Home Hiburan Pertunjukan Teatrikal Warnai Pazaar Seni TBRS 2015

Pertunjukan Teatrikal Warnai Pazaar Seni TBRS 2015

IMG_20150815_153533

Semarang, 15/8 (BeritaJateng.net) – Berbagai aksi teatrikal ditunjukkan para seniman dalam workshop dan simulasi seni kekinian Pazaar Seni 2015 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (15/8) sore.

Salah satunya Ghofur yang menampilkan aksi dengan menempelkan kertas bertuliskan “Bersih” di dahi dan bagian tubuh lainnya yang selanjutnya mengajak para pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya.

Selanjutnya, teatrikal dari Aning yang melakukan simulasi dengan menempelkan beberapa uang kertas di sebuah kendi yang kemudian dipecah.

Aning lalu menjelaskan salah satu makna yang ia sampaikan dalam aksi itu adalah bahwa bekerja tidak hanya mencari uang saja.

“Kalau pekerjaan hanya mencari uang saja itu gampang, pilihannya banyak. Tetapi ketika dihadapkan pada satu pilihan yang berakibat pada ketidakmaslahatan itu yang perlu dipikirkan. Uang itu dicari dengan cara-cara atau sikap yang baik,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu pemateri dalam pertunjukkan ini, Iwan Wijono menjelaskan latar belakang diadakannya workshop ini karena di masa sekarang posisi seni hanya sebagai komoditas semata.

“Dari perkembangan masyarakat global di Indonesia sudah sedemikian pragmatis dan industrial, termasuk posisi seni itu sendiri hanya bagian dari komoditas semata,” kata Iwan.

Iwan menambahkan keberadaan seni berbeda dengan masyarakat tradisional yang memandang seni itu sebuah identitas masyarakat.

“Seni modern walaupun mahal tapi tidak berfungsi di masyarakat. Dengan pertunjukkan hari ini semoga seni dimasyarakat dapat dilaksanakan dan punya kekuatan yang bagus, sehingga dapat mensupport Indonesia sebagai negara yang berkebangsaan dan berbudaya,” jelasnya.

Lebih lanjut Iwan menuturkan seorang seniman tidak hanya menjual karyanya saja, yang hasilnya lalu digunakan untuk dimakan.

“Seniman itu tidak hanya karyanya dijual untuk makan saja, tidak beda dengan orang membikin sepatu, namun lebih dari itu seniman harus dapat menjadi kreator, dengan begitu akan ada banyak kemungkinan dapat membuat kesenian di dalam masyarakat. Jadi tidak hanya di pameran, karena fungsi seni akan menjadi sangat sempit,” ungkapnya.

Lanjut Iwan, ia mengatakan dengan pemahaman yang baru dalam workshop ini, diharapkan seniman dapat menganalisa kondisi sosial dan mampu mengembangkan karya yang mereka buat agar lebih strategis. (Mg-2)