Home Headline Patgulipat Pergeseran Jabatan di Kota Semarang

Patgulipat Pergeseran Jabatan di Kota Semarang

Suasana pelantikkan 208 ASN di Gedung Moch Iksan, Jum'at (9/1). dok. beritajateng.net
Suasana pelantikkan 208 ASN di Gedung Moch Iksan, Jum'at (9/1). dok. beritajateng.net
Suasana pelantikkan 208 ASN di Gedung Moch Iksan, Jum’at (9/1). dok. beritajateng.net

Semarang, 10/1 (BeritaJateng.net) – Jum’at (9/1), di Gedung Moch Ikhsan Balai Kota Semarang sebanyak 208 Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Semarang dilantik oleh Sekda Pemkot Semarang, Adi Trihananto.

Ada yang menarik dari pelantikkan tersebut, beberapa posisi terkesan “Patgulipat atau Sim Salabim”.

Jabatan maupun pejabatnya digeser tekesan karena ada pesanan atau dorongan dari pihak-pihak tertentu supaya jabatan tertentu diisi oleh pejabat tertentu.

Jabatan Kabag Humas misalnya, Kabag Humas, bertahun-tahun dipegang oleh Achyani, sampai bergantian 3 sampai 4 walikota, dan baru beberapa bulan diganti oleh Pamudjiono. Achyani sendiri digeser untuk memegang jabatan sebagai Kabag Umum dan Protokoler.

Dan ternyata baru beberapa bulan menjabat, Achyani dikembalikan lagi posisinya sebagai Kabag Humas berganti posisi dengan Pamudjiono sebagai Kabag Umum dan Protokoler.

Pergeseran dua jabatan yang terkesan aneh ini, timbul pertanyaan ada apa ini ? ada permainan apa ? adakah campur tangan pihak ketiga baik itu dari kalangan keluarganya atau pihak luar yang mempunyai bergaining atau posisi tawar dengan Achyani yang mampu mempengaruhi pihak yang berwenang untuk merubah posisi jabatan ? atau ada kaitannya dengan Pilkada ?

Ada beberapa indikasi dari beberapa sumber yang berhasil dihimpun. Pertama ada campur tangan dari pihak keluarga. Setelah dilantik untuk jabatan baru, pihak keluarga mendatangi orang yang berpengaruh merubah jabatan supaya jabatannya dikembalikan seperti semula.

“Setelah dilantik beberapa hari, ada yang datang ke orang yang berpengaruh, nangis-nagis minta dikembalikan jabatannya seperti semula,” ujar seorang PNS Pemkot Semarang yang enggan disebutkan namanya.

Indikasi kedua pergeseran jabatan dan pejabatnya itu karena dipengaruhi oleh pihak luar yang memiliki pengaruh kuat, sehingga kelak menjabat lagi dengan posisi yang sama, orang tersebut bisa memainkan beberapa program untuk kepentingannya sendiri yang selama menjabat itu ia mendapatkan posisi tawar untuk mengatur segalanya.

“Pengaruh yang paling kuat adalah orang luar yang memiliki kepentingan pribadi. Karena selama ini mendapatkan beberapa proyek dan tidak mendapatkan apa-apa ketika pejabat itu diganti,” ujarnya.

Indikasi ketiga yang mungkin mendekati kebenaran adalah karena kinerja selama ini. Achyani cukup dikenal ramah, terbuka dan kooperatif. Beliau juga sangat dekat dengan kalangan media dan wartawan khususnya yang mempunyai beat di Pemkot Semarang.

“Pak Achyani kan dekat banget sama wartawan-wartawan, mungkin itu juga alasan kenapa Pak Achyani dikembalikan lagi menjadi Kabag Humas,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Joko Santoso, SE saat dikonfirmasi mengatakan, mutasi atau pergeseran jabatan itu sesuatu yang wajar karena sehatnya organisasi dari mutasi tersebut.

“Pergeseran atau mutasi itu sesuatu yang wajar, karena sehatnya organisasi itu adalah mutasi tersebut, artinya dari hasil evaluasi misalnya, yang tidak profesional diganti yang profesional, yang tidak pas dengan kompetensinya diganti dengan yang sesuai dengan bidangnya,” ujarnya, Sabtu.

Namun demikian lanjut politisi Gerindra ini mengatakan, pergeseran jabatan itu harus sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku, kalau menempatkan orang tidak sesuai dengan kompetensinya, atau belum masuk golongan kepangkatannya tapi dipaksakan itu sebuah pelanggaran.

“Asal sesuai dengan aturan yang berlaku, pergeseran atau mutasi itu sesuatu yang wajar,” tambahnya.

Disinggung mengenai ada indikasi ke arah pilkada 2015, Joko mengatakan sesuatu yang wajar juga ketika mendekati pemilihan wali kota atau bupati, wali kota atau bupati secara tidak langsung menguatkan segala lininya salah satunya dengan menempatkan orang-orangnya untuk memegang tampuk di divisinya.

“Indikasi itu akan benar jika mutasi atau pergeseran itu dilakukan secara tidak sesuai prosedur, misalnya belum cukup golongannya tapi dipaksakan, atau tidak sesuai dengan kompetensinya tapi dipaksakan, atau lagi yang tadinya dinaikkan kemudian diturunkan. Kalau indikasi itu dilakukan, berarti mutasi tersebut ada kaitannya dengan politik, ini yang harus kita kaji,” tambahnya lagi.

Saat disinggung mengenai jabatan Kabag Humas dan Kabag Umum yang pergeserannya banyak yang menilai seperti ada kepentingan, Joko menyatakan semua orang boleh berasumsi, Joko mengambil sisi positifnya, bisa jadi dari hasil evaluasi, Achyani yang sebelumnya menjabat Kabag Humas dan beberapa bulan menjabat sebagai Kabag Umum dan Protokoler tapi dikembalikan lagi sebagai Kabag Humas, kemungkinan Achyani memang pantas untuk tetap duduk di Kehumasan.

“Semua orang boleh berasumsi, sisi positifinya mungkin Pak Achyani lebih cocok untuk di Humas daripada di Umum dan Protokoler, tapi kita akan mengkajinya, apakah mutasi itu sesuai dengan aturan atau ada yang dilanggar karena untuk mengakomodir kepentingan,” pungkasnya. (BJ)

Berita Sebelumnya :

http://beritajateng.net/berita-semarang/sebanyak-208-pejabat-di-semarang-dilantik/8758