Home Lintas Jateng Pemilik Lahan untuk Waduk Tolak Ganti Rugi

Pemilik Lahan untuk Waduk Tolak Ganti Rugi

image
Kudus, 5/1 (Beritajateng.net)-Sejumlah pemilik lahan untuk pembangunan Waduk Logung yang berada di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe bersikukuh menolak ganti rugi yang ditawarkan pemerintah daerah.
Meski mereka menerima secara baik- baik kedatangan tim dari Pengadilan Negeri (PN) Kudus terkait persiapan konsinyasi, tetapi mereka tetap pada pendiriannya menolak tawaran uang pengganti yang akan dititipkan di PN Kudus (konsinyasi).
Meski bersikukuh dengan sikapnya, tetapi mereka menolak jika dianggap menentang atau menghambat program pemerintah terkait rencana pembangunan Waduk Logung.
Alasan yang mereka kemukakan, selain soal nominal pengganti yang dianggap terlalu kecil, banyak persoalan mendasar yang hingga saat sekarang belum terselesaikan. 
Berdasarkan penelusuran Beritajateng.net saat mengikuti tim PN Kudus menyampaikan penawaran kepada warga Desa Kandangmas, Senin (5/1), ada dua hal yang oleh warga dianggap memberatkan.
Pertama, nominal ganti rugi sebesar Rp 28 ribu per meter persegi untuk lahan miring dan Rp 31 ribu untuk lahan datar dinilai tidak sepadan dengan keuntungan yang diperoleh saat mengolah lahan. 
Alasan kedua, banyak hasil pengukuran lahan yang tidak sesuai dengan kondisi yang ada karena tidak melibatkan masyarakat . Menurut mereka, luas lahan yang tertera dalam sertifikat berbeda dengan luas lahan hasil ukur yang dilakukan oleh BPN Kudus.
Pasalnya, jika hasil ukur lebih kecil dibanding yang tertera dalam sertifikat, maka penghitungan ganti rugi berdasarkan hasil ukur. Tetapi, jika hasil ukur ternyata lebih besar dibanding yang tertera dalam sertifikat, maka yang digunakan dasar penghitungan adalah sertifikat.
”Tolong kami jangan disebut menentang program pemerintah untuk pembangunan waduk Logung. Penolakan yang kami lakukan karena uang pengganti nilainya sangat kecil,” tutur suratmin salah seorang warga Desa Kandangmas.
Suratmin mengaku, sudah menggarap lahan miliknya sejak puluhan tahun. Dari hasil bertanam padi, jagung dan jahe di lahan yang akan terkena pembangunan Waduk Logung ini, setiap tahun dapat menghasilkan puluhan juta. Kepada para wartawan yang menemuinya, dia menegaskan lahan tersebut selama ini menjadi gantungan hidup keluarganya. 
”Kami tidak menolak tetapi yang kami inginkan lahan dapat diganti lahan agar kami tetap bisa hidup dari bercocok tanam. Kalau uang pengganti kami terima, tidak akan cukup untuk membeli lahan baru minimal dengan luas yang sama,” tegasnya.
Ditambahkan, warga yang menolak sebenarnya tidak mempersoalkan lokasi lahan asalkan masih dapat dijangkau dari rumahnya. Tanpa ladang pengganti, dia mengaku tidak mengetahui dari mana sumber pendapatan untuk keluarganya.
 ”Sebenarnya kita bersedia diganti dengan uang hanya saja nominalnya harus sepadan. Sebagai gambaran, untuk membeli lahan seluas 600 meter seperti yang saya miliki saat ini harganya sudah mencapai ratusan juta. Kalau hanya diganti dengan puluhan juta saja, tentu hanya mendapat beberapa meter saja,” tambahnya.
Mengenai undangan ke PN pada hari Jumat (9/1) mendatang, pihaknya akan tetap mendatanginya. Hanya saja, kedatangannya tersebut bukan untuk mengambil uang tetapi untuk mengetahui informasi yang sebenarnya soal konsinyasi lahan yang mereka miliki. 
”Soal gugatan saya belum mengetahui, lihat teman-teman nanti sajalah,” tegasnya.
Sedangkan menurut warga lainnya, Sukamin, mengaku harus menunggu istrinya yang saat ini berada di hutan. Namun, dalam hal ganti rugi ini dia juga mempertanyakan banyak soal terkait ganti rugi lahan yang ditawarkan. 
”Inti persoalannya, kalau ladang kami hilang dan kami tidak bisa membeli lading pengganti lalu  kami harus bagaimana lagi,” pungkasnya. (BJ12)

Advertisements