Home Hiburan PKS Kenalkan Kembali Dolanan Tradisional Pada Anak-anak

PKS Kenalkan Kembali Dolanan Tradisional Pada Anak-anak

83
0
Anak-anak dengan riang bermain dolanan tradisional.
                Semarang, 23/7 (BeritaJateng.net) – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional PKS Tembalang dan Candisari mengajak anak-anak kader untuk bermain dolanan tradisional yang dilaksanakan di lapangan Meteseh Tembalang Minggu (23/7). Dolanan Tradisional dinilai lebih dapat membantu membentuk karakter anak sesuai dengan budaya ke Indonesiaan yang mencintai kebersamaan dan saling menyayangi.
                 Permainan Tradisional yang mayoritas diikuti oleh anak-anak kader ini diantaranya adalah lempar bola, balap batok, tembak-tembakan dengan pistol kayu, dan banyak permainan lainnya. PKS bekerja sama dengan Republik Dolanan yang di komandoi oleh Mas Ipoel dari Jogja. Mas Ipoel adalah pendiri komunitas LIDI (Lingkar Inspirasi Dolanan Indoensia). Sebanyak 50 anak mengikuti permainan ini dengan gembira dan hebohnya.
                 Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) PKS Kota Semarang Rita Rhoy Kana mengatakan, bahaya gadged di era baru ini cukup membuat khawatir para orang tua, dimana disana terlalu banyak konten yang sulit untuk dapat disaring. Untuk itu, dalam rangka menjaga anak, PKS membuat langkah nyata dengan mengenalkan anak dengan dolanan tradisional.
PKS Kenalkan Kembali Dolanan Tradisional Pada Anak-anak
PKS Kenalkan Kembali Dolanan Tradisional Pada Anak-anak

“Ini langkah nyata PKS melihat anak mulai ketergantungan dengan gadged, kita coba kenalkan dengan permainan tradisional ini, dan ternyata anak-anak juga sangat menyukainya. Konten gadged saat ini begitu berbahaya bagi anak, karena konten sulit untuk disaring, tidak cukup ramah untuk anak semenara ini, jangan sampai anak setiap kembali ke sekolah selalu pada akhirnya kembali ke gadget,” Terang Rita.

              Disisi lain, Rita menelaskan, permainan tradisional ini justru lebih mendidik terutama mendidik karakter anak. Dolanan tradisional bisa melatih anak untuk lebih berjiwa sosial karena ia harus berinteraksi dengan anak yang lain, membangun kebersamaan seperti budaya kebangsaan Indonesia.
              “Karakter sebagai anak bangsa Indonesia sebenarnya justru akan tumbuh dengan dolanan tradisional ini, karena mereka harus berinteraksi dengan anak yang lain, berarti tidak individualis, dilatih bekerjasama dengan tim yang berarti melatih mereka dalam hal persatuan, ada menang dan kalah, membiasakan diri mereka untuk bertoleransi,” Jelas Rita.
              Rita menambahkan akan mengupayakan agar dolanan tradisional ini di terapkan di program Rumah Keluarga Indonesia diseluruh Kota Semarang yang sudah launching hingga tingkat kelurahan. Rumah Keluarga Indonesia adalah program pendidikan keluarga dan anak untuk memperkuat ketahanan keluarga terutama menghadapi era baru. (El)