Home DPRD Kota Semarang Pedagang Eks- Johar yang Tempati PKL Liar Di Kawasan Johar Ditertibkan

Pedagang Eks- Johar yang Tempati PKL Liar Di Kawasan Johar Ditertibkan

605
Dewan Desak Percepatan Pembangunan Pasar Johar 
SEMARANG, 15/6 (BeritaJateng.net) – Kawasan Pasar Johar Cagar Budaya bekas terbakar dan sekitarnya saat ini dalam proses ‘disterilkan’ dari adanya pedagang berkeliaran maupun gepeng. Setidaknya pedagang yang berjualan di tiga titik, yakni Jalan Pedamaran, Jalan Beteng, dan Jalan Agus Salim, terus dicukur habis sejak Senin lalu.
Tidak hanya di tiga titik tersebut, tetapi juga bagi pedagang Johar yang kabur dari tempat relokasi MAJT dan berjualan menyebar di titik lain seperti di depan Hotel Metro, eks Matahari dan di Jalan Empu Tantular. Sebab menyebarnya para pedagang tersebut mengakibatkan tempat relokasi MAJT selama ini menjadi sepi dan tidak kondusif. Para pedagang yang tidak mau ditata bakal terancam dicoret dan tidak mendapatkan tempat di Pasar Johar setelah selesai dibangun.
Penertiban tersebut juga sebagai upaya tindak lanjut agar tidak mengganggu proses pembangunan Pasar Johar Cagar Budaya yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Para pedagang tanpa terkecuali, ‘dicukur’ bersih untuk ditempatkan ke tempat relokasi Pasar Johar kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).
“Kami ingin ada rasa kebersamaan antara pedagang yang direlokasi dengan pedagang yang keluar ini. Apabila mereka memiliki tempat jualan di relokasi MAJT, maka segera ditempati. Apabila sampai lebaran tidak menempati di sana, mereka nanti tidak punya hak untuk menempati pasar baru,” tegas Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, Rabu (14/6).
Dikatakannya, penertiban pedagang ini sudah melalui proses pemberitahuan. Mulai Wali Kota Semarang maupun Gubernur Jawa Tengah. “Tiga titik di Jalan Pedamaran, Jalan Beteng, maupun Jalan Agus Salim sudah bersih, nanti kami cek yang di dalam pasar, baik pedagang maupun gepeng yang ada di dalam pasar akan kami keluarkan. Ini supaya tidak mengganggu aktivitas pembangunan,” terangnya.
Fajar menjelaskan, Pasar Johar bangunan konservasi tersebut akan dibangun sekitar Agustus, atau paling lambat awal September mendatang. “Termasuk Pasar Kanjengan maksimal September sudah ada pembangunan. Untuk pedagang Pasar Kanjengan blok D sudah kami lakukan sosialisasi dan siap direlokasi di Pasar Johar MAJT antara blok E dan F. Juga pedagang pancakan sudah kami data untuk kami pindahkan di sana.
Lebih lanjut, kata Fajar, tahun ini ditargetkan sudah tidak ada aktivitas pedagang di Pasar Johar Cagar Budaya maupun di sekitarnya, karena akan segera dilakukan pembangunan. Menurut data sementara, pedagang yang lari dari tempat relokasi MAJT ada kurang lebih 150 pedagang, mereka tersebar. “Kami data yang di Jalan Beteng, Pedamaran dan Agus Salim ini kurang lebih 80 pedagang. Sedangkan saat ini ada tempat kosong di relokasi Johar MAJT kurang lebih 500 unit,” katanya.
Adapun pedagang yang bukan merupakan pedagang Pasar Johar,  juga diberlakukan sama yakni akan ditempatkan di tempat relokasi MAJT. “Semua agar tidak menimbulkan rasa iri. Akan kami data untuk meramaikan tempat relokasi MAJT. Termasuk pedagang yang berada di sebelah Hotel Metro juga akan kami tertibkan setelah lebaran,” imbuhnya.
Sedangkan pedagang di Jalan Empu Tantular akan dilakukan pengecekan terlebih dahulu. Apakah di titik tersebut terdapat pedagang Pasar Johar atau tidak. “Intinya semua akan saya tata, pedagang Johar yang memiliki kios atau lapak di relokasi agar segera kembali dan ditempati, kalau tidak mau ditata ya mereka akan kami coret,” tandasnya.
Relokasi Yaik, Pedagang Diminta Taat
Sedangkan relokasi Pasar Yaik Baru juga sedang dipersiapkan. Dinas Perdagangan Kota Semarang menyiapkan anggaran sekurang-kurangnya Rp 20 miliar. “Dari anggaran tersebut, yang kami lelangkan Rp 19,2 miliar. Saat ini sedang dalam proses lelang. Untuk sewa tanah nadhir MAJT juga sudah ada jawaban,” katanya.
Maka dari itu, pihaknya meminta agar para pedagang Pasar Yaik Baru taat aturan. “Kami minta ketulusan pedagang Pasar Yaik Baru untuk bisa bersama-sama dengan pedagang lain di tempat relokasi MAJT. Karena 2018 sudah ada pembangunan menyeluruh, sehingga tidak merepotkan Dinas Tata Ruang dan Dinas Perdagangan. Misalnya toh ada kendala ketidaksukaan atau apapun ya mari berbicara untuk kepentingan Kota Semarang. Bukan kepentingan siapapun,” katanya.
Prinsipnya, pihaknya akan tetap tetap bersikap tegas. Sebab, pihak yang bertanggungjawab atas anggaran pembangunan Pasar Johar adalah Dinas Perdagangan dan Dinas Tata Ruang. “Sehingga kami tidak mau pedagang seenaknya sendiri, tidak mau ditertibkan, tidak mau ditata dan seterusnya. Awal Januari, pedagang Pasar Yaik sudah harus pindah. 2018 sudah dibangun baik di Pasar Yaik Baru maupun Yaik Lama,” katanya.
Mengenai tempat relokasi baru di MAJT, diperuntukkan untuk menampung semua pedagang Pasar Johar dan sekitarnya. Tempat relokasi yang bakal dibangun ini nantinya diperkirakan bisa menampung kurang lebih 3.000 pedagang. “Tidak hanya untuk pedagang Pasar Yaik Baru saja, tapi juga pedagang Kanjengan dan lain-lain,” katanya.
Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Agus Riyanto Slamet mengatakan, Pemkot Semarang mendapat bantuan dari Kementerian Perdagangan Rp 100 miliar. Dana tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan Pasar Kanjengan di kompleks Pasar Johar. “Sedangkan untuk pembangunan Pasar Johar Cagar Budaya saat ini disediakan dana awal menggunakan APBD Kota Semarang Rp 50 miliar,” terangnya.
Untuk selanjutnya, pembangunan Pasar Johar Cagar Budaya ini sesuai rencana akan dibantu oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada 2018 mendatang Rp 300 miliar. Selain itu juga akan dianggarkan Rp 160 miliar melalui anggaran APBD Murni Kota Semarang. “Jadi, totalnya Rp 460 miliar di 2018,” katanya. (El)