Home News Update Pemilik Angkutan Umum Tolak Pengoperasian Aglomerasi

Pemilik Angkutan Umum Tolak Pengoperasian Aglomerasi

(ilustrasi)

Semarang, 12/11 (BeritaJateng.Net) – Sejumlah pemilik angkutan umum menolak rencana pengoperasian angkutan aglomerasi koridor I jurusan Bawen-Semarang karena khawatir pendapatan sehari-hari semakin berkurang.

“Beban ekonomi keluarga kami akan semakin bertambah sebab para penumpang akan beralih ke angkutan aglomerasi,” kata salah seorang pemilik angkutan umum trayek Pasar Johar-Banyumanik, Maryono, Rabu (12/11).

Ia juga mengaku khawatir tidak mendapat penumpang karena tarif angkutan aglomerasi lebih murah dibandingkan dengan angkutan umum.

“Tarif angkota jurusan Johar-Banyumanik saat ini Rp4.000, ‘denger-denger’ tarif aglomerasi akan di bawah itu,” ujarnya.

Maryono juga mengaku pesimistis seluruh pengemudi angkutan umum jurusan Johar-Banyumanik yang berjumlah 300 orang dapat dipekerjakan semua sebagai pengemudi angkutan aglomerasi.

“Saya kira tidak mungkin jika seluruh sopir angkutan umum Johar-Banyumanik dipekerjakan sebagai sopir anglomerasi,” katanya.

Hal tersebut disampaikan Maryono saat sosialisasi angkutan aglomerasi koridor I jurusan Bawen-Semarang yang dihadiri perwakilan awak angkutan umum, Dinhubkominfo Jateng, kepolisian, serta sejumlah perwakilan lain.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinhubkominfo Jateng Untung Sirinanto mengatakan rencana pengoperasian angkutan aglomerasi k0ridor I jurusan Stasiun Tawang-Bawen tetap dilaksanakan.

“Kami tidak mau mengambil mata pencaharian para pengemudi angkutan, kami hanya ingin mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan aglomerasi sebagai upaya mengurangi kemacetan lalu lintas,” katanya.

Menurut dia, angkutan aglomerasi akan bersinergi dengan layanan angkutan umum, seperti “bus rapid transit” (BRT) maupun angkutan umum lainnya.

Kementerian Perhubungan berencana mengembangkan angkutan aglomerasi di Jawa Tengah guna mengurangi kepadatan kendaraan di jalan raya.

Pengembangan angkutan aglomerasi akan mengintegrasikan kendaraan angkutan antardaerah dengan harga tiket yang murah dan akan berhenti pada titik-titik atau halte yang ditentukan.

Koridor Semarang-Bawen menjadi prioritas utama pengembangan angkutan aglomerasi di Jateng karena besarnya potensi permintaan pelayanan angkutan umum pada koridor tersebut dari dan ke pusat kegiatan.

Angkutan aglomerasi Semarang-Bawen yang akan dimulai pada tahun ini sudah dialokasikan anggaran senilai Rp28 miliar yang berasal dari APBD Jateng Perubahan 2014 dan APBD Jateng murni 2015.

Alokasi anggaran tersebut, antara lain untuk pengadaan 25 bus senilai Rp15 miliar, pembangunan halte di sejumlah titik Rp4,6 miliar, dan biaya operasional selama satu tahun sebesar Rp7,4 miliar.

Angkutan aglomerasi Semarang-Bawen akan dilayani 40 bus, dengan rincian 15 bus dari pemerintah pusat dan 25 bus dari Pemprov Jateng.

Dalam layanannya nanti angkutan aglomerasi Semarang-Bawen akan terintegrasi dengan koridor layanan BRT Trans Semarang koridor 1 (Mangkang-Penggaron) koridor 2 (Terboyo-Sisemut Ungaran), dan koridor 3 (Tanjung Emas-Kaliwiru-Simpang Lima).

Selain Semarang-Bawen, pemerintah pusat juga akan mengembangkan angkutan aglomerasi di Semarang-Kendal, Semarang-Karangtengah, Semarang-Gubug, Tegal-Slawi, Kudus-Mayong, Secang-Magelang-Muntilan, Purwokerto-Purbalingga, Purwokerto-Ajibarang, Purwokerto-Rawalo, Purwokerto-Kroya.

Selain itu, Surakarta-Sukoharjo, Surakarta-Karanganyar, Surakarta-Masaran, Surakarta-Delanggu, dan Surakarta-Boyolali. (ant/pri)

Advertisements