Home Kesehatan Pemkot Semarang Gratiskan Biaya Berobat Ibu Eko Bocah Penjual Makaroni

Pemkot Semarang Gratiskan Biaya Berobat Ibu Eko Bocah Penjual Makaroni

Semarang, 11/2 (BeritaJateng.net) – Beredarnya berita seorang bocah penjual makaroni asal kota Semarang demi membiayai pengobatan penyakit ibunya yang sempat menggemparkan netizen mendapat respon positif dari pemerintah kota Semarang. Sore ini Kamis (11/2) Penjabat Walikota Semarang Tavip Supriyanto beserta Dinas Kesehatan mendatangi kediaman Eko di Telogo Pancing I, Pedurungan, Semarang untuk melihat langsung kondisi kesehatan Ibu Eko, Dewi Purwanti.

“Setelah kita dapat informasi bahwa ada warga kota Semarang yang memerlukan bantuan, segera dari dinas terkait datang dan melakukan identifikasi,” ujar Pj Walikota Semarang Tavip Supriyanto.

Pemerintah kota (Pemkot) Semarang, lanjutnya, langsung merespon dan menunjukkan kepedulian dengan memberi bantuan pengobatan melalui Jamkesmaskot. “Besok pagi akan kita bawa ke RSUD Kota Semarang. Tidak perlu khawatir, untuk masalah biaya Pemkot Semarang yang akan menanggung,” imbuhnya.

Tak hanya bantuan pengobatan, Pemkot Semarang juga memberi bantuan untuk biaya pendidikan serta bantuan modal bagi Dewi untuk mengembangkan usahanya. “Tadi sudah dilengkapi surat-surat persyaratan Jamkesmaskot. Tinggal besok akan diambil tindakan,” lanjutnya.

Sementara itu, Dewi Purwanti, ibunda Eko mengungkapkan kegembiraannya mendapat bantuan dari Pemkot Semarang. “Terimakasih sudah membantu, sampai walikota datang kesini. Saya berterimakasih dan sangat bersyukur,” ujar Dewi sembari menitihkan air mata.

Seperti yang diwartakan sebelumnya, Prasetyo seorang anak kelas 2 SD di Kota Semarang menjadi sorotan pengguna media sosial akhir-akhir ini, pasalnya bocah berusia 9 tahun ini  setiap hari harus berjuang berjualan makaroni goreng demi mengobati ibunya Dewi (30 tahun) yang sudah tidak sanggup berjualan keliling, karena Dewi menderita penyakit batu ginjal.

Setiap hari Eko mengayuh sepeda mininya untuk berkeliling kampung di wilayah Pedurungan, Semarang dengan ditemani sebuah kardus bertengger di bagian depan yang isinya makaroni goreng siap santap.

Saking terenyuhnya, sepeda mini yang ia pakai pun bukanlah milik dia sendiri akan tetapi pemberian salah satu pelanggannya yang mungkin merasa iba.

Saat ini Dewi hanya bisa beraktivitas di sekitar kamar kos berukuran 3 x 3 meter dengan ditemani anak bungsunya yang baru berusia 2 tahun.

Berjualan makaroni goreng adalah satu-satunya harapan untuk menyambung ketiga ibu dan anak tersebut, sejak Dewi tidak kuat berjualan karena divonis penyakit batu ginjal itu. (Bj05)