Home News Update Persoalan Bangsa Bermula dari Masalah Keluarga

Persoalan Bangsa Bermula dari Masalah Keluarga

674

SEMARANG, 21/8 (BeritaJateng.net) – Sebagai kampus yang fokus pada studi psikologi keluarga, Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Diponegoro (Undip) mengajak alumninya untuk membenahi permasalahan bangsa mulai dari keluarganya.

Dekan Fapsi Undip, Hastaning Sakti menyatakan apapun permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia, seringkali bermula dari masalah keluarga. Sehingga negara akan baik apabila lingkaran terkecil keluarga itu juga baik.

“Masih banyak lagi yang bisa dikaji dari psikologi bangsa ini, terutama masalah keluarga. Sejak awal visi kami memang ke arah psikologi keluarga, makanya kami dirikan Pusat Penelitian Keluarga (PPK), disana ada kajian mulai dari indeks kebahagiaan, mengenai keluarga dan etnis, mengenai ketangguhan dan sebagainya. Tentunya bekerjasama dengan banyak pihak,” tutur Bu Hasta, demikian sapaan akrabnya, disela-sela acara temu kangen ikatan alumni psikologi (Ikapsi) di hotel Grasia, Sabtu.

Doktor lulusan UGM ini melanjutkan, tema reuni ini adalah ‘Empati untuk Negeri’. Dengan tema itu Hasta mengajak setiap alumni dan mahasiswa harus memandang masalah menggunakan empati.

“Empati berarti merasakan apa yang dirasakan orang lain, artinya mari utamakan orang lain daripada diri sendiri. Kita lulus dan bekerja untuk bermanfaat bagi orang lain. Karenanya, kampus kita harus bisa memberikan kontribusi berarti untuk semua,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Ikapsi Undip Faris Fanani menyatakan tema psikologi keluarga itu cukup mewarnai keluarganya.

“Saya menikah saat masih kuliah. Dan anak kami saat ini berusia 9 tahun, baru-baru ini membuat cerpen berjudul Mahkota Surga untuk Ayah, silahkan dibeli,” terang Faris sembari tertawa.

Faris berharap dengan berkumpulnya para alumni berarti mereka kembali untuk berbagi dengan almamaternya.

“Semoga bisa bermanfaat dari fakultas untuk universitas bahkan negeri. Kami ajak alumni dengan bahasa yang psikologis lewat tema Empati untuk Negeri, saatnya ilmu psikologi banyak berperan,” jelas Faris.

Acara yang berlangsung selama dua hari diramaikan dengan seminar, sarapan bersama, napak tilas, dan juga doa untuk alumni dan dosen yang telah wafat.

Untuk diketahui, visi Fapsi Undip telah dicanangkan sejak awal berdirinya tahun 1995 mengarah pada studi psikologi keluarga. Baru semenjak menjadi fakultas ditahun 2007, program kontribusi untuk negeri mulai digalakkan. Saat ini fakultas yang telah meluluskan lebih dari 1.200an sarjana ini sudah menginjak dua dasawarsa. Alumni pun berkumpul untuk mengadakan kongres.

Kurikulum Psikologi Dimuat Hampir Semua Fakultas di Undip

Sukses mempelopori pelatihan pendidikan karakter bagi mahasiswa baru (Maba) Universitas Diponegoro (Undip), Fakultas Psikologi (Fapsi) kini mendapat beberapa surat resmi dari fakultas lain. Surat itu berisi permohonan mengajar bagi dosen psikologi. Hal ini sekaligus menandakan dimuatnya kurikulum psikologi di hampir seluruh fakultas di Undip.

Dekan Fapsi Undip, Hastaning Sakti menuturkan surat tersebut diterimanya untuk tahun ajaran baru 2016-2017.

“Ada 7 surat yang masuk, ini berita baik bagi kami karena berarti ilmu psikologi mulai dirasa perlu bagi semua,” kata Bu Hasta, demikian sapaan akrabnya, disela-sela rangkaian acara reuni akbar ikatan alumni psikologi (Ikapsi), yang berakhir Minggu (21/8/2016) di kampus psikologi.

Hasta melanjutkan cerita perjuangan fakultas dulu agar ilmu psikologi bisa dirasakan di Undip.

“Awalnya 2011 lalu kami adakan acara untuk Maba, PR III yang mengetahui ini kemudian mempatenkan bentuk acara ini dengan nama ‘Pendidikan Karakter Maba’ untuk seluruh mahasiswa sejak 2012,” terangnya.

Sejak saat itu, lanjut Hasta, maba diwajibkan dan bersertifikat, bahkan tidak akan bisa mendapat karir kemahasiswaan jika tidak ikut pelatihan selama 3 hari tersebut.

“Kalau belum ikut sekarang, ikut yang tahun depannya,” jelas Hasta.

Doktor lulusan UGM itu juga menjelaskan, sejak adanya larangan pemerintah terkait ospek, Fapsi Undip telah siap dengan terbiasa mengadakan acara ini.

“Kami tidak kebingungan dengan larangan itu, karena konsep kami sudah aman, bahkan sekarang ditiru fakulltas lain,” katanya.

Mengenai isi dari pendidikan karakter, Ibu dua anak itu menerangkan, mengenal diri dan kemampuan adalah yang utama.

“Sejak masih maba itu mahasiswa harus bisa memperkenalkan siapa dirinya, bisa apa dia, lebih apa dia, kurang apa dia, butuh dilengkapi apa dia untuk membangun tim yang hebat,” pungkasnya.

Acara reuni akbar Ikapsi diadakan memperingati dua dasawarsa Fapsi Undip. Hadir sebagai undangan seluruh alumni sejak angkatan 1996 hingga 2011, tak ketinggalan seluruh dosen dan civitas academica. Fapsi Undip sendiri telah meluluskan 1.200an sarjana yang tersebar seluruh indonesia.

Ketua Ikapsi Faris Fanani berharap dengan berkumpulnya para alumni berarti mereka kembali untuk berbagi dengan almamaternya.

“Semoga bisa bermanfaat dari fakultas untuk universitas bahkan negeri. Kami ajak alumni dengan bahasa yang psikologis lewat tema Empati untuk Negeri, saatnya ilmu psikologi banyak berperan,” jelas Faris. (*)