Home Lintas Jateng Petisi Warga Solo Untuk Selamatkan Taman Sriwedari

Petisi Warga Solo Untuk Selamatkan Taman Sriwedari

Radya Pustaka
Solo, 10/9 (BeritaJateng.net) – Polemik yang terjadi terkait sengketa atas kepemilikan lahan Sriwedari mencapai puncaknya dengan dikeluarkannya  surat panggilan (aanmaning) kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta dan Pengurus Yayasan Museum Radya Pustaka. 

Sengketa kepemilikan lahan Sriwedari yang sudah sampai di tangan Mahkamah Agung (MA) dimenangkan oleh ahli waris RMT Widjodiningrat.

Dan dikuatkan dengan  Pengadilan Negeri (PN) Solo, Jawa Tengah, yang juga mengirimkan aanmaning atau teguran melalui surat panggilan Nomor 10/PEN.PDT/EKS/2015/PN.Skt kepada termohon eksekusi yakni Pemkot Solo, pengelola Museum Radya Pustaka dan penguasa Keraton Surakarta.

Kuasa Hukum Pemkot Surakarta, Susiyanti mengakui pihaknya sudah menerima teguran melalui surat panggilan Nomor 10/PEN.PDT/EKS/2015/PN.Skt kepada termohon eksekusi yakni Pemkot Solo.

“Kami (Pemkot Solo)  dinyatakan kalah mau melaksanakan secara sukarela sesuai isi putusan atau opsi lain misalnya pembicaraan secara kekeluargaan. Tapi kami bersepakat akan menyampaikan permohonan untuk penundaan eksekusi,” ungkapnya di Solo Jawa Tengah, Kamis (10/9/2015).  

Susiyanti  menyatakan Pemkot Solo akan melakukan upaya untuk penangguhan eksekusi. Sebeb jika ada upaya hukum maka akan ditunggu terlebih dahulu  apalagi terkait masalah hak milik. Teguran masuk baru satu kali, dan saat ini Pemkot Solo sedang proses pengajuan PK dan masih  dalam registrasi sejak dua minggu yang lalu.

Hasil putusan MA, semua bangunan yang ada di lahan Sriwedari mulai dari Radya Pustaka hingga Stadion Sriwedari, termasuk juga Gedung Wayang Orang, diminta agar segera  dikosongkan. 

Sementara itu  masyarakat berbagai dari kalangan mulai dari seniman, budayawan, politisi hingga akademisi akan mengajukan petisi terkait rencana eksekusi yang bakal dilakukan Pengadilan Negeri (PN) Surakarta terhadap lahan Sriwedari.  

Aksi penolakan juga akan dilakukan dengan  aksi turun ke jalan hingga pementasan tari sesaji. Alasannya penolakan itu karena taman Sriwedari itu didirikan untuk menjadi area publik. Sedangkan hasil putusan MA, semua bangunan yang ada di lahan Sriwedari mulai dari Radya Pustaka hingga Stadion Sriwedari, termasuk juga Gedung Wayang Orang, diminta agar segera  dikosongkan. (BJ24)