Home Headline Pasokan Air Baku PDAM Semarang Kurang Meski Intensitas Hujan Tinggi

Pasokan Air Baku PDAM Semarang Kurang Meski Intensitas Hujan Tinggi

500
Presskon PDAM Tirta Moedal Semarang

Semarang, 4/2 (BeritaJateng.net) – Sistem bergilir dan pengiriman air bersih menggunakan tangki masih terus dilakukan PDAM Tirta Moedal Semarang. Meski saat ini sudah masuk musim penghujan, kondisi air baku di Kota Semarang masih belum normal.

Direktur Umum PDAM Tirta Moedal Semarang, Farhan Hilmi mengatakan, datangnya musim penghujan ini distribusi air kepada pelanggan PDAM Tirta Modal sudah mulai membaik. Namun, masih belum dikatakan normal, mengingat intensitas hujan di Kota Semarang dan sekitarnya masih belum tergolong tinggi.

“Kalaupun hujan hari ini, tidak otomatis memperbaiki debit. Itu karena dari air hujan masuk ke tanah masih memerlukan proses,” ujar Farhan.

Menurut dia, air hujan memerlukan waktu sekira tiga bulan untuk dapat mengembalikan kondisi debit air yang normal jika intensitas hujan tinggi.

Ia menilai, musim hujan sekarang ini belum begitu tinggi. Sehingga, belum dapat mendongkrak perbaikan debit air.

Saat ini, debit air bawah tanah dari Ungaran, Kabupaten Semarang baru mencapai 260 liter per detik. Adapun normalnya, pada angka 350 liter per detik.

Sementara, debit air dari Gunungpati Semarang jika mengalir normal 130 liter per detik. Namun, saat ini debit air bawah tanah dari Gunungpati baru 90 liter per detik.

PDAM Tirta Moedal masih mengandalkan air permukaan sebagai sumber air baku yang dikelola beberapa instalasi pengolahan air (IPA) seperti IPA Kaligarang dan Kudu.

“Itu kendala yang kami hadapi, tapi kami upayakan semaksimal mungkin dalam melayani pelanggan,” katanya.

Sistem bergilir, lanjut Farhan, masih terus dilakukan agar pelayanan distribusi air tetap merata.

Sedangkan, di beberapa wilayah yang terkendala sistem giliran, pihaknya melakukan upaya pengiriman air melalui tanki.

“Bila November dan Desember 2019 paling banyak permintaan air tangki karena debit yang menurun drastis hingga sekarang belum normal,” ujarnya.

Data PDAM Tirta Moedal Semarang, permintaan air tangki selama debit air menurun sebanyak 1.673 tangki.

Riciannya, 377 tangki untuk pelanggan di wilayah tengah, 214 tangki di wilayah barat, dan 62 tangki di wilayah utara. Adapun permintaan tertinggi dari pelanggan di wilayah Selatan mencapai 1.020 tanki.

Sebelumnya, Sekretaris Komisi B DPRD Kota Semarang, Herlambang Prabowo mengatakan, sebagai perusahaan daerah, PDAM dituntut memenuhi dua hal, yaitu pelayanan kepada masyarakat dan target deviden.

Menurutnya, pelayanan harus diprioritaskan. Jika pelayanan maksimal dan dapat memuaskan pelanggan, dia yakin PDAM akan mendapatkan kepercayaan pelanggan yang nantinya deviden akan mengikuti.

“Kalau pelayanan baik, masyarakat juga akan bayar tepat waktu, tapi kalau pelayanan tidak baik, air sering mati. Deviden juga tidak akan maksimal karena pelanggan tidak percaya dengan kinerja PDAM,” ujarnya.

Dia meminta manajemen PDAM Tirta Moedal untuk terus meningkatkan pelayanan. Seperti menambah jaringan agar dapat memfasilitasi kebutuhan seluruh warga Kota Semarang dan menambah sumber air agar kebutuhan masyarakat tercukupi.

“Perlu ada inovasi soal sumber air tambahan. Selama ini jaringan juga belum merata. Ini jadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan PDAM agar seluruh warga Kota Semarang bisa memanfaatkan fasilitas air bersih yang dikelola pemerintah tersebut,” tandasnya.

Apalagi, pada tahun ini Pemkot Semarang menggelontorkan penyertaan modal untuk PDAM.

Diharapkan, modal tersebut bisa digunakan sebaik mungkin untuk peningkatan pelayanan. “Penyertaan modal sekira Rp 35 miliar, maka pelayanan harus ditingkarkan,” imbuhnya. (El)