Home Lintas Jateng Pembebasan Lahan Jalur Alternatif Jolotundo Akhirnya Selesai

Pembebasan Lahan Jalur Alternatif Jolotundo Akhirnya Selesai

464

Semarang, 30/12 (BeritaJateng.net) – Proses pembebasan lahan proyek jalur alternatif Jolotundo yang menghubungkan Jalan Kartini-Jalan Gajah Semarang yang sebelumnya tinggal menyisakan satu rumah milik warga bernama Sukarno, akhirnya terselesaikan.

“Sekarang ini, (pemilik lahan, red.) sudah sepakat dengan nilai ganti untung yang ditetapkan sebesar Rp663 juta,” kata Kepala Bidang Pemanfaatan Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga Kota Semarang Sukardi di Semarang, Selasa.

Dengan tuntasnya pembebasan lahan milik warga yang sempat alot itu untuk jalur Jolotundo, kata dia, sekarang ini tinggal menyisakan pembebasan lahan milik Masjid Agung Semarang yang masih menunggu rekomendasi dari Kementerian Agama.

Ia mengatakan jalur alternatif Jolotundo saat ini sebenarnya sudah dibuka untuk umum, namun masih ada beberapa proses pengerjaan yang harus dilakukan, seperti pembangunan saluran dan rigid beton yang akan dianggarkan pada tahap tiga.

“Kalau untuk perataan bangunan milik Pak Sukarno direncanakan sekitar April 2016, sebab sementara ini belum dinilai terlalu mengganggu karena hanya satu rumah dan badan jalan yang sudah terbangun juga masih relatif mencukup,” katanya.

Pemilik lahan, Sukarno, saat dikonfirmasi mengakui sudah adanya kesepakatan dengan tim Panitia Pembebasan Tanah (P2T) untuk pembebasan lahan miliknya dengan nilai ganti untung sebesar Rp663 juta dan uangnya sekarang juga sudah cair.

Mengenai kealotan yang sempat terjadi, ia mengatakan sebenarnya tidak mempersulit proyek pembangunan, asalkan ada itikad baik dari Pemerintah Kota Semarang untuk melakukan pembebasan lahan sesuai dengan nilai yang diperhitungkan.

“Dulu, saya keberatan karena yang dihitung hanya luas bangunan dan tanah. Ada beberapa item yang belum dihitung, seperti pagar pondasi, PLN, dan PDAM. Bahkan, selama tiga tahun ini, saya hanya diajak rembugan sebanyak tiga kali,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi yang turut memfasilitasi pembebasan lahan milik Sukarno menilai pemilik rumah sebenarnya menginginkan keterbukaan atau transparansi dalam perhitungan aprraisal nilai ganti untung.

“Pada Jumat (25/12) kemarin, Pak Sukarno mengadu ke DPRD dan bertemu saya. Akhirnya, saya fasilitasi untuk bertemu dengan pimpinan Dinas Bina Marga dan pihak yang bertanggung jawab atas proyek jalur Jolotundo pada Sabtu (26/12),” katanya.

Dari hasil pertemuan itu, politikus PDI Perjuangan itu bersyukur karena ada kesepakatan antara Sukarno selaku pemilik lahan dengan pemerintah sehingga proses pembangunan jalur alternatif Jolotundo bisa berlangsung lebih lancar.

“Selama ini, kan tinggal satu rumah milik Pak Sukarno itu. Sekarang sudah beres, tinggal lahan milik Masjid Agung Semarang. Mengenai Pak Sukarno, intinya adalah adanya miskomunikasi. Buktinya, pertemuan kemarin langsung beres,” katanya.

Yang jelas, Supriyadi mengingatkan agar proses penghitungan ganti untung dilakukan secara transparan dan terus diupayakan komunikasi dengan pemilik lahan yang bersangkutan agar persoalan seperti yang dialami Pak Sukarno tidak terulang. (Bj/ant)