Home Lintas Jateng Penyebab Konflik Golkar Tidak Substantif

Penyebab Konflik Golkar Tidak Substantif

329
foto/ist

 

Semarang, 19/12 (Beritajateng.net) – Analis politik Universitas Diponegoro Semarang Budi Setiyono menilai penyebab terjadinya konflik internal di tubuh Partai Golkar sebenarnya tidak terlalu substantif.

“Penyebab konfliknya hanya karena intrik antarelite didasari motivasi yang tidak terlalu substantif bagi Partai Golkar. Bukan pula disebabkan ambisi menjadi ketua umum,” katanya di Semarang, Jumat.

Penyebab konflik internal di Golkar, menurut penasihat politik tokoh oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi itu, persoalan posisi Golkar untuk tetap di Koalisi Merah Putih (KMP) atau keluar dari koalisi.

Bisa diartikan, kata pengajar FISIP Undip tersebut, kubu Agung Laksono menghendaki Golkar keluar dari KMP, sementara kubu Aburizal Bakrie menghendaki agar Golkar tetap berada di barisan KMP.

“Agung Laksono juga tidak berambisi jadi ketua umum Golkar. Sebab, Agung sebenarnya bersedia islah dengan kubu Ical, dengan syarat. Syaratnya, yakni Golkar keluar dari KMP,” tukasnya.

Dari rekam jejak politiknya, ia menilai sosok Agung Laksono bukan tipikal politikus “petarung” karena perjalanan politiknya memperlihatkan Agung sebagai sosok politikus yang flamboyan.

“Artinya, siapa pun ketua umumnya, sebenarnya kubu Agung tidak mempermasalahkan. Asalkan, Golkar keluar dari KMP. Ini bisa diartikan, mendisfungsi kekuatan KMP dengan keluarnya Golkar,” katanya.

Kecuali, kata dia, penyebab konflik Golkar adalah adanya disorientasi tujuan yang memengaruhi masa depan Golkar agar tidak sejaya sebagaimana partai berlambang pohon beringin itu di masa lalu.

“Makanya, kalau hal-hal sepele dan tidak substantif bagi masa depan Golkar seperti ini dijadikan masalah besar penyebab konflik, mungkin karena anasir-anasir di luar Partai Golkar,” katanya.

Bisa saja upaya-upaya pelemahan Golkar oleh pihak luar, ungkap Budi, makanya konflik internal yang sebenarnya disebabkan orientasi jangka pendek itu semestinya bisa Golkar diselesaikan dengan baik.

Sebagaimana diwartakan, ada dualisme kepengurusan Partai Golkar yakni hasil Partai Golkar hasil Munas Bali yang dipimpian Aburizal Bakrie serta Partai Golkar hasil Munas Jakarta yang dipimpin Agung Laksono.

Sejauh ini, kepengurusan Golkar versi Munas Bali dan Munas Jakarta tengah berupaya menjalin komunikasi guna mengakhiri perselisihan dualisme kepemimpinan di internal partai beringin.(ant/ss)