Home News Update Paslon “Hebat” Kawal Program Jamkesmaskot

Paslon “Hebat” Kawal Program Jamkesmaskot

565
Ita menyapa warga Sawah Besar Semarang yang berbondong-bondong mengikuti pengobatan gratis.
Ita menyapa warga Sawah Besar Semarang yang berbondong-bondong mengikuti pengobatan gratis.
Ita menyapa warga Sawah Besar Semarang yang berbondong-bondong mengikuti pengobatan gratis. Perhatiannya lalu tertuju pada perempuan lansia (80) yang melakukan cek kesehatan, Ita tak sungkan turun langsung menyerap aspirasi masyarakat untuk menjadikan Semarang Hebat.

Semarang, 9/9 (BeritaJateng.net) – Calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu berupaya memberi perhatian serius terhadap jamkesmaskot terutama untuk besaran anggarannya jika dipercaya masyarakat untuk memimpin Semarang lima tahun ke depan.

Hal ini diutarakan Ita–sapaan akrab Hevearita usai mengunjungi pengobatan gratis yang diadakan oleh Lazismu (Lembaga Zakat Infaq dan Sodakah Muhammadiyah) Kota Semarang di rumah salah seorang warga Batursari RT 01 RW 09, Kelurahan Sawah Besar, Gayamsari, Semarang.

Kegiatan pengobatan gratis dihadiri warga setempat yang sebagian besar ibu rumah tangga dan kaum Manula. Kehadiran Ita yang khas dengan pakaian putih dengan kerudung merahnya disambut penuh hangat oleh warga setempat.

Wanita yang diusung partai PDI Perjuangan, partai Nasional Demokrasi (Nasdem) dan partai Demokrat serta didukung partai Hanura dan kubu partai PPP ini mengaku prihatin dengan banyaknya keluhan masyarakat terhadap program Jamkesmaskot yang belum dirasakan masyarakat kota Semarang.

“Waktu sosialisasi banyak juga masyarakat Semarang yang mengeluhkan pelayanan dan prosedur Jamkesmaskot, mereka (masyarakat,Red.) menilai Jamkesmaskot belum tepat sasaran,” ujar Ita, wakil wali kota Semarang nomor urut dua ini.

Sebenarnya, lanjut Ita, anggaran Jamkesmaskot (Jaminan Kesehatan Masyarakat Kota) Semarang pada era kepemimpinan Walikota Hendrar Prihadi selalu dinaikkan dari tahun ke tahun.

Ini berbeda dengan era walikota sebelumnya yang cenderung menurunkan anggaran Jamkesmaskot,  sehingga ada  warga masyarakat kurang mampu yang mengalami gagal ginjal melakukan protes karena tidak bisa cuci darah.

Ita juga turut serta merasakan pengobatan gratis dan cek kesehatan sembari melihat kondisi masyarakat secara langsung.
Ita juga turut serta merasakan pengobatan gratis dan cek kesehatan sembari melihat kondisi masyarakat secara langsung.

“Pada era kepempinan walikota sebelum Mas Hendi, anggaran cuci darah hanya dibatasi sepuluh kali. Akibatnya, pemerintah menuai proptes dari masyarakat kurang mampu yang menderita gagal ginjal lantaran tidak bisa cuci darah. Karena anggarannya diturunkan atau kuotanya hanya sepuluh orang,” papar Ita.

Menurutnya, pasangan “Hebat” memberi skala prioritas untuk program kesehatan bagi warga masyarakat kurang mampu, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh kepemimpinan Hendrar Prihadi lalu.

Seperti yang diketahui, pada APBD tahun 2010 anggaran Jamkesmaskot dialokasikan sebesar Rp 13 milyar. Kemudian pada tahun 2011 kembali diturunkan menjadi Rp 12,474 milyar. Pada tahun 2012, alokasi Jamkesmaskot turun lagi menjadi Rp 11 milyar. Kemudian pada tahun 2012, pada perubahan anggaran Walikota Semarang, Hendrar Prihadi dan DPRD sepakat mengalokasikan Jamkesmaskot Rp 22,5 milyar.

Ditemui di tempat terpisah, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi yang pada tahun 2012 menjabat sebagai Ketua Komisi D membidangan Kesejahteraan, Pendidikan, dan Kesehatan, menceritakan hal serupa.

Saat itu, pemerintah kota era kepemimpinan sebelum Hendi — sapaan Hendrar Prihadi,  tidak sanggup memenuhi anggaran untuk Jamkesmaskot. Bahkan,  DPRD  harus rela dipotong anggarannya hanya untuk memenuhi kebutuhan kesehatan tersebut.

“Waktu itu kami legawa anggaran kegiatan untuk dewan dipotong agar kebutuhan Jamkesmaskot bisa terpenuhi.  Baru tahun 2013 pada era Hendrar Prihadi, anggaran Jamkemaskot dinaikkan menjadi Rp 37,7 milyar dan bahkan pada tahun 2014 menjadi Rp 43,5 milyar,” tegas Supriyadi. (Bj05)

Advertisements