Home Headline Pemkot Semarang Resmikan Rumah Duta Revolusi Mental

Pemkot Semarang Resmikan Rumah Duta Revolusi Mental

23
0
Pemkot Semarang Resmikan Rumah Duta Revolusi Mental

Semarang, 16/9 (BeritaJateng.net) – Kota Semarang kini memiliki Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) yang menjadi tempat pelayanan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk “bullying”.

“Rumah ini (RDRM) istilahnya menjadi tempat `curhat`-nya warga Semarang. Kerahasiaannya terjamin, tidak perlu khawatir,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi usai meresmikan RDRM di Semarang.

Buktinya, kata Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, baru di “soft launching” sudah ada 34 laporan aduan yang masuk ke RDRM yang mengeluhkan berbagai persoalan, termasuk kalangan pegawai negeri sipil (PNS).

Ada yang mengeluhkan persoalan keluarga   hingga permasalahan dengan pimpinannya di tempat kerja, lanjut dia, sehingga disiapkan tim psikolog dan bantuan hukum di RDRM jika ada yang mengalami kasus kekerasan.

“Fasilitas yang tersedia, tim psikolog, ruang konseling, ruang bermain bagi anak-anak, hingga advokat atau pendamping hukum. Jika ada yang memerlukan bantuan hukum bisa memberikan berbagai masukan,” katanya.

Yang terpenting, kata dia, keberadaan RDRM bukan hanya untuk penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, melainkan terus dikembangkan untuk upaya pencegahan agar jangan sampai terjadi kekerasan.

“Prinsipnya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Jadi, selain sebagai tempat pelayanan bagi korban kekerasan, nanti juga mengupayakan pencegahan kekerasan,” kata politikus PDI Perjuangan tersebut.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menambahkan RDRM berada di bawah pengelolaan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Semarang untuk penanganan dan pencegahan kekerasan.

“Kan banyak korban kekerasan dari kaum perempuan dan anak-anak, termasuk `bullying`. Nanti, di-`handle` juga Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Seruni yang akan mendampingi korban kekerasan,” katanya.

Perempuan yang akrab disapa Ita itu menjelaskan berbagai program disiapkan untuk mengoptimalkan peran RDRM dengan banyak fasilitas yang ada, mulai pemulihan untuk korban kekerasan hingga sejumlah pelatihan.

“Kan ada juga ruang bermain bagi anak-anak. Bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan yang mungkin malu datang langsung, bisa menghubungi layanan RDRM untuk dijemput mobil keliling di rumahnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala BKKBN Dr Surya Chandra Surapaty mengatakan tantangan kependudukan yang dihadapi masih berat seiring dengan bonus demografi, terutama pengendalian kuantitas dan peningkatan kualitas SDM.

“Kalau tidak ditangani bisa menimbulkan bencana kependudukan, seperti makin meningkatnya kekerasan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tingginya angka kriminalitas, dan maraknya `bullying`,” katanya.

Keberadaan RDRM di Semarang itu, kata dia, merupakan yang pertama kali di Indonesia yang juga berfungsi sebagai pusat informasi konseling remaja berbasis masyarakat, terkait kesehatan reproduksi.

“Ya, memang amanah dari Inpres tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental. Revolusi mental perlu untuk membentuk karakter manusia yang sekarang ini terkesan tidak mementingkan proses dialog lagi,” pungkasnya. (El)