Home Ekbis Pelemahan Rupiah Seharusnya Dorong Industri Subtansi Impor

Pelemahan Rupiah Seharusnya Dorong Industri Subtansi Impor

ILustrasi

Jakarta, 7/1 (Beritajateng.net) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini seharusnya mendorong pemerintah dan pelaku usaha untuk lebih serius membangun industri bahan baku pengganti impor, kata peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Pemerintah dapat mengambil sisi positif dari pelemahan rupiah ini dengan menggelontorkan insentif fiskal dan non-fiskal untuk menarik pengusaha dan investor agar menggencarkan pembangunan industri substitusi impor, kata Direktur INDEF Enny Sri Hartati saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

“Pelemahan rupiah sudah terjadi cukup lama. Pemerintah perlu dorong stimulus dengan insentif fiskal dan non fiskal untuk membangun industri substitusi impor,” ujar dia.

Kurs rupiah antarbank pada Rabu sore kembali melemah 82 poin menjadi Rp12.727 dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp12.645 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS, menurut Enny, tentu akan membuat biaya impor akan ikut naik, sehingga dapat menurunkan permintaan impor.

Meskipun di sisi lain kegiatan impor masih dibutuhkan untuk mengekspansi aktivitas bisnis dan ekonomi, Enny meminta secara bersamaan, pemerintah harus bergerak cepat untuk mendorong industri domestik memproduksi bahan baku pengganti impor.

Enny mengatakan gebrakan Presiden Joko Widodo dan jajarannya, dalam mereformasi perizinan usaha dan investasi telah menjadi permulaan yang baik sebagai insentif non-fiskal bagi dunia bisnis.

Reformasi perizinan itu, ujar dia, perlu diarahkan juga ke sektor industri penunjang yang memproduksi bahan baku pengganti impor. Selain itu, pemerintah daerah juga harus mereformasi perizinan dan birokrasi usaha dan investasi.

Dari sisi insentif fiskal, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro pernah menyatakan akan memperkuat insentif “tax holiday” dan “tax allowance”, –selain tawaran fasilitas pajak lainnya–, bagi pengusaha dan investor yang membangun industri perantara, yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku.

Industri substitusi impor sebenarnya sudah berjalan namun dianggap belum maksimal, karena komposisi impor bahan baku masih dianggap terlalu besar dibandingkan impor barang modal.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Januari-November 2014 porsi impor bahan baku tetap yang tertinggi dalam struktur impor barang sebesar 76,41 persen atau setara 125,12 miliar dollar AS.

Namun, selain industri substitusi impor, industri penghasil barang perantara (intermediate goods) seperti di sektor makanan, minuman, tekstil, barang kulit, dan alas kaki, hasil hutan, pupuk, kimia, semen dan barang galian bukan logam, serta logam dasar dan besi baja juga cukup berkembang dan diusulkan mendapat kelonggaran insentif fiskal.(ant/bj02)