Home Hiburan Peringati Hari Batik dengan ‘Nyanting on The Street’  

Peringati Hari Batik dengan ‘Nyanting on The Street’  

25
0
Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi menyanting batik di jalanan depan Lawang Sewu Semarang.
            SEMARANG, 2/10 (Beritajateng.net) – Memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2017, masyarakat Semarang dilibatkan dengan sensasi pengalaman menyanting batik di pinggir jalan depan gedung Lawang Sewu, Minggu (1/10).
            Kegiatan berlabel ‘Nyanting on The Street’ diramaikan oleh puluhan model dari Exist Modelling, pengrajin batik, Putera-Puteri Batik Kampus, serta Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Semarang, Supriyadi.
               “Saya hadirkan langsung mencanting di jalan raya ini. Agar dunia tahu bahwa ini adalah hari batik, dan mengerti batik itu sangat perlu dikembangkan teurutama anak muda agar lebih mencintai,” kata Bayu Ramli, owner Exist Modelling.
               Batik menurutnya, sekarang milik semua masyarakat, peragaan fashion show batik sudah saatnya tidak lagi berada dalam gedung mewah atau dengan buaya mahal. Kreasi ini, kata Bayu, lebih mendekatkan batik ke masyarakat.
             “Batik milik masyarakat Indonesia, dengan melihat dan ikut mencanting, maka lebih tahu bagaimana proses seni membuat batik,” tambahnya.
Peringati Hari Batik dengan 'Nyanting on The Street'  
Peringati Hari Batik dengan ‘Nyanting on The Street’

Peragaan sore hari itu, para model dengan membawa kain putih dicanting oleh para pengrajin bahkan kain yang dikenakan model juga ikut dicanting selama peragaan berjalan.

             Sementara, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, mengaku bangga dengan kreatifitas anak muda Semarang mengenalkan ‘Nyanting on The Street’ ini. Kegiatan ini turut membudayakan batik sebagai pakaian yang bisa dikenakan warga setiap harinya.
              “Saya ucapkan Selamat Hari Batik se Indonesia, kegiatan ini agar warisan budaya ini bisa diwariskan menjadi kebanggan bersama, menggunakan batik sebagai pakaian keseharian,” katanya yang turut mencanting batik.
              Supriyadi berkeinginan semua warga Semarang bisa mengenakan batik kesehariannya. Inovasi baik model dan corak batik perlu dijaga agar tidak ketinggalan jaman dan tak kalah dengan busana moderen.
                  “Kolaborasi anak muda, pengrajin batik dan masyarakat ini tentu membantu tumbuh kembang batik, sehingga batik tidak menjadi pakaian elitis tapi bisa dikenakan semua orang,” pungkasnya. (El)