Home Headline Perjuangan Rumaniyah, Anak Petani yang Jadi Anggota Polri

Perjuangan Rumaniyah, Anak Petani yang Jadi Anggota Polri

504
0
Perjuangan Rumaniyah, Anak Petani yang Jadi Anggota Polri
       Semarang, 16/3 (BeritaJateng.net) – Menjadi anggota polisi tidak membutuhkan uang ratusan juta. Bripda Rumaniyah (19) buktinya. Dengan kegigihannya, ia mampu mematahkan rumor yang tersebar di masyarakat bahwa untuk menjadi seorang anggota polisi harus menyiapkan sejumlah uang ‘pelicin’ agar bisa lolos tahap seleksi.
       Gadis asal Desa Trangkil Kulon, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan,  ini, Masih belum percaya bisa lolos sebagai anggota polisi.
       Di tengah keterbatasan biaya lantaran kedua orangtuanya hanya berprofesi sebagai buruh tani, Rumaniyah berusaha keras untuk menjadi seorang polisi wanita
        Bripda Rumaniyah gadis kelahiran 10 Agustus 1998 baru saja dilantik menjadi anggota Polri pada tanggal 6 maret lalu. “Awal pendaftaran, saya sempat pesimis karena memang tidak ada biaya untuk ongkos, dan biaya operasional pendaftaran lainnya,” terangnya
       Disaat mengutarakan niatnya menjadi anggota Polri kepada Orang tuanya, Bripda Rumaniyah tambah sedih, lantaran orang tuanya hanya memiliki uang tidak banyak dan uang tersebut rencananya akan digunakan untuk membayar hutang kepada saudaranya.
       Dalam pelaksanaan seleksi, Rumaniyah mengaku tidak mempunyai pengetahuan lebih tentang bidang yang ia daftarkan. Dia mendaftar bintara polisi di bidang IT, padahal semasa SMK ia mengambil jurusan Otomasi Industri.
       “Sebenarnya saya awalnya ingin menjadi polwan umum, namun karena tinggi saya nggak cukup dan ada bekas luka jahitan, maka saya mencoba apa yang saya bisa. Meski tidak mempunyai basic tentang IT saya mencoba. Kemudian saya meminta bantuan guru komputer di sekolah saya dan alhamdulillah beliau mau,” imbuhnya.
        Kini usaha kerasnya untuk masuk pendidikan polisi terbayar sudah setelah wanita asal Desa Trangkil Kulon, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan tersebut sah menjadi bagian dari Kepolisian Republik Indonesia. Rumaniyah resmi dilantik sebagai Bintara Polwan dengan pangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda) pada 6 Maret 2018 lalu dan sekarang ditempatkan di Divisi TIK Mabes Polri.
         Sementara Kliwon, ayah Rumaniyah tak henti-hentinya mengucap syukur atas lolosnya anak keenamnya dalam seleksi penerimaan bintara polisi 2017. Ia tak pernah mengira bahwa salah satu dari anaknya bisa mengemban amanah sebagai seorang anggota polisi.
        “Senang anak saya sudah jadi polwan karena saya tidak punya apa-apa. Saya tidak punya biaya apa pun, kerjanya cuma buruh tani dengan bayaran Rp 60 ribu per hari. Saya bersyukur dan berterima kasih,” ucapnya.
        Asisten SDM Kapolri, Irjen Pol Arief Sulistyanto, mengatakan hal tersebut merupakan bukti nyata bahwa untuk menjadi anggota polisi tidak diperlukan biaya berlebih. Yang dibutuhkan oleh para calon bintara hanyalah kemampuan dan tekad mereka masing-masing calon.
          “Contoh tadi Rumaniyah dan orangtuanya yang buruh tani sampai menangis di sini karena terharu. Ia menjadi Polwan dengan susah payah, tanpa biaya sedikitpun bahkan untuk berangkat ke Jakarta saja orangtua tidak bisa mengantar. Ini bukti kalau siapa pun bisa menjadi anggota Polri jika mempunyai kemampuan,” kata Arief.
         Sedangkan Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono menegaskan bahwa tidak ada biaya untuk menjadi anggota polisi. Dengan begitu, ketika ada orang yang menawarkan atau bisa meloloskan orang untuk menjadi anggota polisi dengan membayarkan sejumlah uang agar segera dilaporkan ke pihaknya.
        “Sudah ada arahan jelas dari Kapolri. Biaya jelas tidak ada. Makanya jangan ada rumor kalau masuk polisi bayar. Sekarang saya tantang siapa dan di mana yang masuk polisi membayarkan uang atau sogokan, akan kami tindak lanjuti,” kata Condro.  (Nh/El)