Home Headline Pegerahan Pasukan Bentuk Arogansi Aparat

Pegerahan Pasukan Bentuk Arogansi Aparat

image
Petugas gabungan membentuk pagar betis saat penutupan Pasar Ngabul Lama (Senin,05/01)

Jepara, 7/1 (Beritajateng.net) – Pengerahan aparat 225 personel dari gabungan  TNI, Polri dan Satpol PP pada penutupan Pasar Ngabul lama, Senin (5/1) lalu, dinilai sebagai tindakan arogan. Hal itu disampaikan Forum Masyarakat Peduli Jepara – FMPJ.

Menurut Mayadina Rohma, salah satu pegiat di forum tersebut, pengerahan aparat keamanan bersenjata dalam melakukan eksekusi merupakan tindakan arogan, dan tidak sesuai dengan semangat demokrasi.

“Pembawaan aparat keamanan di tengah suasana yang lagi memanas dalam proses penutupan Pasar Ngabul justru membawa ketakutan para pedagang. Menurut kami itu bukan menyelesaikan masalah,” terang Mayadina.

Mayadina melanjutkan, kehadiran aparat keamanan lengkap dengan senjata menjadikan amarah pedagang justru tersulut. Pasalnya, bagi pedagang saat itu, posisi aparat keamanan bukan lagi pengayom, tapi pembela Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara yang memiliki kebijakan penutupan pasar.

Menurut Mayadina, hal itu ditandai terjadi beberapa kali aksi dorong yang dilakukan pedagang yang mayoritas merupakan wanita parubaya terhadap aparat keamanan. Beberapa kali pula anggota Satpol PP menjadi sasaran kemarahan warga. Padahal pihak keamanan berposisi sebagai pengayom masyarakat.

“Kami menyayangkan penggunaan pendekatan keamanan yang dilakukan oleh Pemkab Jepara dalam menyikapi problematika Pasar Ngabul yang terjadi pada saat penutupan Senin lalu. Pengerahan aparat keamanan TNI dan Polri merupakan tindakan arogan dan tidak sejalan dengan semangat reformasi,” tandasnya.

Mayadina memaparkan, persoalan Pasar Ngabul yang belum selesai sepenuhnya tersebut lebih baik dikembalikan ke cara-cara perundingan dan musyawarah, mengedepankan akal sehat dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Cara ini pula hendaknya dijadikan patokan untuk menjawab tantangan pemerintahan dan tantangan kemansyarakatan lainnya.

“Kami berharap agar aparat keamanan, Polri, TNI, Satpol PP agar mengedepankan tujuan sebagai pengayom masyarakat. Bukan hanya mengamankan kebijakan pemerintahan,” tegasnya.

Menanggapi pernyataan FMPJ, Wakil Bupati Jepara Subroto angkat bicara. Menurut Subroto, pengerahan aparat gabungan dimaksudkan bukan untuk menakut-nakuti dan mengintimidasi pedagang, tetapi untuk mendukung agar pelaksanaan penutupan berjalan tertib, damai dan tidak mengganggu kondusifitas daerah.

“Aparat keamanan khawatir jika ada pihak ketiga yang terlibat akan mengganggu rencana penutupan. Jadi, kami berharap hanya yang berkepentingan dengan pasar Ngabul yang terlibat, bukan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata, Subroto.(BJ18)

Advertisements