Home Hukum dan Kriminal PN Rembang Diserbu Warga Desa Bogorame

PN Rembang Diserbu Warga Desa Bogorame

image
Istri salah satu terdakwa terlihat menangis histeris

Rembang, 4/5 (Beritajateng.net)-Sidang kasus dugaan perusakan oleh beberapa warga Desa Bogorame, Kecamatan Klilopo di PN Rembang, Senin (4/5) siang mendapat perhatian ratusan warga Desa Bogorame. Beberapa saat setelah hakim mengetuk palu tanda pesidangan ditunda, ada beberapa warga yang berteriak menghujat jaksa penuntut umum.

Bukan hanya kemarahan, beberapa istri terdakwa yang hadir dalam persidangan tersebut turut histeris. Setelah berhasil ditenangkan, ratusan warga akhirnya meninggalkan halaman PN menggunakan empat truk.

Persidangan dengan agenda tanggapan jaksa atas eksepsi terdakwa berlangsung sekitar satu jam dengan penjagaan ketat puluhan aparat Polres Rembang. Setelah mendengarkan tanggapan jaksa, Ketua Majelis Hakim, Antyo Harri Susetyo menyatakan sidang ditunda Rabu (13/5) dengan agenda putusan sela.

Usai sidang, ketua tim panasehat hukum terdakwa Budi Supriyatno kepada Beritajateng.net menegaskan, permohonan pengajuan pengalihan penahanan para terdakwa adalah langkah untuk menegaskan asas praduga tidak bersalah. Menurutnya, perkara yang menjerat enam kliennya adalah ranah PTUN bukan PN. ”Sebelum terjadi pembukaan pagar yang menutup akses jalan empat desa dan akhirnya berbuntut laporan, sebenarnya sudah dilakukan dua kali musyawarah yang melibatkan musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika),” terangnya.

Untuk itulah, pihaknya menolak perkara ini disidangkan di pengadilan negeri (PN) karena perbuatan kilennya tersebut bukan merupakan perbuatan pidana. Jika akibat perbuatan tersebut ada yang tidak menerimakan, seharusnya yang berhak menangani adalah Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).     

Disinggung tanggapan JPU yang dibacakan Sukarmin pada intinya menolak eksepsi terdakwa, hal tersebut adalah hak jaksa. Hanya saja, pihaknya tetap berharap hakim mempertimbangkan eksepsi yang diajukan dan mengabulkan pengalihan penahanan dari tahanan kurungan menjadi tahanan kota.”Kalau jaksa berdalih menolak pengalihan penahanan dengan pertimbangan ada ketakutan para terdakwa mempersulit jalannya persidangan, sebenarnya hal tersebut tidak perlu menjadi ketakutan. Salah satu alasan permohonan pengalihan penahanan, karena para terdakwa adalah tulang punggung keluarga mencari nafkah,” tegasnya.

Seperti diketahui, enam terdakwa yang ditetapkan tersangka oleh penyidik kepolisian adalah Sugito (45) anggota BPD, Lamijan (43) Ketua RT 05/ RW 01, Lasman (40) Ketua BPD, Lasmin (40), Riyanto (50), Karmijan (41) Ketua RT03/ RW02 semua asal Desa Boogorante. Sementara seorang lagi bernama Temok (43) warga Desa Pranti, Kecamatan Sulang yang diduga terlibat perkara tersebut masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). 

Sedangkan pengusaha kayu bernama Basis yang melaporkan perkara tersebut, menuduh mereka melakukan perusakan pagar yang berada di tanah milik PT KAI yang dikontraknya. Padahal, menurut keterangan warga selama ini tidak ada pengrusakan tetapi pembukaan atas dasar kesepakatan pihak desa dengan Koramil dan Camat setempat. (BJ12)

Advertisements