Home Hukum dan Kriminal Polda Jateng Amankan Produksi Pupuk Ilegal

Polda Jateng Amankan Produksi Pupuk Ilegal

image

Semarang, 4/5 (Beritajateng.net)-Ahmad Slamet Jayadi warga Jepara ditangkap Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah karena terbukti memproduksi pupuk dengan bahan campuran air kencing kelinci. Dia ditangkap karena sudah memproduksi pupuk tanpa izin edar sejak tahun 2009.

Kepada polisi ia mengaku melakukan usaha pupuk karena pernah bekerja di pabrik pupuk. Dengan modal pengalaman kerja itulah, akhir 2009 lalu Ahmad membuat home industri pupuk NKCL merek Fortan di Desa Krasak, Pecangaan, Jepara. “Saya sudah beroperasi sejak akhir 2009. Dibantu dengan lima karyawan. Dulunya saya kerja di pabrik pupuk,” katanya, Senin (4/5).

Ahmad menambahkan sekali produksi pembuatan pupuk sehari bisa meraup keuntungan lumayan.”Per bulan bisa capai Rp60 juta. Dalam seharinya bisa produksi 40 karung,”tuturnya.

Dia menjelaskan membuatnya yakni dengan cara mencampur bahan garam lokal 9 kuintal, garam impor 7 kuintal, kalium 4 kuintal, zat pewarna 1,5 kg, dan air kencing kelinci 20 liter.”Cara itu dilakukan dari sejak jadi karyawan pupuk,”jelasnya.

Lebih lanjut sebagi pengganti natrium, ia memakai dengan air kencing kelinci agar menimbulkan aroma menyengat layaknya natrium sehingga semakin mirip pupuk NKCL ber-SNI. “Beli air kencing kelinci dengan harga 16 ribu per liter, sedangkan natrium bisa jauh lebih mahal sekitar 80 ribu,”imbuhnya.

Dari hasil natrium tersebut, ia menjual kepada petani bawang, dan padi. “Hasilnya bagus. Para konsumen juga memuji produknya bagus. Alasan memakai air kencing kelinci karena hewan itu tidak minum tapi makannya wortel dan tanaman basah, kencingnya lebih manjur,” tandasnya.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng Kombes Pol Edhy Moestofa mengatakan pelaku sudah mulai berproduksi sejak enam tahun lalu. Omzet mencapai Rp 65 juta per bulan dengan keuntungan kotor Rp 20 juta.”Harganya murah dia (Tersangka) jual per sak 50 kg seharga Rp 80 ribu, yang sudah SNI Rp 300 ribu. Daerah pemasaran di Demak dan Sragen,” terang Edhy. 

Edhy menambahkan untuk sementara pelaku sudah ditetapkan tersangka. Selain itu karyawan masih diperiksa sebagai saksi.”Pemilik sudah tersangka. Namun lima karyawan masih saksi,”bebernya.

Tersangka terancam dijerat Pasal 120 ayat 1 jo pasal 53 ayat 1 UU RI nomor 3 Tahun 2014 tentang perindustrian dengan ancaman hukuman Rp 5 milyar dan denda maksimal Rp 3 milyar. Kemudian pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 ayat 1 huruf A dan atau e UU RU nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara dan denda Rp 2 milyar.

Barang bukti yang diamankan dari tempat produksi tersangka atau tepatnya di gudang CV Kwadran Jaya Mandiri itu adalah 110 karung 50 kg pupuk Fortan siap edar, dua mesin oven, satu mesin penggiling garam, satu mesin blower, dan bahan baku pupuk lainnya beserta karung kemasan.(BJ04)