Home Headline Polisi : Alat Bukti Cukup, Joko Santoso Bisa Jadi Tersangka

Polisi : Alat Bukti Cukup, Joko Santoso Bisa Jadi Tersangka

Aksi Ketua Timses SiBagus, Joko Santoso yang berbuntut hukum.
Aksi Ketua Timses SiBagus, Joko Santoso yang berbuntut hukum.
Aksi Ketua Timses SiBagus, Joko Santoso yang berbuntut hukum.

SEMARANG, 25/8 (BeritaJateng.net) – Polrestabes Semarang menyatakan kasus dugaan penganiayaan dengan terlapor Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Joko Santoso, masih dalam penyelidikan.

Polisi menyatakan status Ketua Tim Pemenangan SiBagus (Sigit-Agus) itu dari terlapor bisa meningkat menjadi tersangka jika ada alat bukti yang cukup.
 
Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Burhanudin, membenarkan pihaknya telah menerima laporan resmi dari pelapor terkait dugaan penganiayaan yang dilakukan Joko Santoso. Laporan resmi diterima pada Senin (24/8/2015) malam.
 
“Terlapor dan pelapor sama – sama dari PP (Pemuda Pancasila). Kami sudah terima laporannya, pasti akan ditindaklanjuti,” ungkap Burhanudin, Selasa (25/8/2015).
 
Pelapor ada tiga orang. Masing – masing Anggoro Nugroho (29) warga Jalan Tapas Raya Blok 9 nomor 325, Genuk Indah, Kota Semarang, Didik Prasetya (38) dan Zubaidi (43).

Dari tiga pelapor, Anggoro mengaku dianiaya dengan cara dipukul berulang kali di kepala. Tiga pelapor itu semuanya sudah dimintai keterangan penyidik Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) setempat.
 
“Saksi korban (pelapor) sudah kami mintai keterangan. Dalam waktu dekat, pemanggilan terhadap terlapor akan dilakukan. Terlapor pasti akan kami mintai keterangan (periksa),” lanjut dia.
 
Sementara itu Kasat Reskrim AKBP Sugiarto, menyebut pihaknya tentu akan menangani perkara ini secara prosedural.
 
“Jika alat bukti cukup, status terlapor bisa naik jadi tersangka,” tambahnya.
 
Menurutnya, terlapor lain, yakni Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) PP Semarang Barat, Yuli, juga akan dimintai keterangan polisi dalam waktu dekat. Sebab, Yuli juga dilaporkan atas perkara yang sama.
 
Sementara itu, pelapor Anggoro menyebut pihaknya akan mengikuti proses hukum yang ada.

“Saya berharap persoalan ini cepat selesai,” kata dia.
 
Diketahui, pelaporan itu merupakan buntut dari penetapan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota di Balai Kota Semarang, Senin (24/8/2015) sore. Saat itu, terjadi gesekan antar pendukung masing – masing pasangan calon.
 
Ternyata, itu berbuntut panjang. Dari euforia hingga gesekan, ternyata menjurus ke pidana. Para korban mengaku dianiaya oleh terlapor.

Mendapat kekerasan. Akhirnya mereka menempuh jalur hukum, melapor dengan tudingan pelanggaran Pasal 170 KUHP. (BJ)