Home Headline Pemprov Jateng Dinilai Tidak Serius Kelola Perkebunan

Pemprov Jateng Dinilai Tidak Serius Kelola Perkebunan

393
0

SEMARANG, 9/5 (Beritajateng.net) – Pemprov Jawa Tengah dalam hal ini Dinas Perkebunan dinilai tidak serius mengelola aset berupa perkebunan yang tersebar di pelosok Jawa Tengah. Kebun yang dikelola oleh Satker Kebun Benih maupun Kebun Dinas rata rata kondisinya memprihatinkan dan tidak dikelola dengan baik.

Komisi C DPRD Jawa Tengah dalam rangkaian kunjungan kerja di beberapa kebun benih maupun kebun dinas menemukan, kebun kebun tersebut dikelola ala kadarnya tanpa dukungan sumber daya manusia (SDM) yang memadai dan pendanaan yang jauh dari mencukupi.

“Tidak jauh berbeda dengan kebun yang lain, Kebun Benih Hortikultura seluas 41 hektar di Rawabelang ini juga tidak diperhatikan oleh dinas yang menaunginya,” ungkap Mustholih dalam kunjungan kerjanya di Kebun Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Rawabelang Kabupaten Batang, Rabu (9/5).

Kebun Benih seluas 41 hektar tersebut hanya dikelola oleh 3 orang Aparat Sipil Negara (ASN) yang masing masing hanya berpendidikan SLTA dan SLTP tanpa seorangpun tenaga ahli yang berkompeten. Disamping itu Kebun ini juga tidak didukung anggaran yang memadai untuk mendukung produksi penanaman komoditas guna memperoleh pendapatan asli daerah (PAD) sesuai target yang dibebankan.

“Masa anggaran pengelolaan kebun seluas 41 hektar hanya disediakan Rp. 34 juta pertahun. Mana bisa dengan anggaran segitu dituntut menghasilkan PAD tinggi,” katanya.

Sesuai dengan tupoksinya, jelas Mustholih, Kebun Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Rawabelang memiliki tugas pokok memproduksi benih tanaman hortikultura secara terarah dan kontinyu serta memberikan informasi perbenihan tanaman hortikultura kepada masyarakat.

“Tugas pokok kebun benih ini tidak dilaksanakan, disini hanya penanaman buah saja untuk kejar PAD,” bebernya.

Pada kesempatan tersebut, Mustholih juga menyoroti jenis komoditas yang ditanam di Kebun Rawabelang. Komoditas buah buahan yang ditanam di Rawabelang adalah Rambutan, Srikaya, Mangga serta Jambu. Komoditas tersebut dinilai Mustholih tidak memiliki nilai jual tinggi sehingga sulit mendapatkan hasil yang signifikan.

“Kebun Pemprov koq komoditas yang ditanam Rambutan, Rambutan nilai jualnya kecil apa tidak terpikir menanam tanaman yang memiliki nilai jual tinggi. Ini sama saja dengan kebun rakyat,” bebernya.

Senada dengan Mustholih, Anggota Komisi C DPRD Jateng dari Fraksi Gerindra Mifta Reza mengatakan, sepertinya penanaman komoditas buah yang ditanam di kebun ini tidak melalui penelitian dan perencanaan yang baik. Terbukti beberapa komoditas yang dinilai tidak cocok ditanam justru dikembangkan di Rawabelang.

“Tanaman Jambu Citra kan bisa hidup dengan baik kalau ditanam di tanah yang airnya banyak. Sepertinya tidak cocok ditanam disini,” kata Reza.

Menurut Reza, sangat disayangkan kebun seluas 41 hektar hanya ditanam dengan komoditas yang tidak menghasilkan pendapatan yang signifikan. Kalau melihat luasnya lahan yang dimiliki harusnya bisa mendapatkan hasil beberapa kali lipat dari yang selama ini diperoleh.

Kepala Kebun Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Rawabelang Kabupaten Batang Kadro’i mengatakan, kebun benih yang ia pimpin tidak berada dalam satu tempat tetapi terpencar ke dalam beberapa tempat yang berbatasan langsung dengan rumah penduduk. Kondisi ini mengakibatkan keamanan komoditas yang ditanam sangat rawan dari pencurian.

“Banyak sekali pencurian di kebun kami karena sangat terbuka berada satu lokasi dengan perkampungan,” katanya.

Kadro’i menjelaskan, dengan anggaran yang diterima dalam satu tahun sebesar Rp. 34 juta, seluruh proses produksi harus bisa dicukupi. Untuk proses produksi pada kebun seluas 41 hektar anggaran tersebut dinilai tidak mencukupi. Padahal dia beserta jajarannya dituntut menghasilkan PAD sebesar Rp. 60 juta pada tahun 2017. Dengan kondisi tersebut hanya bisa dipenuhi dengan setoran PAD sebesar Rp. 41,6 juta.

“Kendala yang kami hadapi adalah lahan tidak menyatu sehingga banyak pencurian, kebun bersifat tadah hujan padahal di lokasi kebun Rawabelang sangat jarang terjadi hujan, tidak ada saluran air irigasi, SDM Cuma punya 3 orang ASN dan tidak memiliki gudang,” pungkasnya.

(NK)