Home Headline Patjarmerah Hadir di Kota Lama Semarang

Patjarmerah Hadir di Kota Lama Semarang

383
Patjarmerah Hadir di Kota Lama Semarang

Semarang, 29/11 (BeritaJateng.net) – Setelah sukses pada gelaran sebelumnya, dan berhasil mendatangkan kunjungan hingga lebih dari 40.000 orang, patjarmerah melanjutkan perjalanannya dari Jogjakarta ke Kota Malang, lalu melanjutkan berkolaborasi dengan Jakarta International Literary Festival, Agustus lalu. Menutup 2019, “patjarmerah – Festival Kecil Literasi dan Pasar Buku Keliling Nusantara” memutuskan singgah di kota Semarang.

Selama sepuluh hari, sejak 29 November hingga 8 Desember Agustus mendatang, festival ini akan digelar dan dipusatkan di kawasan Kota Lama Semarang. Soesman Kantoor dan Monod Diephois & Co akan menjadi pusat acara literasi keliling nusantara ini.

Soesman dan Monod adalah dua bangunan bersejarah di kawasan Kota Lama. Soesmans Kantoor adalah bangunan lama yang dahulu pernah menjadi pusat aktivitas perusahaan ekspor-impor kuda dan penyedia jasa pekerja pertambangan dan perkebunan karet. Sementara Monod Diephuis & Co, adalah sebuah kantor milik Oei Tiong Ham ‘Raja Gula Asia’, pengusaha pertama yang mendirikan perusahaan multinasional di Asia Tenggara.

Diselengggarakan selama sepuluh hari, patjarmerah akan menghadirkan narasumber-narasumber yang selama ini banyak bergelut di dunia literasi, mulai dari literasi anak, penulis dan kreatif konten baik daring maupun luring, fotografer, penulis resep, novelis, penyair, sineas, hingga pemain teater dan musik. Acara selalu dimulai sejak pagi pukul 10.00 WIB dan tutup pada 21.00 malamnya.

Semarang Sebagai Kota Penting Literasi dan Pembelajar

Semarang memiliki posisi strategis untuk menggulirkan gerakan literasi. Jika menilik ulang sejarah, kota ini adalah pusat rintisan dan pertumbuhan gerakan kaum intelektual sejak era kolonial. Profil Kota Semarang yang dekat dengan pelajar, mahasiswa, serta kalangan akademis menjadi salah satu kekuatan utama Semarang sebagai bagian penting kebangkitan kaum terpelajar.

Singgah di Semarang membuat kami teringat kepada pertumbuhan gerakan kaum intelektual sejak zaman kolonial dan semangat belajar yang mewarnainya.

“Sejarah bagaimanapun harus dinarasikan kembali lewat kerja-kerja literasi agar kita tumbuh menjadi generasi yang terbuka dan mau belajar dari setiap zaman,” ucap Windy Ariestanty, salah satu inisiator patjarmerah.

Sejarah perubahan adalah sejarah anak muda dan kaum terpelajar. Para pendiri bangsa Indonesia mulai membayangkan bangsanya sejak usia belia. Dengan mendirikan klub-klub baca dan diskusi, mereka memantik semangat untuk keluar dari belenggu kebodohan dan terutama belenggu penjajahan.

Beberapa klub kaum terpelajar kemudian bermetamorfosa menjadi gerakan pemuda yang menginisiasi perjuangan kemerdekaan. Sarekat Islam, Boedi Oetomo, Perhimpunan Indonesia, adalah sebagian kecil dari sekian banyak perkumpulan kaum terpelajar yang memperjuangkan kepentingan banyak orang.

Patjarmerah sebagai sebuah upaya pemerataan akses literasi bagi semua kalangan ingin mengajak semua orang untuk kembali mengingat urgensi belajar sebagai awal mula segala tindakan. Ilmu dan wacana adalah bekal paling berharga bagi setiap orang untuk menjadi manusia seutuhnya.

Banyak permintaan dari patjarboekoe–sebutan bagi para pengunjung festival patjarmerah–adalah salah satu alasan terbesar patjarmerah memutuskan Semarang sebagai persinggahan berikutnya. Selain itu, eksotisme dan cerita-cerita masa lalunya yang melegenda di Kota Tua juga adalah magnet yang menarik minat untuk terus menggali kekayaan sejarah, menjadikannya bekal memahami masa kini dan menghadapi masa depan.

Mengambil tema ‘Sang Pembelajar – Kami yang Menolak Lupa”, kota ini memang semestinya menjadi tempat terbaik untuk menghidupkan kembali semangat itu. Semarang tak bisa dipisahkan dari sejarah kemunculan para pembelajar. “Pada masa-masa perjuangan kemerdekaan, Semarang adalah salah satu kota yang membidani lahirnya banyak organisai kepemudaan, study-study club, kelompok ini menginspirasi kota lain untuk melakukan hal serupa”, tutur Irwan Bajang ketika ditanya mengenai alasan kenapa Semarang menjadi pilihan patjarmerah kali ini.

Berliterasi Keliling Nusantara Bersama Jutaan Stok Buku

Berkeliling Nusantara. Itulah harapan besar yang ingin dicapai oleh patjarmerah. Akses literasi yang tidak merata membuat banyak hal timpang di negara ini. Maka komitmen untuk membawa bahan bacaan dengan harga yang kompetitif bisa jadi salah satu cara yang mesti ditempuh. Seperti kota-kota sebelumnya, patjarmerah akan membawa banyak sekali buku. Lebih dari 100 penerbit, baik penerbit skala besar, skala kecil dan rumahan, penerbit indie dan kolekdol buku lawasan akan ikut hadir mengisi pasar buku yang digelar. Jumlah buku lebih dari satu juta, dengan diskon yang besar, bahkan hingga 80%. “Kami percaya, bahwa jumlah buku yang banyak dan harga yang murah adalah salah satu cara membangun literasi di segenap penjuru nusantara,” ujar Bayu, salah satu panitia persiapan pasar buku di patjarmerah.

Di setiap kota, patjarmerah berkolaburasi dengan para pegiat dan komunitas literasi. Merekalah yang menjadi rekan kerja dalam mempersiapkan dan menjalankan program yang disusun bersama.

“Literasi mencakup banyak bidang, segala hal yang menyangkut teks dalam wujud apapun, segala bentuk komunikasi yang menuntut pemahaman mendalam itu juga termasuk dalam dunia literasi,” ucap Khotibul Umam.

Umam adalah salah satu koordinator lokal yang bekerjasama dengan patjarmerah ketika Semarang diputuskan sebagai destinasi akhir tahun festival yang kerap disebut orang sebagai “sirkus keliling literasi” ini. Luasnya definisi literasi ini, menjadikan patjarmerah mengundang banyak sekali pemateri untuk meramaikan acara. Tercatat, lebih dari 70 narasumber akan hadir dan mengisi obrolan, lokakarya, panggung dan kegiatan lainnya di patjarmerah.

Tidak hanya penulis dan penggiat literasi di Indonesia yang akan datang, patjarmerah menggandeng narasumber lintas media dan lintas wacana. Para penulis, sineas, pemengaruh, konten kreator, pemusik, jurnalis, blogger, komikus, dan komunitas juga akan turut berpartisipasi memeriahkan festival yang mengidentikkan dirinya dengan sirkus keliling ini. Bahkan, kali ini patjarmerah bekerjasama dengan Papermoon Puppet akan menggelar pentas dan memberikan lokakarya untuk anak-anak dan penduduk setempat.

“Pemilihan narasumber yang banyak ini, sekaligus pemilihan isu dan tema acara yang beragam adalah komitmen dan keseriusan patjarmerah untuk menghidupkan literasi dalam berbagai aspek,” ungkap Windy Ariestanty menambahkan.

Dalam rentang sepuluh hari penyelenggaraan, puluhan lokakarya dan obrolan akan diselenggarakan oleh patjarmerah. Hampir semua lokakarya dan obrolan yang diadakan oleh patjarmerah bersifat gratis. Beberapa lokakarya yang bertiket pun, pada ujungnya tetap saja gratis, sebab semua pembayaran yang dilakukan peserta akan dikembalikan dalam bentuk buku yang ditulis oleh para pengampu lokakarya.

Puluhan Narasumber di patjarmerah

Akan banyak sekali narasumber yang dihadirkan. Ivan Lanin, Alexander Tian, Reda Gudiamo, Ria Papermoon, Marrysa Tunjung Sari, Saut Situmorang, Kalis Mardiasih, Iqbal Ajidaryono, Yusi Avinto Pareanom, AS. Laksana, Triyanto Triwikromo, Boy Candra, Dandhy Laksono, Sahid Muhammad, Ibu Etu, Lulu Lutfi Labibi, adalah sebagian dari masih banyak sekali nama yang akan tampil di patjarmerah kali ini. Dengan ragam tema yang terbingkai dalam “Sang Pembelajar”, patjarmerah ingin menjadikan agenda kali ini sebagai agenda untuk terus belajar, mengembangkan potensi diri dan daerah, serta melihat masa lalu sebagai bahan refleksi

Selain narasumber, patjarmerah juga mengajak banyak komunitas, penerbit, kelompok kreatif untuk turut ambil serta. Facebook dan Instagram, Olimpus, Tirto.id, Mojok Institute, Papermoon Puppet, Wayang Tenda, juga beberapa toko buku alternatif seperti Post Santa, Toko Budi, Akal Buku serta komunitas buku lawasan Jogja, Jakarta, Jawa Tengah juga akan menjadi daya tarik sendiri, menambah kemeriahan dan keceriaan patjarmerah selama di Semarang nanti.

Setiap harinya, festival patjarmerah akan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dan berakhir pada 21.00 WIB. “Biasa sih kita selesai pukul sembilan malam, tapi kadang banyak patjarboekoe yang belum mau pulang dan memaksa kami buka hingga larut”, lanjut Windy menerangkan antusiasme pengunjung seperti yang terjadi sebelumnya di Jogjakarta, Malang dan Jakarta. (El)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here