Home Headline Polda Jatim Gagalkan Penyeludupan Burung Cekakak ke Eropa

Polda Jatim Gagalkan Penyeludupan Burung Cekakak ke Eropa

Cekakak
Ilustrasi

Surabaya, 30/1 (Beritajateng.net) – Subdit IV/Tipiter Ditreskrimsus Polda Jatim menggagalkan perdagangan 397 hewan dilindungi yang sudah diawetkan ke Eropa, khususnya burung “cekakak” (paruh merah dan hitam).

“Kasus itu terkuak berkat informasi Interpol untuk menindaklanjuti laporan Metropolitan Police Wildlife Crime Unit di Inggris,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono di Surabaya, Jumat.

Didampingi sejumlah penyidik Subdit IV/Tipiter Ditreskrimsus Polda Jatim, ia menjelaskan temuan Polisi Inggris tentang adanya pengiriman barang terkait dugaan pidana konservasi sumber daya alam itu pun diselidiki.

“Hasil penyelidikan menemukan spesies hewan dilindungi dalam keadaan mati yang akan diperdagangkan ke Eropa. Pelakunya yakni BOR (52) asal Jalan Dieng Simpang I, Malang, tapi dia pelaku tunggal,” katanya.

Ia mengatakan BOR menjalankan bisnis hewan dilindungi yang sudah diawetkan itu sejak tahun 2006, tapi tidak ada yang mengetahuinya, termasuk anak buahnya yang bekerja dalam bisnis konveksi yang dijalankannya.

“Karena itu, kami masih terus mendalami kasus itu, karena pelaku masih belum mengakui asal-usul dari 397 hewan dilindungi yang sudah diawetkan ke Eropa, termasuk tujuh paket yang masih tersimpan di rumahnya,” katanya.

Ke-379 hewan dilindungi yang sudah diawetkan dan akan dikirim ke Eropa adalah 85 kerangka cekakak (paruh merah), 100 kepala cekakak, 30 kerangka cekakak ada bulu, 10 kerangka cekakak hitam (paruh hitam), dan 90 kepala cekakak hitam.

Selain itu, 63 bulu merak, lima kerang terompet, sembilan sigung, satu notulis, satu kucing hitam, satu kerangka kancil, satu kepala rusa, satu ekor penyu, dan 15 lembar bukti pengiriman satwa melalui Kantor Pos ke Luar Negeri.

“Pengiriman ke luar negeri itu melalui E-BAY yang berkedudukan di Amerika Serikat. Ada juga beberapa hewan yang diawetkan tapi tidak termasuk hewan dilindungi, seperti kelelawar, kalajengking, dan sebagainya. Semuanya dipakai untuk hiasan,” katanya.

Hingga kini, polisi sudah memeriksa lima saksi dan seorang saksi ahli dari BKSDA. “Tersangka akan dijerat dengan Pasal 21 Ayat 2 Huruf b dan d serta Pasal 40 UU 5/1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dengan ancaman hukuman lima tahun penjara dan denda Rp100 juta,” katanya.(ant/Bj02)