Home News Update Penulis Beken Bernard Batubara Ajak Mahasiswa Unnes Biasakan Menulis

Penulis Beken Bernard Batubara Ajak Mahasiswa Unnes Biasakan Menulis

IMG_20151004_121049

Semarang, 4/10 (BeritaJateng.net) – Ling Art Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes) mempersembahkan Seminar Nasional 2015 dengan tema, “Aktualisasi Pemuda Melalui Goresan Pena” di Gedung C7 Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unnes, Minggu (4/10).

Seminar tersebut mengundang penulis beken Bernard Batubara (Indonesian Author 8th Book) dengan berbagai novel best seller, seperti Radio Galau FM, Surat untuk Ruth, Kata Hati dan yang teranyar ‘Jika Aku Milikmu’ keluar bulan Oktober 2015. Bahkan novelnya yang berjudul ‘Radio Galau FM’ sudah berekspansi ke dalam layar lebar.

Selain itu, Ling Art juga mengundang Makhmud Kuncahyo, penulis buku ‘Kuliah itu Gak Penting’. Presiden Mahasiswa BEM KM Unnes 2013 dan Gubernur FMIPA Unnes 2012 ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Forum Mahasiswa Malaysia-Indonesia, serta Delegasi Indonesia dalam IOSA ASEAN 2013 di Thailand.

Salah satu peserta seminar, Rizkia Wahyu mengatakan alasannya mengikuti seminar karena suka menulis. “Menulislah, karena ketika manusia mati ia hanya meninggalkan nama dan karya (tulisan),” ujarnya sebelum seminar dimulai.

Latifa Latif, peserta lain dalam seminar tersebut juga menambahkan bahwa menulis merupakan aktualisasi pemuda melalui goresan pena.

“Buka mata satukan hati dan pikiran dengan pena,” tuturnya usai foto di depan poster seminar.

Selain menjadi cendekia dengan kearifan, Bernard Batubara menjelaskan jika buku adalah sihir, dan kata-kata adalah mantra. Membaca buku tidak membuat penulis beken ini mudah menilai orang lain begitu saja.

“Ketika temen-temen tidak suka menulis, sebenarnya temen-temen sudah memenjarakan solusi besar,” terangnya saat di depan panggung.

Menulis adalah cara termudah dalam mengungkapkan ide atau pikiran. Dengan menulis ide akan abadi, karena nyata karyanya.

“Kalau sekedar kata-kata (oral), ide kamu akan hilang. Menulis adalah cara terbaik berdamai dengan kemarahan diri,” jelasnya.

Penulis beken yang mengagumi sosok Pramoedya Ananta Toer ini menceritakan jika motivasinya dalam menulis dengan cara mencatat hal apa saja.

“Mencatat apapun itu, catat! Ingat mantan ? Catat. Ide bisa datang dari mana saja,” ujarnya kepada peserta seminar yang saat itu bertanya pada sesi tanya jawab.

Dia juga menjelaskan bahwa kepekaan, empati, penting dimiliki oleh seorang penulis. Tidak penting menulis indah, yang terpenting adalah menulis yang perlu ditulis.

“Dreams, receiving an early vision of the future, empathy raising awareness of understanding other’s lives, and knowledge, exploring larger word. Jangan pernah berhenti menulis,” kata Bernard Batubara usai acara Seminar. (BJT01)