Home Headline Perjalanan Ideologis Puan, di Lereng Gunung Sumbing

Perjalanan Ideologis Puan, di Lereng Gunung Sumbing

Matahari bersinar cerah, dan langit sedang biru-birunya, saat Ketua DPR RI Puan Maharani tiba di Mangli Sky View, akhir pekan lalu. Dia menghentikan langkahnya di Gardu Pandang, sejenak menikmati indahnya puncak Gunung Sumbing, sebelum melanjutkan perjalanan ideologisnya di lereng gunung ujung barat Magelang itu.

“Luar biasa. Kita seperti berdiri di atas awan. Hawanya sejuk dan segar,” ujar politisi PDI Perjuangan itu.

Mangli Sky yang berada di ketinggian 1.570 mdpl menjadi salah satu rute para pendaki menuju puncak Gunung Sumbing.  Inilah tempat favorit baru yang para pengunjung  untuk menikmati “gold moment” keindahan saat matahari terbit dan terbenam.

Adapun Gunung Sumbing memiliki potensi pariwisata yang luar biasa. Tak hanya pegunungan dan puncaknya, wilayah kaki gunungnya juga mengundang decak kagum. Seperti Silancur Highland, Dusun Butuh Kaliangkrik yang dikenal sebagai Nepalnya Indonesia, hingga Mangli Sky View. Masih satu area dengan Dusun Butuh, yakni di Desa Kaliangkrik, Mangli lebih dulu dikenal para pendaki sebagai salah satu titik awal pendakian Gunung Sumbing.

Cerita berawal dari Pramono, selaku pemilik lahan, dan sahabatnya, Prasetya. Keduanya bergotong royong menciptakan tempat wisata yang menawarkan keindahan alam, bernama Gardu Pandang Mangli.

Kini, lokasi itu terus diperbaiki supaya lebih menarik, dan di-rebranding menjadi Mangli Sky View.

“Sangat Instagramable. Tempat ini menjadi alternatif destinasi wisata di Kabupaten Magelang, selain Borobudur yang sudah mendunia,” ungkap Puan.

Perempuan pertama yang menjabat Ketua DPR RI itu nampak begitu menikmati perjalanan menuju Mangli Sky View. Setelah melewati gerbang Desa Wisata Mangli, Kecamatan Kaliangkrik, Puan berjalan kaki sekitar 45 menit menuju Gardu Pandang Mangli Sky views.

Ia menyusuri perkampungan berundak yang berbentuk seperti terasering lahan pertanian.

“Seperti menyusuri kampung-kampung dekat Gunung Everest di Nepal,”ungkap anggota DPR RI dari Dapil 5 Jawa Tengah tersebut.

“Segar sambil trekking. Ini menjadi alternative olahraga aman di kala pandemi,” sambung Puan, sambil menikmati pemandangan lahan-lahan pertanian yang ditanami sayur-sayuran.

Dia sangat berharap Pemerintah Kabupaten Magelang dan Provinsi Jawa Tengah memaksimalkan potensi ekowisata Mangli.

Potensi pariwisatanya maju seiring dengan pelestarian alam, budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

“Konsepnya harus terintegrasi. Menggabungkan agrowisata, ekowisata serta kearifan lokal. Libatkan warga secara maksimal sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton,” ujar Puan.

Menurut Puan, cita-cita itu bisa tercapai, apalagi Kabupaten Magelang masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. “Pengembangan terpadu kawasan ini dapat menjadi destinasi wisata alternatif pendukung kawasan Borobudur,” ungkap putri Taufik Kiemas tersebut.

Pengelola Mangli Sky View, Pras Mangli, meminta Puan mendukung pengembangan seluruh potensi wisata Mangli.

Selain Mangli Sky View, di kawasan Kaliangkrik, Magelang, masih ada objek wisata Silancur Highland dan kawasan Desa Wisata Butuh.

Dusun Mangli di Desa Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, adalah rute para pendaki Gunung Sumbing yang terletak di wilayah Kabupaten Magelang, Wonosobo, dan Temanggung itu. Rumah-rumah warga dibangun di atas lahan yang mengikuti pola terasering lahan pertanian. Untuk mencapai Mangli Sky view, Puan menyusuri jalan menanjak yang membelah permukiman.

“Mbak Puan sangat jago tracking menyusuri lereng dan tanjakan menuju puncak Mangli Sky View,” ucap Ketua Pengelola Wisata Mangli, Pras Mangli.

Di sepanjang perjalanan, banyak warga yang menyapa Puan.

Meski mengenakan masker sebagai bentuk disiplin pada protokol kesehatan mencegah Covid-19, tapi warga masih mengenalinya. Cucu Bung Karno itu menghampiri warga sambil membagikan coklat kepada anak-anak yang ditemuinya.

“Orangnya ramah. Tadi beberapa kali mampir ke rumah warga yang menjadi sentra sayuran, dengarin keluhan-keluhan kami,” ujar seorang warga Mangli.

“Mbak Puan menikmati Teh Mangli yang dihasilkan dari area pertanian Mangli, lalu menikmati Jadah Tempe, dan Brokoli Krispi.

Mbak Puan juga mengobrol santai dengan beberapa warga setempat dan pengelola wisata,” timpal Pras Mangli, pengelola Mangli Sky View.

Perjalanan ideologis

Menyerap aspirasi warga menjadi tujuan utama Puan Maharani ke wilayah Magelang. Selain persoalan pariwisata, Puan ingin memotret langsung kehidupan ekonomi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

Salah satu warga yang ditemui adalah seorang penjual kupat tahu di Desa Kaliangkrik. Puan mendengar keluh kesah penjual kupat tahu tentang omzet dagangannya yang menurun.

“Biasanya sehari 300 porsi, sekarang paling 100 porsi. Itu pun hanya di akhir pekan,” ungkap penjual tahu, kepada Puan.

Menurut Puan, dari pengalaman penjual kupat tahu dan warga lain yang dia temui, dampak pandemi menyebabkan penurunan omzet ekonomi masyarakat sekitar 70 persen.

“Ini dampak yang sangat serius. Karena itu, DPR selalu meminta pemerintah  memperhatikan warga yang terdampak pandemi,” tutur Puan.

Dia berharap vaksinasi akan meredam laju penyebaran Covid-19 sehingga kehidupan sosial dan ekonomi warga kembali bergeliat.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah Bambang Wuryanto memaknai perjalanan Puan Maharani ke kabupaten Magelang sebagai wisata ideologis.

Bambang menuturkan, perjalanan Puan menyerap keluh kesah warga itu sesuai dengan nilai yang diajarkan Bung Karno.

“Ini sesuai petuah Bung karno yang bilang: letakkan telingamu di bumi agar engkau mendengar derap langkah rakyatmu dan merasakan tetes keringatnya yang membasahi bumi,” ujar Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPR RI ini.

(NK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 3 =