Home Kesehatan Pemkab Purbalingga Akan Koreksi Kebijakan yang Belum Ramah Difabel

Pemkab Purbalingga Akan Koreksi Kebijakan yang Belum Ramah Difabel

35
0
Kegiatan silahturahmi penyandang difabel dengan Bupati Tasdi dan wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi.
          Purbalingga, 11/4 (BeritaJateng.net) –  Bupati Purbalingga Tasdi, SH, MM mengungkapkan jumlah penyandang difabel di Purbalingga mencapai 7.893 orang. Penyandang difabel ini merupakan warga negara yang juga memiliki hak untuk mendapat pelayanan yang sama dengan warga negara lain. Pemkab berjanji akan melakukan koreksi atas kebijakan yang belum ramah terhadap kaum difabel.
            “Penyandang difabel di Purbalingga masih lumayan tinggi. Meski mereka memiliki kekurangan, tetapi sejatinya mereka memiliki potensi yang patut dibanggakan seperti layaknya warga negara lain. Agar kreatifitas mereka tetap bisa berkembang, Pemkab akan terus mendorong dan mengoreksi agenda kebijakan yang belum ramah terhadap difabel,” kata Bupati Tasdi dalam acara silahturahmi dengan penyandang disabilitas di Pendopo Dipokusumo, Selasa (11/4).
            Dikatakan Bupati, dalam lima agenda yang diterapkan dirinya bersama wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, pada agenda terakhir adalah agenda sosial. Agenda ini mengajak kepada semua pejabat, kalangan anggota DPRD agar lebih peka terhadap kehidupan sosial. “Dengan agenda itu, pejabat, kalangan anggota DPRD, dan semua jajaran Organisasi Perangkat  Daerah (OPD) dimohon lebih peka terhadap keadaan sosial masyarakat disekitar kita, termasuk  para penyandang difabel. Wujud kepekaan itu harus diwujudkan dengan kebijakan yang diambil yang harus memperhatikan kaum difabel. Yang belum baik dikoreksi, yang belum memiliki makna, dikoreksi lagi agar kebijakannya menyentuh penyandang difabel,” kata Tasdi.
           Bupati mengungkapkan, selama dirinya memimpin bersama wakil Bupati merasa belum berbuat banyak kepada masyarakat termasuk kaum difabel. Hidup itu, kata Bupati, seperti halnya lembaran buku, ada pengantar, ada bab I, dan hingga ada bab penutup. Ada kelahiran, tumbuh sebagai anak, remaja, dan akhirnya ada kematian. “Sebelum kita mati, tentunya kita harus berbuat baik dan melakukan silahturahmi kepada semua orang, termasuk kepada kaum difabel. Saya mohon maaf jika sampai saat ini belum bisa berbuat banyak untuk kaum difabel. Mohon saya diberi kesempatan,” kata Tasdi.
           Dalam kesempatan itu, Bupati mengapresiasi atas kreativitas para penyandang difabel yang membuat aneka kerajinan sulaman. Bupati dan wakil bupati bahkan sempat memborong sejumlah hasil kerajinan para penyandang difabel itu. “Saya sangat mengapresiasi atas kreativitas penyandang difabel di Purbalingga. Mereka ternyata mampu berkarya, bahkan diantara para penyandang difabel juga ada yang mampu kuliah di Fakultas Hukum,” kata Bupati Tasdi.
             Sementara itu, Ketua Yayasan Pilar Purbalingga, Sri Wahyuni selaku penyelenggara kegiatan mengungkapkan, kegiatan silahturahmi merupakan ajang untuk menunjukkan kreativitas para penyandang disabilitas dan sekaligus untuk menggali apa sebenarnya keinginan para kaum difabel atas kebijakan yang diambil oleh Pemkab. Yayasan Pilar mencoba merangkul semua penyandang difabel agar bisa bersatu dan bangkit, berkreasi agar lebih berguna bagi masyarakat.
         “Kami berupaya melakukan pendampingan, memberikan pelatihan, dan pemberdayaan agar penyandang disabiltas dapat hidup mandiri. Paling tidak dengan pendampingan itu,  harkat dan martabat mereka bisa sama dengan warga masyarakat lain,” kata Sri Wahyuni. (yit/El)