Home Lintas Jateng Pembangunan Waduk Logung Terkendala Pembebasan Lahan

Pembangunan Waduk Logung Terkendala Pembebasan Lahan

image
Lokasi pembangunan Waduk Logung

Kudus, 30/4 (Beritajateng.net)-Pembangunan Waduk Logung yang berlokasi di dua desa yakni Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo dan Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe hingga saat ini baru terealisasi 1,3 persen. Salah satu yang menghambat proses pembangunan, dikarenakan sebagian warga enggan melepaskan tanahnya. 

Menurut Kepala Proyek Kerjasama Operasi PT Wijaya Karya, Untung Tri Uripto, sesuai kontrak pembangunan Logung selama empat tahun yakni dari tahun 2015 hingga tahun 2018. Sedangkan soal kemungkinan pembangunan dipercepat, menurutnya sulit karena pencairan penganggarannya dilakukan secara bertahap setiap tahun.

”Soal percepatan proses pembangunan bergantung pada penganggarannya. Sesuai kontrak pencairannya anggaran dilakukan secara bertahap setiap tahun,” tambah Kepala Proyek Kerjasama Operasi dari PT Nindya Karya Eko Suhartono mendampingi Untung TU kepada wartawan, Kamis (30/4). 

Berdasarkan perjanjian kontrak kerja, lanjutnya, penganggaran pembangunan waduk dilakukan secara bertahap setiap tahun  atau multiyears. Meski demikian, upaya percepatan masih dimungkinkan tergantung Pemerintah Pusat terutama soal penganggarannya. ”Agar proyek bisa selesai sesuai jadwal atau jika harus dipercepat, kendala di lapangan harus diminimalkan. Utamanya soal pembebasan lahan serta kondisi cuaca. Seperti saat sekarang, yang seharusnya memasuki musim kemarau kenyataannya masih turun hujan,” imbuhnya.  

Selama tahun 2015, menurutnya progresnya hanya persiapan. Diantaranya pembuatan akses jalan, pembangunan kantor proyek, serta kliring. Selain itu, dalam progress awal ini juga direncanakan penyediaan terowongan pengelak.     

”Anggaran awal sesuai kontrak sebesar Rp 70 miliar. Sedangkan pada tahun 2016 akan dilanjutkan pembangunan ’spillway’ serta bendungan utama (main dam),” tegasnya.      
Seperti diketahui, pembangunan Waduk Logung membutuhkan lahan seluas 196 hektar yang tersebar di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo dan Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe. Dari luasan lahan yang dibutuhkan tersebut, selain milik warga sebagian diantaranya adalah milik PT Perhutani. 

Hingga pembangunan awal dimulai, masih tersisa 56 bidang lahan milik warga yang belum bisa dibebaskan karena pemilik lahan mengajukan gugatan perdata kepada Pemkab Kudus melalui PN Kudus. Awalnya, pembayaran lahan yang pemiliknya belum bersedia melepas dititipkan melalui PN Kudus (konsinyasi). 

Dari 56 bidang yang masih dalam proses hukum tersebut, 55 bidang diantaranya terletak diDesa Kandangmas sisanya atau 11 bidang berada di Desa Tanjungrejo. Sedangkan sesuai penetapan pemerintah, lahan datar yang terkena proyek mendapat ganti rugi Rp 31 ribu per meter persegi dan lahan miring Rp 28 ribu. (BJ12)

Advertisements