Home News Update Penuturan Mahasiswa Indonesia di Yaman Selamat Tiba di Tanah Air

Penuturan Mahasiswa Indonesia di Yaman Selamat Tiba di Tanah Air

Mahasiswa asal Kudus yang berhasil evakuasi dan kembali ke Indonesia

Mahasiswa asal Kudus yang berhasil evakuasi dan kembali ke Indonesia

Kudus, 16/4 (Beritajateng.net)-Sejak kembali ke kampung halamannya di Desa Kaliwungu RT 03/ RW 01, Kecamatan Kaliwungu Kudus, Senin (13/4) lalu, wajah Abdul Halim (27) tampak berseri. Bahkan, ketika beberapa awak media akan menemuinya, bungsu dari delapan bersaudara ini menyambutnya dengan tangan terbuka.

”Saya baru tiba di rumah awal pekan lalu (Senin, red) sekitar pukul sepuluh malam,” katanya mengawali perbincangan dengan Beritajateng.net Halim, demikian sapaannya, mengaku senang selamat tiba di Tanah Air dengan selamat.

Menurut penuturan mahasiswa semester delapan Universitas Jamiatul Ahqof di kota Tarim, Yaman  jurusan Syariah ini, negara tempatnya menuntut ilmu tersebut saat ini sedang terjadi konflik senjata.

”Saya sudah semester delapan, kalau lancer setahun lagi atau dua semester lagi studi S1 saya sudah selesai,” tuturnya.

Hanya saja, lanjut anak pasangan Sunarto dan Khayatun, sejak Al-Qaeda mengebom Kota Mukalah di Provinsi Hadra Maut atau sekitar 60 kilometer dari Kota Tarim dua bulan lalu, kehidupan di kota tempatnya menuntut ilmu ikutan kacau. Bahkan, sejak dua pecan lalu BBM mulai sulit didapatkan.

”Karena BBM sulit didapat, transportasi mulai terganggu dan hal itu berimbas ke sektor lain termasuk pasokan bahan makanan. Kondisi seperti itu banyak teman-teman disana yang menjual motornya dengan harga murah,” tambahnya.

Masih menurut Halim, sepengetahuannya Al-Qeada hanya ’penumpang’ gelap dalam perang antara rezim Abdul Robuh yang beraliran Wahabi, dengan pemberontak Houti dari kubu Syiah.
Sedangkan Al-Qaeda melakukan pengeboman di tempat strategis kemudian melakukan penjarahan.

”Al-Qaeda tidak membela keduanya, mereka punya misi sendiri untuk mendirikan khilafah,” tegasnya dengan mimik serius.  

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Yaman, katanya, suasana di negeri tersebut sudah memanas. Hanya saja, walau suasana panas disekitar Ibu Kota San’a namun tidak sampai menimbulkan konflik bersenjata.

Dan, sejak Al-Qaeda melakukan pengemoban di Mukalah, dia dan teman-temannya dari Indonesia diliputi rasa cemas mendalam. Saban hari, mereka dikagetkan suara ledakan senjata serta kekhawatiran konflik senjata merembet ke Kota Tarim.

”Saat ini di Tarim terdapat sekitar 30 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Dua mahasiswa diantaranya berasal dari Kudus, saya dan Abdul Muhid dari Bae,” imbuhnya.

Walau Yaman dalam kondisi panas, menurutnya beberapa mahasiswa ada yang ngotot bertahan di sana. Alasannya, mereka harus segera menyelesaikan studinya karena sudah menggarap skripsi yang sebulan atau dua bulan lagi akan lulus.

Untuk bisa keluar dari Yaman dengan selamat, menurut Halim saat sekaranglah waktu yang tepat. Pasalnya, saat ini sedang berlangsung gencatan senjata antara dua kelompok yang bertikai dan kesempatan tersebut dimanfaatkan warga asing terutama pelajar diungsikan keluar dari Yaman.

Dalam kondisi situasi politik dan keamanan serba tidak ada kepastian seperti itu, akses keluar dari Yaman hanya melalui pintu perbatasan dengan Oman. Akses keluar tersebut hanya satu-satunya yang dibuka oleh pemerintah Yaman dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan.

”Waktu keluar dari Yaman kami dijemput petugas Kementrian Luar Negeri didampingi anggota TNI dan Polri melalui perjalanan darat menuju Oman. Setelah menginap dua hari, rombongan kami yang berjumlah 190 orang diterbangkan ke Tanah Air menggunakan pesawat milik TNI,” tutur alumni Ponpes Al-Qudsiyah, Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kudus ini.

Karena situasi Yaman sedang tidak aman, Halim mengaku tidak bisa membawa pulang semua barang pribadi miliknya. Ketika meninggalkan Yaman, dia hanya diperbolehkan membawa sebuah koper berukuran sedang dan itu memaksa hanya membawa kitab-kitab tertentu dan meninggalkan sebagian besar lainnya.

”Saya berharap situasi keamanan di Yaman segera aman, sehingga saya dan teman-teman lainnya bisa segera menyelesaikan studi. Selama berada di Kudus, saya berencana mondok di Ponpes Yanbu yang ada di Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kudus,” pungkasnya. (BJ12)

Advertisements