Home Headline Payah, Pelayanan Dokter Spesialis RS Pantiwilasa Citarum

Payah, Pelayanan Dokter Spesialis RS Pantiwilasa Citarum

7640

rs

Semarang, 31/3(BeritaJateng.net) – Kejadian yang sangat disayangkan terjadi di Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum, Semarang.
Hari Senin (30/3) sekitar pukul 09.30, salah seorang warga Pedurungan akan melakukan pendaftaran untuk pemeriksaan rutin orang tuanya ke dokter spesialis mata yang pernah menangani operasi mata Glukoma yang praktek di RS tersebut.

Setelah mengantri di pelayanan informasi RS Pantiwilasa Citarum sekitar dua jam , petugas informasi memberikan informasi yang sangat mengecewakan.

“Dia (petugas informasi ) mengatakan tidak ada praktek dokter mata mulai Selasa (31/3) sampai (14/4)”, kata keluarga pasien yang tinggal di Perumahan Tlogosari yang tidak mau disebutkan namanya.

Bahkan petugas informasi wanita itu juga memberikan jawaban yang tidak realistis.

“Apa harus menunggu selama dua minggu lebih, padahal pasien harus periksa ulang. Penyakit mata yang diderita (Glukoma)bukan penyakit mata ringan, harus check up rutin”, paparnya.

Setelah terjadi perdebatan kecil, akhirnya dengan rasa kecewa pria tersebut meninggalkan Ruang Informasi dengan kesal.

Terpisah, Suprayitno Sekretaris Lembaga Konsultasi dan Perlindungan Konsumen – LKPK Provinsi Jawa Tengah, saat dihubungi BeritaJateng.net, mengatakan bahwa hal tersebut jelas-jelas suatu tindakan yang sangat merugikan konsumen.

“Sangat merugikan. Apalagi korban dulunya juga pasien yang pernah beroperasi dan rawat inap di RS Pantiwilas Citarum, korban merasa tidak dianggap. Apalagi pasien menggunakan fasilitas BPJS”, kata Suprayitno.

Hal itu melanggar Undang-undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia.

“Dalam UUPK itu dijelaskan bahwa hak konsumen diantaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan”, imbuhnya.

Seharusnya pihak RS mengantisipasi, ketika dokter spesialis tidak bisa praktek.

“Masak orang sakit harus diprogram, sakitnya setelah ada dokter praktek”, lanjut pria yang juga meneliti tentang kebijakan-kebijakan pemerintah Kota Semarang.
(BJT1)