Home Kesehatan Penderita Gangguan Jiwa Jangan Lagi Dipasung

Penderita Gangguan Jiwa Jangan Lagi Dipasung

797
dr Charles E Damping, SpKj, dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran jiwa Indonesia (PDSKJI).

Sukoharjo, 8/4 (BeritaJateng.net) – Maraknya kasus pemasungan yang terjadi dilarang Indonesia bisa dipicu oleh banyak faktor. Salah satu diantaranya bahwa sebagian masyarakat banyak yang masih beranggapan malu memiliki anggota keluarga penderita gangguan jiwa.

Hal tersebut diungkapkan dr. Charles E Damping, SpKj, dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran jiwa Indonesia (PDSKJI), jika  selama ini kasus pemasungan menyebar rata di seluruh wilayah Indonesia.

“Pemasungan terjadi bukan hanya di pedesaan namun juga terjadi di perkotaan”, jelasnya kepada BeritaJateng.net di Sukoharjo Jawa Tengah, Kamis (7/4/2016) kemarin.

Saat ini pemasungan bagi penderita gangguan jiwa banyak dipicu karena faktor kepercayaan dan tradisi masyarakat. Pemasungan sendiri saat ini bukan hanya di pasung kakinya dengan kayu atau di rantai. Namun juga dengan menempatkan penderita gangguan jiwa di kamar tertutup dikunci dan tidak boleh keluar

Charles menyebutkan satu contoh kasus pemasungan yang dilatarbelakangi oleh tradisi dan kepercayaan masyarakat di daerah. Mereka percaya pasien gangguan jiwa akan tenang jika kakinya di pasung dan dirantai. Pasalnya dalam rantai tersebut sudah diisi semacam ” mantra” yang bisa membuat mereka temang.

“Budaya seperti itulah salah hambatan program Indonesia benas pasunh yang dicanangkan pemerintah,” terangnya.

Senada dengan Charles, Ketua  PDSKJI Solo, dr Budi Mulyanto juga menyebutkan,  meski pemerintah sudah mencanangkan bebas pasung namun kenyataannya di beberapa daerah, khususnya Solo raya masih banyak ditemukan pasien gangguan jiwa yang hidup dalam pasungan.

“Program Indonesia bebas pasung masih jauh panggang dari api. Khusus Soloraya sendiri masih banyak kasus pemasungan yang terjadi,” papar dr. Budi.

Alasan keluarga penderita gangguan jiwa yang melakukana pemasungan selai di picu karena rasa malu, juga untuk mengamankan penderita yang biasanya sering kambuh dan berpotensi membahayakan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Asosiasi Psikogeriatri Indonesia (API) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran jiwa Indonesia (PDSKJI), terus mensosialisasikan penderita gangguan jiwa bisa sembuh dan kembali seperti semula melalui  pendekatan secara psikologis dan  pengobatan secara intensif.

Budi juga menghimbau kepada masyarakat untuk melaporkan pada Rumah Sakit Jiwa (RSJ) jika mendengar atau juga melihat ada penderita gangguan jiwa yang di pasung.

“Kita sosialisasikan melalui pendekatan dan pemahaman pasung tidak akan menjadikan penderita gangguan jiwa sembuh. Bawa ke RSJ, dengan penanganan yang tepat pasien bisa segera sembuh,” pesan Budi. (Bj24).