Home Headline Pemprov Jateng Harus Serius Perhatikan Sektor Hortikultura dan Peternakan

Pemprov Jateng Harus Serius Perhatikan Sektor Hortikultura dan Peternakan

713
Tanaman Cabai Rawit: Illustrasi

SEMARANG, 30/1 (Beritajateng.net) – Dari data Statistik yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah yang dirilis pada bulan Januari 2019 menunjukkan bahwa angka Nilai Tukar Petani (NTP) di provinsi yang mayoritas penduduknya menjadi petani ini cukup menggembirakan. Yakni berada di angka 103,64. Angka tersebut cukup tinggi melebihi angka nasional yakni sebesar 103,16.

Dibandingkan dengan angka yang diperoleh provinsi tetangga sesama Pulau Jawa, NTP di Jateng berada di peringkat ke tiga setelah Jawa Barat sebesar 110,90 dan Jawa Timur sebesar 108,61. Namun demikian beberapa provinsi lain tercatat berada di bawah Jateng seperti Yoyakarta 101,26, Banten 100,52, dan DKI 100,44.

“Atas capaian tersebut, tentu kita bersama harus memberikan apresiasi yang setinggi tingginya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang telah melaksanakan program pemberdayaan petani dengan tepat,” ungkap Ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah Chamim Irfani di Gedung Berlian, Rabu (16/1).

Nilai tukar petani (NTP) berdasarkan kamus Wikipedia adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase. Nilai tukar petani ini merupakan salah satu indikator dalam menentukan tingkat kesejahteraan petani.

“Angka 100 merupakan angka minimal capaian yang harus diperoleh petani. Dengan NTP sebesar 100 memiliki arti, antara pendapatan dengan modal yang dikeluarkan petani adalah sama. Ini berarti petani impas, tidak untung dan tidak rugi. Kalau petani untung, maka NTPnya harus diatas 100,” jelasnya.

Keberhasilan bidang pertanian yang NTPnya diatas 100 sayangnya tidak diikuti Sektor Hortikultura yang indeksnya sebesar 99,70 dan sektor peternakan sebesar 99,62. Petani di dua sektor tersebut bisa diartikan mengalami kerugian sepanjang tahun 2018. Jumlah modal kerja yang mereka keluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.

“Muncul pertanyaan, apa yang terjadi pada sektor tersebut sehingga petani mengalami kerugian,” katanya.

Plitisi PKB ini menjelaskan, salah satu jenis tanaman Hortikulturan yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun sangat rawan rusak adalah Cabai. Komoditas Cabai segar yang dipetik dari kebun kebun milik petani hanya memiliki umur sekitar 3-4 hari. Selebihnya dari rentang waktu tersebut kalau tidak dilakukan rekayasa teknologi pasti akan membusuk. Padahal ketika terjadi panen besar besaran jumlah cabai yang ada di pasaran akan melebihi kebutuhan masyarakat. Bisa dipastikan cabai cabai di petani tidak akan terserap semua di pasaran.

Kebijakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo cukup responsif mengatasi persoalan melimpahnya cabai hasil panen petani beberapa waktu yang lalu. Kebijakan tersebut adalah menghimbau kepada seluruh aparat sipil negara (ASN) di lingkungan Pemprov Jateng untuk membeli cabai dalam jumlah sedikit melebihi kebutuhan. Maka cabai cabai di petani bisa terserap pada waktu singkat.

“Kebijakan tersebut menurut saya sudah bagus namun belum cukup. Hal ini lebih sebagai solusi jangka pendek. Oleh karena itu dibutuhkan solusi jangka panjang yang bisa mengatasi persoalan tersebut,” bebernya.

Salah satunya, beber Chamim, adalah menggunakan mesin pengawet yang saat ini mulai diproduksi oleh beberapa perusahaan. Dengan mesin pengawet yang memiliki kapasitas besar, maka akan banyak menampung cabai hasil panen petani terlebih pada masa panen raya sehingga petani akan diminimalisir kerugiannya.
Langkah ini sudah dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Cahaya Purnama pada masa dia menjabat. (Detik.com (22/5/2017). Mesih berkapasitas besar ditempatkan pada sentra pasar hortikultura oleh PD Pasar Jaya yang kemudian digunakan untuk mengawetkan Cabai dan Bawang.

Mesin penyimpan atau yang dikenal dengan nama CAS (Controlled Atmosphere Storage ini mampu mengawetkan komoditas tersebutselama 6 bulan dalam suhu rata rata 7 derajat celcius. Selain mengatur suhu, dengan mesin tersebut juga diatur unsur unsur lain seperti kadar oksigen dan kadar karbondioksida sehingga sesuai dengan kebutuhan pengawetan hortikultura.

“Harga satu unit mesin ini memang tidak murah mencapaai 1,5 milyard rupiah, namun dengan APBD kita yang berjumlah sekitar 26 triliun rupiah, harga satu unit mesin CAS akan terasa murah apalagi kalau dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dalam melindungi stabilitas harga cabai dan bawang di Jawa Tengah,” jelasnya.

Kalau harganya stabil, maka masyarakat akan senang karena kebutuhan nya tersedia dan harganya tidak melonjak mahal terutama pada masa tanam cabai. Disisi lain petani Cabai akan tersenyum karena terhindar dari kerugian akibat cabainya busuk.

(NK)