Home Ekbis Penjualan Apel Impor Alami Penurunan 50 Persen

Penjualan Apel Impor Alami Penurunan 50 Persen

Ilustrasi

Ilustrasi

Tulungagung, 31/1 (BeritaJateng.net) – Sejumlah pedagang di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu, mengeluhkan penurunan omzet penjualan apel impor hingga kisaran 50 persen, dampak pemberitaan tentang kandungan bakteri dalam buah tersebut.

Masifnya pemberitaan tentang bakteri dalam beberapa jenis buah apel impor mitu membuat para pedagang buah membatasi jumlah pasokan dari pedagang besar, ujar Nurwanti (39), salah seorang pedagang apel impor di Pasar Sore Tulungagung.

Penurunan mulai terasa, setelah adanya pengumuman resmi dari pemerintah tentang pelarangan perdagangan produk buah apel jenis Granny Smith dan Gala produksi Bidart Bros, Bakersfield, California, Amerika Serikat (AS).

Disebutkan bahwa kedua jenis apel, yang biasa dijual dengan merek Granny’s Best dan Big B, itu diduga terkontaminasi bakteri “Listeria monocytogenes”, yakni bakteri apel yang mematikan, Keluhan serupa disampaikan beberapa pedagang buah lain di lokasi yang sama, maupun di sekitar Pasar Ngunut.

“Trennya menurun akhir-akhir ini, kami tidak mau merugi banyak,” kata Sulis, pedagang buah lain di Pasar Ngunut.

Sebelum ada informasi terkait virus pada apel yang mematikan itu, papar Nurwanti, ia dan kebanyakan pedagang buah lainnya bisa menghabiskan empat kardus dalam dua hari.

Namun sejak isu apel berbakteri berbahaya, penjualan menurun drastis. Bisa menjual apel impor hingga satu kardus dalam sehari menurutnya sudah beruntung, ujarnya.

Mereka mengakui, selama ini belum ada sosialisai secara langsung dari dinas perdagangan setempat kepada para pedagang terkait apel impor yang mengandung bakteri berbahaya itu.

“Kami tidak menjual kedua jenis apel tersebut karena tidak disukai oleh masyarakat, karena rasanya asam,” terangnya.

Ketidaktahuan masyarakat terhadap jenis apel yang mengandung bakteri ini menyebabkan masyarakat memandang setiap jenis apel impor mengandung bakteri.

Nurwanti, Sulis, Asmadi maupun sejumlah pedagang lain berharap, pemerintah bisa segera menyosialisasikan adanya apel jenis Granny Smith dan Gala itu.

Menurut mereka, sosialisasi perlu dilakukan agar pedagang buah tidak mengalami kerugian karena apel impor mereka tidak laku dijual.

“Kalau tidak boleh menjual kami juga tidak akan menjualnya,” sahut yang lain.

Sementara itu, salah satu penggemar buah apel Budi Wardoyo mengaku lebih memilih beralih mengkonsumsi apel lokal.

Selain rasanya yang tak kalah dengan apel impor, langkah ini dapat membantu perekonomian petani apel lokal, yang mulai tergusur dengan apel impor.

“Kalau pemerintah memihak ke masyarakat seharusnya, apel impor tidak diperbolehkan masuk dan mengutamakan apel lokal,” ujarnya. (ant/BJ)