni Amanda Putri dari Kompas, Shinta Ardhani dari Radio KBR68H, Faisal Jasdi dari PRO TV dan Takhrodjie dari BeritaJateng.net, kehadiran jurnalis untuk sharing dengan para peserta, hal ini untuk memberikan pemahaman bagaimana kerja wartawan di lapangan, apa yang dibutuhkan dan lain-lainnya.
“Sehingga Humas pada khususnya bisa memahami apa yang diinginkan oleh wartawan,” tuturnya.
Ternyata dalam pelaksanaannya, tidak hanya sekedar sharing, tapi terjadi sebuah diskusi hangat yang akhirnya bisa diambil sebuah kesimpulan bagaimana polisi bisa bertindak arogan, dan bagaimana wartawan bisa menulis menyerang.
Training
Memang diakui atau tidak, hingga saat ini wartawan bagi polisi merupakan sebuah momok yang menakutkan tapi juga sahabat yang menyenangkan. Mengapa polisi bertindak arogan ? itu disebabkan karena banyak wartawan yang hanya mementingkan berita tanpa memikirkan efek dari berita itu.
Dan kenapa wartawan menulis menyerang ? karena wartawan tidak bisa mendapatkan informasi yang diharapkan dengan sebab narasumber mempersulit informasi itu.
Dua hal itu menggelinding dalam training hari pertama, keduanya mengungkapkan alasannya masing-masing. Setelah duduk satu meja yang dibagi empat kelompok dengan 4 narasumber dari Jurnalis, muncullah ide bagaimana membangun sebuah kolaborasi yang bagus untuk ke depannya.
Kesimpulannya adalah penegak hukum yakni Polri dan Ditjen Bea dan Cukai sebagai peserta training berharap wartawan memahami tugas pokok masing-masing dan membangun komunikasi yang bagus.
Penegak hukum dalam hal ini Humas harus mempunyai skill yang bagus untuk memberikan jawaban yang bisa diterima oleh jurnalis. Penegak hukum juga berharap wartawan bisa mengerti keterbatasan hirarki dalam organisasinya.
Sama halnya dengan penegak hukum, Jurnalis juga berharap penegak hukum tidak membeda-bedakan jurnalis dalam medianya, penegak hukum juga harus memahami tugas berat jurnalis. Dan yang tidak kalah penting, penegak hukum diharapkan bisa melaksanakan UU Pers ketika produk jurnalis itu terbentur dengan masalah hukum.
Inti dari training hari pertama dihasilkan kesepakatan bahwa hubungan personality menjadi kunci utama dalam menjalin hubungan kedua lembaga, sehingga tidak ada lagi perlakuan tidak enak terhadap jurnalis dan sebaliknya. (*)

Takhrodjie, S.Ag
Wartawan BeritaJateng.net