Home Alkisah Pawai Panjang Jimat, Cara  Merawat Budaya dan Syiar Islam di Bumi Para...

Pawai Panjang Jimat, Cara  Merawat Budaya dan Syiar Islam di Bumi Para Wali

499
0
Pawai Panjang Jimat, Cara  Merawat Budaya dan Syiar Islam di Bumi Para Wali
       Demak, 25/2 (BeritaJateng.net) – Ribuan peserta mengikuti Pawai Panjang Jimat , dalam rangka memeringati Haul Agung Ke-515 H Sultan Fattah Al Akbar Sayyidin Panotogomo, Minggu (25/2/2018).
        Acara tahunan yang digelar oleh Takmir Masjid Agung Demak tersebut, dimeriahkan dengan pawai sepeda hias, pawai santri ponpes, siswa madrasah dan sekolah , TNI dan Polri serta sebanyak 225 anak peserta khitan tabarukan, yang diarak dengan delman hias.
        Selain sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT,  Pawai Panjang Jimat tersebut juga sebagai upaya melestarikan budaya adiluhung peninggalan Walisanga maupun Sultan Fatah, Raja Demak Bintoro.
       Pawai Panjang Jimat sekaligus juga sebagai sarana untuk syiar Islam di kalangan generasi muda. “Generasi muda harus tahu dan mau mempelajari sejarah kebudayaan Islam di Demak tempo dulu,” kata Ketua Takmir Masjid Agung Demak H Niam Ansori, didampingi Wakil Ketua H Abdul Fatah serta Sekretaris Takmir HM Suharso.
       Jimat yang dimaksudkan adalah ‘siji kang dirumat’ (jimat)  atau sesuatu yang sangat sakral sehingga harus dijaga keberadaan dan kesuciannya yakni bendera merah putih.
        Merah merupakan sumber kehidupan dan semangat perjuangan. Sedangkan putih sebagai simbol kesucian hati.
        Selain bendera pusaka merah putih, khusus di Kabupaten Demak,  jimat yang harus dirawat hingga terjaga kelestariannya adalah Masjid Agung Demak.
       “Masjid Agung Demak adalah peninggalan Sultan Fattah dan Walisanga, salah satu ‘tetenger’ (penanda) pertama kali Islam disebarkan di Pulau Jawa,” ujarnya,
        Wakil Ketua Takmir Masjid Agung Demak, H Abdul Fatah, menuturkan,  jimat juga diartikan sebagai akhlak mulia serta ajaran aqidah Islam yang telah dirintis Sultan Fattah bersama Wali Sanga sekitar lima abad lalu.
       Para generasi muda diharapkan meneladani ahkhlak mulia Sultan Fatah dan mengenang perjuangan Raja Demak Bintoro yang pertama itu , dimana bersama sama Walisanga membumikan ajaran Rasulullah di tanah Jawa, sekaligus peneguhan terhadap syiar Islam.
        “Panjang Jimat ini sebagai sarana syiar Islam di kalangan generasi muda , sehingga ajaran Islam selalu  terpelihara hingga akhir jaman,” katanya.
        Seusai pawai Panjang Jimat, anak  – anak peserta khitan massal tabarukan , selanjutnya mengikuti acara khitanan massal di belakang komplek Masjid Agung Demak.
        Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Haul Agung dirangkai dengan sejumlah kegiatan mudarosah Alquran 30 juz, istighotsah, doa tahlil, Malidur Rasul dan manaqib, yang puncaknya  adalah pengajian akbar.
        Pengajian akbar yang menghadirkan KH R Syarif Rahmat, Habib Ali Zaenal Abidin Assegaf, serta Habib Lutfi Bin Yahya untuk memberikan doa juga mauiflah hasanah itu diagendakan pada 28 Februari 2018  atau 13 Jumadil Akhir 1439 H. (El)