Home Lintas Jateng Perlu Konsistensi Jateng Bebas Jalan Rusak

Perlu Konsistensi Jateng Bebas Jalan Rusak

474
Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Semarang, 18/1 (BeritaJateng.net) – Dosen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Semarang Bambang Riyanto menilai, diperlukan konsistensi pelaksanaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam program “Jateng Bebas Jalan Berlubang” agar tidak berjalan sia-sia.

“Akan percuma jika respons cepat berupa penambalan jalan berlubang itu hanya berlangsung saat ini saja, tanpa ada konsistensi dalam pelaksanaannya,” katanya di Semarang, Minggu.

Menurut Bambang, program “Jateng Bebas Jalan Berlubang” juga harus diikuti pembenahan menyeluruh yang lebih terprogram agar hasil yang dirasakan langsung oleh masyarakat dapat lebih maksimal.

Ia menjelaskan bahwa pembenahan infrastruktur harus didahului evaluasi pekerjaan selama ini karena jika jalan selalu rusak dalam waktu cepat, maka hal itu menunjukkan ada yang salah dalam proses pengerjaannya.

“Drainasenya baik atau tidak, material dan kualitas pekerjaannya bagus atau tidak karena pada prinsipnya air tidak boleh menggenang di jalan, harus selalu keluar sehingga jalan tidak cepat rusak,” ujarnya.

Dengan kualitas jalan yang baik, kata dia, maka harapannya program “Jateng Bebas Jalan Berlubang” tidak dilaksanakan tiap tahun sebab jalan-jalan di Jateng sudah bagus dan kuat untuk jangka waktu yang lama.

“Respons cepat Gubernur Jateng atas kerusakan jalan sebagai kebijakan yang patut diapresiasi karena masyarakat memang membutuhkan jalan yang bagus untuk kelancaran transportasi, dan respons yang cepat juga membuktikan pemerintah tidak tutup mata terkait buruknya infrastruktur,” katanya.

Kepala Bidang Teknis Dinas Bina Marga Jateng Hanung Triyono yang dihubungi terpisah mengatakan penambalan lubang di jalan tingkat provinsi dilakukan di 263 ruas dengan total panjang mencapai 2.565,5 kilometer dan jalan tingkat nasional ada 231 ruas dengan panjang 1.390 km.

“Anggaran penambalan jalan berlubang diambilkan dari anggaran perawatan jalan yang tahun ini dialokasikan Rp102 miliar,” ujarnya.

Seperti diwartakan, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menginstruksikan seluruh jajarannya, khususnya Dinas Bina Marga, untuk secepatnya melakukan perbaikan jalan sehingga Jateng bebas jalan rusak pada awal 2015.

Terkait dengan perbaikan jalan rusak, Ganjar ingin memaksimalkan fungsi pengawas jalan guna mewujudkan Provinsi Jateng bebas jalan berlubang.

Menurut dia, pengawas jalan dapat diberdayakan untuk mengecek kerusakan jalan-jalan rusak di sejumlah daerah.

“Seorang pengawas jalan bisa melakukan pengecekan jalan sepanjang 30-50 kilometer. Jika menemukan jalan rusak, segera dipotret dan ditandai, kemudian segera dilakukan penambalan,” ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Ganjar mengakui bahwa Pemrintah Provinsi Jateng saat ini masih kekurangan alat berupa “asphalt mixing plant” yang digunakan untuk menambal jalan-jalan yang rusak.

“Dengan penambalan tersebut, memang belum tentu mulus. Akan tetapi, minimal tertambal dahulu. Kalau semua itu dapat berjalan, akan saya jadikan sistem mekanisme untuk jalan, di samping ada pembuatan sistem informasi di jalan,” katanya.

Dalam proses perbaikan jalan rusak di Provinsi Jateng, Ganjar berencana melibatkan pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) di berbagai daerah.

Dalam praktik di lapangan nanti, kata dia, satu SMK diajak bekerja sama atau diberi wewenang memperbaiki satu ruas jalan yang rusak.

“Selain pelajar SMK, para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga dapat dilibatkan dengan kesempatan yang lebih besar dan secara berkelanjutan dalam memperbaiki infrastruktur di Jateng berupa kuliah kerja nyata (KKN) yang tematik,” ujarnya.

Jumlah anggaran infrastruktur pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Tengah 2015 mengalami peningkatan sebesar 100 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Anggaran infrastruktur Jateng pada tahun 2014 sebesar Rp1,255 triliun, sedangkan pada tahun anggaran 2015 meningkat menjadi Rp2,572 triliun.

Kenaikan anggaran infrastruktur yang mencapai 100 persen ini karena perbaikan berbagai sarana dan prasarana yang ada di Provinsi Jateng membutuhkan dana yang relatif cukup besar.

Perincian anggaran infrastruktur pada tahun 2015 adalah Rp2,18 triliun untuk Dinas Bina Marga Jateng, sebesar Rp249 miliar untuk proyek irigasi di Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jateng, dan Rp143 miliar untuk Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Jateng guna pemugaran rumah tidak layak huni. (Ant/BJ)