Home Ekbis Perekonomian Jateng Tidak Bergantung Eksploitasi Sumber Daya Alam

Perekonomian Jateng Tidak Bergantung Eksploitasi Sumber Daya Alam

79
0

SEMARANG, 31/7 (beritajateng.net) – Jawa Tengah, seperti provinsi di Jawa pada umumnya, struktur perekonomiannya tidak tergantung pada ekploitasi sumber daya alam (SDA). Sektor-sektor yang menghasilkan nilai tambah seperti manufaktur, jasa, perdagangan, pariwisata, dan keuangan lebih besar perannya.

Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said mengungkapkan hal itu dalam acara workshop bertajuk Masa Depan Baru Jateng di Semarang, Minggu (30/7).

Sudirman memaparkan, ketergantungan pada SDA memiliki dua risiko. Yakni,  pengaruh harga komoditas sangat rentan pada perekonomian, dan jebakan pada wilayah nyaman (comfort zone) karena mudahnya mengeksploitasi sumber daya alam.

“Perekonomian yang basisnnya sektor- sektor yang bernilai tambah tinggi lebih terbuka, lebih kompetitif, dan berpotensi lebih stabil,” terang Ketua Tim Sinkronisasi Program Anies-Sandi ini.

Menurut Sudirman, pengetahuan, ketrampilan, dan kapabilitas SDM masyarakat Jateng akan sangat menentukan seberapa besar kecepatan pertumbuhan ekonomi Jateng ke depan.

“Kreativitas dan daya saing SDM, daya tarik wilayah untuk investasi akan mementukan perjalanan Jateng ke depan,”  imbuh dia.

Lebih lanjut, Menteri ESDM periode 2014-2016 ini menyampaikan tiga hal yang harus manjadi agenda besar jateng ke depan dalam membangun ekonomi. Pertama, penguatan tata kelola pemerontahan dan birokrasi mendorong Praktik clean dan good governance.

Kedua, penguatan infrastuktur baik fisik maupun yang soft infrastruktur, seperti penegakan hukum, budaya kerja, dan situasi masyarakat. Dan ketiga adalah pengembangan kapasitas SDM agar memikiki daya saing global yang meliputi pengtahuan, keterampilan, sikap kerja, dan kreativitas.

Sudirman berpandangan, harus ada usaha serius untuk memperbanyak jumlah entrepreuner.  Lokomotif ekonomi harus diperbanyak.  Menyongsong era industri dan ekonomi kreatif yang akan menjadi andalan pertumbuhan.

“Lebih baik ekonomi kita bertumpu pada pemain pemain ukuran menengah dan kecil yag sehat dalam jumlah banyak, dari pada bertumpu pada sedikit saja pemain besar,” urainya.

“Di dalam perekonomian yang lebih terbuka perubahan akan cepat terjadi.  Dan fleksibilitas sangat diperlukan.  Pemain kelas menengah yang cenderung lebih adaptif akan sangat diperlukan,” imbuhnya lagi.

(NK)