Home Ekbis Petani Tembakau Jawa Tengah Menolak Keras Akses FCTC

Petani Tembakau Jawa Tengah Menolak Keras Akses FCTC

Suasana Musda APTI di Semarang

Suasana Musda APTI di Semarang

Semarang, 6/2 (BeritaJateng.Net) – Petani Tembakau Jawa Tengah yang tergabung dalam APTI atau Asosiasi Petani Tembakau Indonesia menolak akses Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dan melawan kebijakan-kebijakan eksesif yang merugikan petani tembakau.

“Petani tembakau selama ini justru di tekan dengan regulasi-regulasi dari pemerintah. Padahal pada kenyataannya, penerimaan dari cukai rokok untuk negara cukup besar, yaitu mencapai Rp103,6 triliun pada 2013 lalu,” papar Triono Ketua APTI Jawa Tengah.

Menurutnya, pemerintah wajib mempertahankan tembakau sebagai komoditas strategis perkebunan dan industri tembakau sebagai industri prioritas nasional dengan tetap menjalankan roadmap industri tembakau yang telah disepakati berlaku hingga 2025.

Akibat kebijakan pemerintah yang mencoba untuk mengurangi lahan pertanian tembakau, sejak 2011 hingga 2015, luasan lahan tembakau terus menyusut dan produksinya juga terus menurun. Pada 2011, luas lahan tembakau mencapai 45.930 hektare dengan hasil produksi mencapai 39 ribu ton lebih.

Sementara pada 2012, luasan lahan turun menjadi 43 ribu hektare dengan hasil produksi 30.078 ton. Dan pada 2013, luasan kembali berkurang menjadi 41.800 hektare dengan hasil produksi hanya 27.847 ton.

Terkait masalah itu, pemerintah dinilai belum bisa memberikan solusi ekonomi yang cukup efektif seandainya konversi tanaman tembakau diterapkan. Tanpa solusi alternatif tersebut, keputusan pemerintah untuk meratifikasi FCTC merupakan bumerang yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.

“Padahal di Jateng ada 23 daerah penghasil tembakau. Enam daerah yang diakui sebagai penghasil tembakau terbesar, yaitu Temanggung, Demak, Grobogan, Klaten, Boyolali dan Magelang,” tambahnya.

Terjadinya penurunan lahan area tanaman tembakau yang disebabkan karena kurang tepatnya kebijakan pemerintah yang terlalu menekan petani, termasuk salah satunya yaitu adanya FCTC membuat kelompok petani tembakau ini menolak keras akses tersebut. (BJ05)