Home Lintas Jateng Pengusaha Ini Ingin Kembangkan Ikon Semarang Untuk Industri Kreatif

Pengusaha Ini Ingin Kembangkan Ikon Semarang Untuk Industri Kreatif

Sigit Ibnugroho Sarasprono
Sigit Ibnugroho Sarasprono
Sigit Ibnugroho Sarasprono

Semarang, 5/6 (BeritaJateng.net) – Pengusaha Sigit Ibnugroho Sarasprono menilai ikon Kota Semarang, seperti “Warak Ngendog” sudah selayaknya dikembangkan untuk menumbuhkan industri kreatif.

“Kota Semarang ini kan memiliki beberapa ikon yang sebenarnya bisa digali dan dikembangkan, seperti ‘Warak Ngendog’, Laksamana Cheng Ho, dan sebagainya,” katanya di Semarang, Jumat.

Selama ini, kata salah satu bakal calon wali kota Semarang dari koalisi Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN) itu, ikon-ikon yang identik dengan Kota Semarang masih kurang dikenal.

Tokoh muda Prabowo Centre itu mengatakan mungkin masih banyak yang masyarakat Kota Semarang yang tidak tahu asal-usul ‘Warak Ngendog’, yakni binatang imajiner perpaduan kambing dan naga.

“Saya sendiri terus terang untuk mengetahui asal usul ‘Warak Ngendog’ itu bagaimana? Kan sulit. Apalagi, masyarakat dari luar Semarang. Padahal, ini (ikon, red.) potensi yang besar,” katanya.

Sigit menceritakan saat dirinya berkunjung ke Guangzhou, Tiongkok, sebagai kota besar yang ternyata domba menjadi ikonnya yang divisualisasikan dalam bentuk suvenir, seperti gantungan kunci.

“Di sana (Guangzhou, red.), dimana-mana suvenirnya melambangkan domba. Semua gantungan kunci berbentuk domba. Meski kotanya sudah sangat modern, mereka tetap memegang simbol,” katanya.

Kalau Pemerintah Kota Semarang mau mengembangkan ikonnya secara kreatif, kata dia, Kota Atlas akan lebih dikenal luas oleh masyarakat, sekaligus menumbuhkan industri dan ekonomi kreatif.

Sigit juga mencontohkan Semarang Night Carnival (SNC) yang menjadi even tahunan Kota Semarang, namun semestinya jangan mencontoh even serupa yang ada di Solo, yakni Solo Batik Carnival (SBC).

“Solo punya SBC, ya, mereka kan terkenal batiknya. Jangan mencontoh Solo. Kalau Semarang mau bikin, libatkan semua seniman dengan konsep sendiri yang menonjolkan budaya Semarang,” katanya.

Yang jelas, ia mengatakan setiap kota atau daerah harus memiliki identitas, utamanya unsur kebudayaan yang membedakan dengan kota-kota lainnya jika pemerintah peduli dengan kebudayaan lokal.

Sebelumnya, Sigit juga menyempatkan menonton pergelaran wayang kulit di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Kamis (4/6) malam, sekaligus berdialog dengan sejumlah tokoh budaya.

Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Mulyo Hadi Purnomo mengakui pentingnya mengembangkan ikon Kota Semarang, salah satunya “Warak Ngendog” sebagai suvenir yang bisa menumbukan ekonomi kreatif.

“Saya sudah pernah bicara seperti itu. Semarang ini kan punya ‘Warak Ngendog’ sebagai ikon khas. Semestinya, potensi ini perlu lebih dieksplorasi,” kata pengajar Universitas Diponegoro Semarang itu. (Bj05)