Home DPRD Kota Semarang Pasien Membludak Di Puskesmas Tlogosari Kulon, Dewan Usul Bangun Puskesmas Baru

Pasien Membludak Di Puskesmas Tlogosari Kulon, Dewan Usul Bangun Puskesmas Baru

870
Sidak Komisi D DPRD Kota Semarang Di Puskesmas Tlogosari Kulon

SEMARANG, 19/2 (BeritaJateng.net) – Antrian panjang pasien mengular di Puskesmas Tlogosari Kulon. Dalam sehari Puskesmas ini biasa melayani 200 hingga 300 pasien. Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Widoyono, Selasa (19/2/2019).

Sebanyak 200 hingga 300 pasien tersebut dilayani oleh 32 tenaga kesehatan, 22 perawat, dan 4 dokter.

Pantauan wartawan, Selasa (19/2/2019), banyak pasien yang berobat di Puskesmas Tlogosari Kulon. Pada pukul 11.30, antrean pun masih terlihat di sejumlah pos pelayanan.

Widoyono menuturkan, Puskesmas Tlogosari Kulon ini melayani beberapa wilayah di Pedurungan seperti Muktiharjo, Tlogosari, dan lainnya.

Adapun jumlah penduduk Kecamatan Pedurungan mencapai 190 ribu jiwa. Sebanyak 190 ribu jiwa itu dilayani oleh dua puskesmas yang ada di Pedurungan.

Sehingga, satu puskesmas bertanggungjawab melayani sekitar 90 ribu penduduk. Padahal, standarnya satu puskesmas melayani 30 penduduk.

“Jika kita mengikuti standar itu Kecamatan Pedurungan membutuhkan 6 hingga 7 puskesmas. Kota Semaramg penduduknya termasuk tinggi mencapai 1,7 juta jiwa. Kalau sebanyak itu perlu sekitar 60 puskesmas. Padahal kami punya 37 puskesmas. Itu kalau dari jumlah penduduk,” terang Widoyono.

Dikatakannya, standar tersebut sudah tidak digunakan lagi. Saat ini, pihaknya menggunakan tolak ukur jarak. Jika kurang dari 20 menit jarak dari rumah menuju puskesmas itu masuk dalam standar.

Meski Puskesmas Tlogosari Kulon melayani banyak pasien, rawat inap di puskesmas tersebut kerap kosong.

“Yang saya senang bed nya kerap kosong. Berati tidak ada pasien yang perlu dirawat. Tapi, tidak bisa disimpulkan begitu saja,” katanya.

Dia mengatakan, perlu adanya rapid survey atau survei cepat terkait sepinya rawat inap di Puskesmas Tlogosari Kulon. Dia telah memerintah Kepala Puskesmas untuk melakukan survei cepat guna mencari tahu alasan sepinya rawat inap.

“Kenapa rawat inap sepi. Apakah dokternya kurang, atau pelayanannya kurang bagus, apa karena tempatnya beda dengan rumah sakit. Ini harus dicari tahu,” tegasnya.

Diakuinya, rawat inap di puskesmas memang rata-rata hanya digunakan 50 persen di seluruh Kota Semarang. Oleh karena itu, hal ini perlu pengkajian terkait masyarakat yang tidak memilih untuk rawat inap di Puskesmas.

Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Laser Narindro mendorong Dinkes untuk memprioritaskan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Dia menganjurkan Dinkes untuk menambah tenaga kesehatan di puskesmas tersebut lantaran jumlah pasien yang tidak sedikit.
.
“Dokternya bisa ditambah agar bisa cepat menangani pasien. Harapan kami kedepannya penekanan angka penyakit tidak menular dan menular bisa diturunkan,” ujar Laser usai kunjungan ke Puskesmas Tlogosari Kulon, Selasa (19/2/2019).

Terkait dengan rawat inap Puskesmas yang sepi, dia juga mendorong Kepala Puskesmas untuk gencar melakukan pemyuluhan maupun sosialisasi kepada warga bahwa puskesmas juga melayani rawat inap seperti di rumah sakit.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Dyah Ratna Harimurti, mendorong Dinkes Kota Semaramg untuk membangun Puskesmas di Muktiharjo Kidul.

Hal ini mengingat banyaknya pasien yang harus dilayani Puskesmas Tlogosari Kulon. Sedangkan, mayoritas dari mereka merupakan warga Muktiharjo Kidul.

“Menurut saya sudah layak ada puskesmas di Muktiharjo Kidul. Kami juga sering menerima aspirasi masyarakat tentang permohonan fasilitas kesehatan di Muktiharjo Kidul,” kata Mbak Deti, sapaan akrabnya.

Lanjut Deti, saat ini memang ada Puskesmas keliling (Pusling) yang menuju Kelurahan Muktiharjo Kidul. Pusling tersebut mendatangi Muktiharjo Kidul satu bulan sekali. Tentunya ini sangat membantu warga. Meski demikian, pembangunan Puskesmas di Muktiharjo Kidul dinilai perlu.

“Kalau sesuai peraturan perjalanan ke puskesmas yang masih bisa ditempuh 15 menit, tidak memerlukan puskesmas. Itu kan kalau ditempuh dengan motor. Tapi, warga Muktiharjo Kidul menengah kebawah, tidak semua memiliki motor. Jadi, silakan jika ingin dikaji terkait hal ini,” terangnya. (El)