Home Lintas Jateng Pemindahan Terminal Terboyo ke Penggaron Penuh Pro Kontra 

Pemindahan Terminal Terboyo ke Penggaron Penuh Pro Kontra 

1008
0
***Sarpras Belum Memadai, Uji Beban Jalan belum Dilakukan
              SEMARANG, 21/11 (BeritaJateng.net) – Ternyata rencana pemindahan bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dari Terminal Terboyo ke Terminal Penggaron masih terjadi pro-kontra. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang merencanakan pemindahan pada 1 Desember mendatang. Sedangkan Dishub Provinsi Jateng menyatakan belum menentukan waktu terkait rencana pemindahan bus AKDP tersebut.
            Kondisi saat ini, sarana dan prasarana (Sarpras) yang dibutuhkan di Terminal Penggaron belum siap untuk dioperasionalkan dalam waktu dekat. Selain Sarpras belum siap, rencana pemindahan bus AKDP tersebut belum dilakukan penghitungan beban jalan, kesesuaian jarak tempuh, potensi kemacetan, maupun dampak pemindahan.
            “Arealnya sebenarnya sudah siap, sudah kami petak-petak semua. Hanya saja mengenai sarana prasarana seperti rambu-rambu, petunjuk keberangkatan, petunjuk masuk, pos petugas, semua belum ada. Rapat terakhir saja masih tarik ulur mengenai rute,” kata Kepala Terminal Penggaron, Ari Hariyadi.
            Dikatakannya, saat ini masih menunggu pembenahan sarana dan prasarana. Pihaknya juga masih menunggu keputusan dari Dinas Perhubungan Provinsi Jateng. “Kami sebagai pelaksana untuk rencana pengalihan bus AKDP dari Terminal Terboyo ke Terminal Penggaron ini. Perlu pembenahan secara bertahap. Misalnya rambu-rambu, papan petunjuk, papan pemberangkatan belum terpasang. Rencananya, pemindahan diberlakukan untuk bus AKDP dari Demak, Kudus dan Jepara,” katanya.
           Rencana sementara, rute bus AKDP dari arah Demak, Kudus dan Jepara, masuk Jalan Tol Kaligawe, kemudian keluar di Tol Gayamsari baru kemudian menuju Terminal Penggaron. “SK (surat keputusan) Wali Kota Semarang seperti itu. Namun SK Wali Kota itu ternyata dinilai memberatkan, karena jaraknya bertambah jauh, menambah jam pengeluaran armada, dan lain-lain. Dari Kasatlantas Polrestabes Semarang, Polsek Pedurungan, Camat Pedurungan, yang mengampu jalan tersebut berkenan agar rute melewati Jalan Wolter Monginsidi. Ini belum rapat final,” katanya.
            Sedangkan bus dari arah barat akan masuk di Terminal Mangkang. Sejauh ini, di Terminal Penggaron diisi bus AKDP dari arah Karangrayung, Kedungjati, Purwodadi, Karangawen, Karangrayung, dan Ginggang Gubug. “Bus yang berasal dari pedesaan banyak. Bus besar hanya ada jurusan Semarang-Purwodadi-Blora. Setelah ada perpindahan nanti ditambah bus dari Demak, Kudus dan Jepara. Sedangkan bus dari Solo, Jogja, Kebumen, Cilacap, Purwokerto, sementara ini masih di Terminal Mangkang. Tetapi nanti lihat perkembangan. Soalnya lahan di Terminal Penggaron totalnya 5,5 hektare, diberikan oleh Pemkot Semarang hanya separuh thok. Jalur istirahatnya tidak diserahkan, sesuai rencana akan dibangun gedung pengujian kendaraan di wilayah timur,” katanya.
           Secara pengelolaan, lanjut dia, Terminal Penggaron merupakan terminal Tipe B, 2016 pengelolaannya di bawah Pemerintah Kota Semarang. Sejak 2017, diambilalih oleh Pemerintah Provinsi Jateng. Terminal Tipe A dulu merupakan kewenangan Pemkot, sekarang diambilalih oleh pemerintah pusat yakni Kementerian Perhubungan. Tipe B dikelola provinsi dan Tipe C dikelola oleh kabupaten/kota.
           “Saat ini masih masa peralihan dari Pemerintah Kota ke Provinsi Jateng. Hampir setahun ini retribusi pun belum jalan karena masih menunggu Peraturan Gubernur (Pergub). Ini tidak hanya Terminal Penggaron lho, semua terminal yang dikelola Provinsi Jateng belum memungut retribusi. Saat ini mengenai retribusi ini masih digodog di DPRD Jateng. Sehingga sejauh ini semua bus yang masuk terminal masih bebas (gratis),” katanya.
           Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jateng, Satriyo Hidayat, mengatakan perpindahan bus AKDP dari Terminal Terboyo ke Terminal Penggaron belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Padahal, Pemkot Semarang merencanakan perpindahan tersebut pada 1 Desember 2017 mendatang. “Belum bisa. Beban jalannya belum dihitung. Beban jalan dari mulut Tol Kaligawe hingga Gayamsari belum dihitung. Saya minta rencana ini diulang. Kalau Pemkot Semarang sudah ngomong 1 Desember 2017 beroperasi, ya terserah kota (Pemkot Semarang),” ungkapnya.
           Satriyo menjelaskan, pemindahan terminal tidak bisa dilakukan dengan semudah itu. Sebab perlu penghitungan matang. Mulai dari penghitungan beban jalan, penetapan rute, hingga solusi dampak yang diakibatkan. “Tidak bisa semudah itu, harus dicoba pelan-pelan. Perlu dihitung lagi. Tahu-tahu Terminal Terboyo akan ditutup (oleh Pemkot Semarang), udah itu AKDP urusan Dishub Provinsi Jateng, ya enggak bisa begitu. Ndak bisa pindah (terminal) ujug-ujug kayak pindahan rumah,” katanya.
             Dikatakannya, keputusan pemindahan bus AKDP dari Terminal Penggaron ke Terminal Terboyo 1 Desember tersebut berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Semarang. Tetapi menurut harus dilakukan kajian secara matang. “Ya harusnya dihitung dulu. Jangan sampai Kota Semarang malah menjadi macet. Beban kerja jalan juga harus dihitung. Pihak yang paling banyak bebannya di lapangan nanti adalah polisi, maka polisi diajak ngomong dulu. Kondisi kepadatan lalu-lintas di Gayamsari-Jalan Majapahit saja saat ini sudah sering mengalami kemacetan,“ katanya.
             Menurutnya masih banyak permasalahan yang belum dibahas dan dicarikan solusi tepat. “Misalnya, sudah terpikir sopir itu punya E-Tol apa enggak? Berapa pengeluaran sopir per hari menggunakan E-Tol? Minimal isi kartu E-Money ini kan Rp 50 ribu, apakah memberatkan sopir? Beban jalan Tol Kaligawe hingga Tol Gayamsari berapa? Yuk, kita uji coba dulu. Nah, sekarang ini baru mau saya simulasikan. Orang Demak kalau mau ke Semarang turunnya di mana? Semua jawab; Terboyo. Kalau begitu butuh shelter di Terboyo. Pindah terminal ndak bisa diputusin hanya dari atas meja,” katanya.
            Belum lagi permasalahan pedagang kaki lima (PKL) di terminal dan lain-lain. “Kok tiba-tiba muncul keputusan 1 Desember? Kalau semua sudah oke, baru dieksekusi. Makanya saya minta kebijakan itu nanti dulu lah, harus hati-hati. Tadi siang saya tanya, keputusan itu siapa yang bikin? Kami enggak bikin kok. Tapi kalau mau dilakukan uji coba, boleh. Misalnya satu jurusan dimasukkan ke Penggaron dulu, nanti beban jalannya dihitung. Kalau jalan tidak terbebani, tambahi lagi satu jurusan. Kalau tiga jurusan sudah macet, ya jangan dimasukkan ke Penggaron. Carikan tempat lain. Kalau tidak dapat? Bikin saja shelter di Terboyo,” bebernya.
           Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Muhammad Khadik mengatakan pemindahan terminal akan dilakukan per 1 Desember 2017 mendatang. “Sesuai dengan rencana, Terminal Terboyo sekarang kan menjadi Tipe C, akan digunakan untuk parkir angkutan barang. Fasilitas parkir angkutan barang ini akan dibangun 2018 nanti. Karena mau dibangun, mau tidak mau, karena Tipe C, maka hanya digunakan untuk angkutan dalam kota. Baik BRT maupun angkutan kota yang menghubungkan satu kecamatan dengan kecamatan lain,” katanya. (El)