Home News Update Pdt. Bernard Samuel, S.T : Hadiah Natal Terbaik

Pdt. Bernard Samuel, S.T : Hadiah Natal Terbaik

pdt. Bernard Samuel, S.T


Natal merupakan perayaan kelahiran Yesus Kristus ke atas muka bumi 2000 tahun yang lalu. Jikalau sebuah perayaan berarti harus ada kado yang dipersembahkan kepada DIA sebagai hadiah ulang tahun. Namun kado apa yang dapat kita berikan kepada Tuhan, padahal DIA memiliki segalanya. Dia-lah pencipta alam semesta, langit adalah takhta-Nya dan bumi adalah tumpuan kaki-Nya. Kado yang terbaik bagi Tuhan adalah kehidupan yang dipersembahkan untuk meninggikan namaNya selalu.

MATIUS 2:9-12
Matius 2:9 Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

Matius 2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.

Matius 2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

Matius 2:12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

Kisah yang ditulis dalam ayat diatas adalah cerita yang seringkali kita dengar di bulan Desember terutama dalam perayaan Natal. Kisah tersebut bukan hanya memiliki kebenaran secara sejarah namun memiliki kebenaran secara rohani bagi kita yang hidup di zaman modern ini.

Ada 3 jenis persembahan yang dibawa oleh orang-orang majus dari Timur bagi Yesus yang lahir 2000 tahun lalu. Persembahan itu adalah emas, kemenyan, dan mur. Bukan merupakan sebuah kebetulan dibawakannya 3 jenis benda ini sebagai persembahan karena ada makna yang begitu dalam yang harus kita pahami sebagai umat Tuhan.

Orang-orang majus adalah para ahli perbintangan, orang yang pandai. Mereka datang dari latar-belakang yang berbeda, mewakili generasi yang berbeda.

Persembahan yang mereka bawa pun berbeda. Semuanya mengarah pada tiga sifat dari tugas dan pekerjaan utama Yesus.

EMAS adalah pemberian untuk seorang raja

Emas yang seperti kita kenal sekarang adalah salah satu logam mulia. Di dalam Alkitab, emas adalah logam pertama yang disebutkan: “Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada” (Kejadian 2:11). Emas memiliki sifat yang sangat lunak sehingga mudah ditempa dan dibentuk. Emas dapat dijadikan berbagai macam alat maupun perhiasan. Emas sudah biasa digunakan sejak ribuan tahun lalu termasuk di Bait Allah dalam Perjanjian Lama dimana banyak benda yang disalut emas. Ribuan tahun lalu emas ini banyak sekali di temukan di daerah padang gurun Timur di Mesir. Pada zaman Yesus, ada kebiasaan dimana tidak seorang pun dapat datang kepada Raja dengan tangan kosong, tanpa membawa persembahan. Setiap orang yang mau menghadap pembesar terutama seorang raja pastilah membawa persembahan yang terbaik.

Emas sebagai raja dari segala logam adalah jenis persembahan yang cocok dan layak bagi seorang raja dunia. Jadi kalau orang ini datang membawa emas artinya dia menyatakan bahwa Yesus dilahirkan untuk menjadi Raja.

Yesus adalah Raja di atas segala raja, la memerintah bukan dengan tangan besi atau tetapi dengan cinta kasih. Mari jadikan Yesus sebagai Raja dalam hidup kita dengan cara menyerahkan seluruh kehidupan kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan bagi Tuhan.

KEMENYAN adalah pemberian untuk Seorang Imam

Kemenyan merupakan salah satu komoditi barang dagangan yang membuat para saudagar pada zaman dahulu kaya raya. Kemenyan banyak dipakai di dalam upacara keagamaan Yahudi salah satunya menjadi bahan utama dari ukupan kudus: “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Ambillah wangi-wangian, yakni getah damar, kulit lokan dan getah rasamala, wangi-wangian itu serta kemenyan yang tulen, masing-masing sama banyaknya” (Keluaran 30:34).

Kemenyan juga dibakar saat korban sajian dipersembahkan: “Setelah dikhususkan dari korban sajian itu segenggam tepung yang terbaik dengan minyak, serta seluruh kemenyan yang di atas korban sajian itu, maka haruslah semuanya dibakar di atas mezbah sehingga baunya menyenangkan sebagai bagian ingat-ingatannya bagi TUHAN” (Imamat 6:15).

Kemenyan digambarkan sebagai bau yang menyenangkan: “Apakah itu yang membubung dari padang gurun seperti gumpalan-gumpalan asap tersaput dengan harum mur dan kemenyan dan bau segala macam serbuk wangi dari pedagang?” (Kidung Agung 3:6).

Oleh orang Majus, kemenyan dipersembahkan kepada Yesus sebagai tanda ke-imamannya. Kemenyan dipakai dalam rangkaian upacara sebuah kebaktian. Seorang imam yang memimpin upacara harus melengkapi seluruh upacara itu dengan bau yang harum dari kemenyan. Maksudnya seperti sifat kemenyan, imam harus membawa jemaat kepada kemuliaan dan kebesaran Tuhan, dan ini yang dilakukan oleh Yesus. Dia adalah Imam Agung yang membuka jalan untuk manusia, yang membawa manusia kepada Allah. Ketika kita percaya kepada Yesus maka kita sedang datang kepada kemuliaan Allah dan berjalan mendekat kepada Nya.

MUR adalah pemberian untuk Seorang Yang Akan Mati

Mur di dalam bahasa Ibrani disebut mor adalah getah dari torehan batang dan cabang pohon yang memiliki nama ilmiah Commiphora Myrrha atau Commiphora kataf. Kedua tanaman ini bisa dijumpai di Arab Selatan dan Afrika yang berdekatan dengan wilayah ini. Mur digunakan sebagai minyak urapan kudus bernilai tinggi, untuk parfum perempuan (Ester 2:12) dan kosmetik.

Di samping salah satu persembahan orang Majus (Matius 2:11) dan campuran minuman yang disodorkan ke Yesus (Markus 15:23). Mur juga digunakan untuk penguburannya: “Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya” (Yohanes 19:39).

Mur dicampurkan pada minuman yang disodorkan kepada Yesus pada saat disalib untuk mengurangi sengsara dan kesadisan penyaliban (Markus 15:23) dan digunakan pada waktu penguburanNya (Yohanes 19:39). Mur yang diberikan oleh orang Majus kepada bayi Mesias, melambangkan penderitaan dan kematian Sang Mesias, di mana tubuh-Nya diurapi Mur yang wangi saat pemakaman-Nya.

Persembahan ini menggambarkan bahwa Yesus datang ke dunia: Dia HIDUP untuk manusia dan MATI untuk manusia. Kita menyadari bahwa lewat kematian Nya kita dilayakkan menjadi anak-anak Allah.

Ketiga persembahan orang Majus yaitu : emas, kemenyan dan mur adalah melambangkan perjalanan kehidupan Yesus sebagai manusia diatas muka bumi. Ketiga persembahan ini sekaligus juga berbicara kepada kita sebagai umatNya untuk senantiasa mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Apakah kado natal yang terbaik bagi Tuhan yaitu hidup kita yg dipakaiNya untuk kemuliaan Tuhan ? Amin.

Pdt. Bernard Samuel, S.T
Gembala Senior Gereja Mawar Sharon
Regional Jawa Tengah dan DIY