Home Headline Pencarian Korban Dihentikan Sementara, 86 Jenazah Ditemukan

Pencarian Korban Dihentikan Sementara, 86 Jenazah Ditemukan

image

Semarang, 18/12 (Beritajateng.net) – Pencarian korban longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara pada Kamis (18/12) berhasil menemukan tiga jenazah. Sehingga total korban yang berhasil dievakuasi hingga kini sebanyak 86 jenazah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan masih ada 22 korban yang dicari. Sementara itu pada hari ini operasi dihentikan sejak pukul  13.00 WIB dikarenakan hujan lebat di lokasi. Pencarian akan dilanjutkan besok pagi.

Terkait dengan ruas jalan Banjarnegara-Pekalongan saat ini telah berhasil dibuka namun akses belum terbuka untuk umum hingga proses pembersihan jalan selesai dan dianggap cukup aman untuk dilalui. 15 alat berat dikerahkan untuk pembersihan. Mobil-mobil tangki air digunakan untuk menyemprot jalan.

Pelayanan pengungsi dilakukan di 10 titik pengungsian dengan jumlah total pengungsi 1.397 jiwa.

Sedangkan di Dusun Pencil, Desa Karang Tengah, Kecamatan Wanayasa diketahui ada gerakan tanah sejak tanggal 6 Desember 2014 yang mengakibatkan hancurnya 3 rumah dan mengancam 36 rumah lainnya. Pelayanan pengungsi untuk wilayah ini dilakukan di Dusun Gunung Putih dengan jumlah 197 jiwa dengan rincian dari dusun Pencil 125 jiwa dan dusun Wadas Sinatar 72 jiwa.

Selain di dusun tersebut, gerakan tanah juga terjadi di dusun Slimpet Desa Telaga Kecamatan Punggelan. Gerakan tanah sejak 16 Des 2014 itu mengancam 557 jiwa. “Sebagai langkah antisipasi para penduduk diungsikan di SDN 03 Telaga dan telah dilakukan pelayanan kebutuhan dasar pengungsi,”ujar Sutopo.

Ia mengatakan sulitnya medan dan akses ke lokasi yg hanya bisa dilalui satu mobil merupakan kendala utama yang dihadapi tim.

Pada malam ini, digelar rapat koordinasi di BPBD DI Yogyakarta untuk membahas sistem peringatan dini longsor. Rapat akan dipimpin Kepala BNPB dan dihadiri Badan Geologi, UGM, Lipi, BPPT, Lapan, dan komunitas iptek. Saat ini, UGM memiliki 5 unit alat yang siap dipasang, sedangkan kebutuhan lain akan diproduksi nanti. Aspek sosial budaya menjadi yang paling menentukan dalam keberlanjutan sistemnya.(BJ)