Home Headline Penderita HIV Aids di Kota Semarang Tertinggi se Jawa Tengah

Penderita HIV Aids di Kota Semarang Tertinggi se Jawa Tengah

1152
Ilustrasi
      SEMARANG, 23/11 (BeritaJateng.net) – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, merasa prihatin dengan tingginya kasus peredaran penyakit HIV Aids di Kota Semarang. Dari datanya, Kota Semarang menempati urutan pertama daerah dengan penderita HIV Aids terbanyak di Jawa Tengah yaitu 1.940 orang penderita.
       Dengan jumlah tersebut, menurutnya, penderita HIV Aids di Kota Semarang perlu penanganan serius. Diperlukan keberanian dari para penderia untuk melakukan pemeriksaaan dan melaporkan jika dirinya terkena penyakit berbahaya tersebut. Dengan begitu, maka Pemkot Semarang dapat melakukan upaya untuk menutup ruang gerak peredarannya.
       “Yang tidak kalah penting adalah pencegahan peredaran penyakit itu. Makanya saya meminta kepada setiap orang tua di Kota Semarang untuk memperkuat akhlak anak-anaknya. Harus diberi pemahaman agama yang kuat. Mereka harus tahu mana yang boleh dan tidak boleh dikerjakan,” kata Hendi, sapaannya, saat menghadiri Kampanye Kilau Generasi Bebas HIV dan AIDS di Taman Budaya Raden Saleh.
       Hendi memaparkan, penanganan penyakit HIV Aids tidak hanya pada orang penderita saja tapi juga perlu proteksi pada lingkungan sekitar. Penanganan yang harus dilakukan tentunya menyeluruh. Sehingga dengan diketahuinya keberadaan penderita karena berani melapor maka tindakan yang akan diambil juga semakin terarah.
        “Orang yang menderita HIV Aids harus tercatat sehingga bisa tahu penanganan seperti apa dan diobati apa. Kemudian dia dikasih aktivitas apa dan jangan sampai dikucilkan. Itu penting. Kemudian, penderita jangan sampai bebas melakukan aktivitas seksual. Itu bahaya juga,” jelasnya.
        Di samping itu, upaya pencegahan peredaran penyakit HIV Aids pada generasi muda juga harus dilakukan sejak sekarang. Hendi mengatakan, generasi muda merupakan generasi penerus sekaligus generasi pemimpin bangsa. Sehingga mereka perlu dilindungi dengan diberi pemahaman terkait bahaya, peredaran dan pencegahan penyakit itu.
       “Mereka harus tahu perilaku seks menyimpang itu potensinya besar terkena HIV Aids, jarum suntik narkoba, dan lainnya. Dengan tahu hal itu, diharapkan generasi muda tidak melakukan hal-hal yang mencelakai dirinya,” harapnya.
       Diakuinya, tingginya kasus HIV Aids di Kota Semarang disebabkan satu di antaranya keberadaan lokalisasi Sunan Kuning atau Resosialisasi Argorejo. Hanya saja, menurutnya, persoalan di kawasan tersebut sangat fundamental tidak hanya menjadi sumber peredaran penyakit tersebut. Akan tetapi juga sumber masalah lain di antaranya perkelahian dan pembunuhan.
        “Namun saya rasa sesuai program Kementerian Sosial maka Sunan Kuning pada 2019 harus kita hapus,” tegasnya. (El)